23 Jun 2013

Cerpen dari AA Navis : Robohnya Surau Kami


Mungkin ada yang sudah pernah baca, buat nambah-nambah bacaan aja. silahkan direnungkan.hehe
Sebuah cerpen karya AA Navis

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.  Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.
Sebagai penajaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

10 Jun 2013

Niat Saja Tidak Cukup


Suatu ketika terdapat dua lokasi berseberangan. Lokasi pertama dibangun DISKOTIK, lalu di seberang lainnya dibangun MASJID. Keduanya dibangun dalam waktu bersamaan. Tepat satu hari pembangunan selesai, dan belum sempat diresmikan. Terjadi bencana badai petir yang membuat salah satu bangunan runtuh. Jika Anda diminta membayangkan, bangunan apa yang runtuh saat itu? Mungkin kebanyakan Anda berharap bangunan DISKOTIK runtuh karena dibangun dengan niat tidak baik. Bukan suatu keanehan jika hal demikian terjadi. Tapi nyatanya bangunan MASJIDnya yang runtuh.

Pertanyannya, apa yang salah dengan bangunan masjid tersebut?

Apakah bangunan masjid tidak dibangun sesuai spesifikasi insinyur sipil? Ternyata bukan, semua bangunan masjid dibangun melalui hitung-hitungan matematika sipil yang akurat. Apakah ada korupsi dalam pembangunan proyek tersebut? Itupun bukan, semua catatan pemasukan dan pengeluaran tercatat rapi dan tidak ada satu rupiahpun dana diselewengkan. Apakah Allah murka dengan bangunan masjid? Secara logikapun tidak bisa diterima, jika Allah murka terhadap salah satu bangunan, seharusnya diskotik tersebut yang ditakdirkan hancur. Lalu kenapa masjid tersebut runtuh? Ternyata permasalahannya sederhana, salah seorang pekerja lupa memasang penangkal petir, dan pada saat bersamaan mandor pemeriksa berhalangan hadir, sedangkan pemimpin proyeknya lalai karena sibuk mengurus proyek lain.

Hikmahnya cari sendiri


29 Nov 2012

Spesiasi Kemahasiswaan Multikampus


ITB Multikampus sudah di depan mata. pihak rektorat, lembaga kemahasiswaan, konggres, kabinet, himpunan dan unit berusaha mencari bentuk keidealannya. Sistem birokrasi pasti berubah, kemahasiswaan juga harus berubah.

Di tengah usaha masing-masing pihak, yang menjadi concern utama mahasiswa tetaplah kemahasiswaan. Berbicara hal yang berhubungan dengan mahasiswa ini memang selalu unik dan tak jarang menguras emosi. Lihat saja alinea pertama Konsepsi KM ITB, di sana tergambar betapa kerasnya usaha para mahasiswa membangun kemahasiswaan terpusat. Maka jangan heran jika pertanyaan sederhana seperti, sistem apa yang akan diberlakukan dalam kemahasiswaan multikampus, bagaimana  menjalankannya, dan kapan mulai dijalankan menjadi begitu rumit dan menguras pikiran. Tapi inilah kemahasiswaan.

Menyoal multikampus, HIMASITH Nymphaea sebagai himpunan pertama yang menjajal kemahasiswaan multikampus sadar betul bahwa menjalani kemahasiswaan multikampus di awal pembentukannya sangatlah berat. Dua analisis substansial yang menjadi tantangan yaitu adanya Isolasi Geografis-Ekologis dan Isolasi Behaviour-Cultural. Kedua hal tersebut dipastikan menimbulkan terjadinya spesiasi kemahasiswaan yang menurut teori spesiasi dapat memicu munculnya spesies baru kemahasiswaan.

Spesiasi adalah proses suatu spesies berdivergen menjadi dua atau lebih. Spesiasi kemahasiswaan berarti berdivergen-nya spesies kemahasiswan yang mana timbul survive behaviour dan budaya baru sehingga terbentuk spesies baru kemahasiswaan. Spesies kemahasiswaan di sini berarti organisme (kumpulan sistem organ) yang identik dengan organisasi kemahasiswaan. Jika spesiasi terjadi akibat isolasi geografis-ekologis, maka spesiasi kemahasiswaan terjadi akibat multikampus.

Parameter spesiasi dapat dilihat dari genotipe dan fenotipenya. Bisa saja genotipenya sangat mirip namun fenotipenya jauh berbeda, atau sebaliknya fenotipe mirip namun genotipenya berbeda. Dalam hal kemahasiswaan, genotipe diibaratkan filosofi, sedangkan fenotipe diibaratkan sistem geraknya. Spesiasi kemahasiswaan seharusnya bisa di-setting seperti pola pertama, genotipe sama meski fenotipe berbeda. Kemahasiswaan multikampus ITB harus memiliki filosofi yang sama, meskipun sistem geraknya berbeda.

Kemahasiswaan multikampus nantinya harus tetap memegang teguh semangat kemahasiswaan yang mengacu pada rancangan umum kaderisasi KM ITB, yaitu membentuk karakter lulusan mahasiswa ITB dengan berbagai macam profil yang disesuaikan dengan tantangan jaman. Jika memang secara geografis (wilayah), ekologis (interaksi dan kebutuhan hidup), behaviour (tingkah laku) maupun culture harus berbeda. Ya berbedalah, toh memang kebutuhan dan tantangan dalam kondisi mikro berbeda. Tapi tetap harus diingat bahwa kedua spesies kemahasiswaan ini hidup dalam lingkungan makro sama yang bernama Indonesia.

Harapan!!
Pada akhirnya, spesiasi merupakan proses evolusi niscaya terjadi, begitupun evolusi kemahasiswaan. Dulu Dewan Mahasiswa, kini Keluarga Mahasiswa, selanjutnya? Berapapun nantinya ITB akan dibentuk disegala penjuru dunia, semangat berkemahasiswaan harus tetap terjaga. Pedoman kemahasiswaan tetap satu, yakni membentuk profil lulusan ITB. Sehingga nantinya tiada sebutan alumni ITB Jatinangor, tiada sebutan alumni ITB Ganesha, tiada sebutan alumni ITB Malaysia, semua sama, satu Almamater, Institut Teknologi Bandung.



3 Agt 2012

Manuk Dadali, Elang Jawa, Spizaetus bartelsi, atau Garuda?

Kaum padjajaran menyebutnya manuk dadali, Sultan Hamid II menamainya burung garuda, lalu disempurnakan oleh Soekarno menjadi garuda pancasila. Nama populernya elang jawa, namun sebagai mahasiswa biologi saya lebih memilih kata “Spizaetus bartelsi”.
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkerammu (Iwan Fals, Bangun Putra Putri Ibu Pertiwi)
….
Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna
….. (Manuk Dadali – Lagu Daerah Sunda)

Sembari mendendangkan lagu tersebut saya memulai tulisan ini. Tulisan yang berharap bisa menjawab pertanyaan dan memuculkan pertanyaan baru. Berawal dari pertanyaan iseng,
Apa sejatinya burung garuda yang katanya lambang negara itu?
Sebutan lain Garuda ialah Elang Jawa (latin: Spizaetus bartelsi). Orang sunda biasa menyebutnya dengan Manuk Dadali.

Siapa yang pernah melihat burung garuda atau Spizaetus bartelsi ini?
Tentu tak ada kesulitan berarti bagi Anda untuk mengetahui bagaimana bentuk bahkan perilaku burung garuda. Anda hanya membutuhkan latop dengan koneksi internetnya, lalu ketikkan keyword “elang jawa” di searchengine. Dalam hitungan detik akan muncul puluhan gambar burung garuda dalam berbagai posisi. Atau jika ingin lebih imajinatif lagi, Anda tinggal mengetikkan keyword tersebut di youtube.com. Maka cara bertengger, terbang, atau berburu makanpun dengan mudah ditemui. Kalau begitu, saya ganti pertanyaannya.

Siapa yang pernah melihatnya secara langsung di alam?
Pertanyaan ini tentu mengernyitkan dahi banyak pembaca, mungkin termasuk Anda. Tidak banyak orang yang beruntung bisa menemui sang Garuda Perkasa ini di alam. Dan saya adalah satu dari jutaan orang Indonesia yang beruntung bisa melihat Spizaetus bartelsi di alam secara langsung. Tak perlu heran, kejadiannya sekitar dua bulan lalu, saat sedang berjalan-jalan menikmati suasana Kebun Raya Cibodas bersama seorang kawan.

Kenapa saya katakan beruntung?
Ini dia kutipan informasi yang saya dapatkan,
“Di Jawa sendiri keberadaan elang Jawa terancam kepunahan, di habitatnya di Kaliurang, Sleman, saat ini tinggal 10 ekor. Sedang secara keseluruhan populasi elang Jawa yang merupakan binatang langka dan dilindungi ini, tidak lebih dari 100 ekor. Jumlah itu diperkirakan akan terus menyusut mengingat banyak pemburu liar dan sulitnya menangkarkan jenis burung ini”.
Jelas kebanggan muncul, karena dari 100 ekor Garuda yang masih tersisa di dunia, saya orang yang beruntung bisa menemuinya di alam. Bukan di video, bukan di kebun binatang, bukan pula di pasar burung.

Lalu kenapa saya harus bangga?
Seorang sahabat mengingatkan, “kenapa harus bangga? Bukankah artinya sebentar lagi si Gagah Garuda habis digerogoti waktu?”. Benar memang, seandainya Spizaetus bartelsi punah, maka anak cucu kita hanya benar-benar bisa melihatnya di media gambar atau video saja. Karakternya hanya akan dikenang dalam sebuah simbol yang katanya dibanggakan setiap warna negara Indonesia. Simbol itu bernama Garuda Pancasila.

Benarkah masih ada kebanggan pada sang Garuda Pancasila?
Jika Anda tak mau memikirkan Spizaetus bartelsi, saya tak akan memaksa. Jika Anda tak peduli dengan berita kepunahan Spizaetus bartelsi, sayapun tak bisa men-judge Anda berdosa. Tidak salah jika pikiran Anda mengatakan,
“Kan saya bukan mahasiswa biologi? Kan passion saya bukan bidang konservasi? Toh saya tidak memburu sang Garuda atau merusak lingkungannya?”
Sekali lagi, tidak ada yang salah. Benar jika sudah ada kumpulan orang yang memikirkan konservasi Spizaetus bartelsi. Benar jika konservasi hanya wajib kifayah saja. Tapi jangan lupa, ada kesamaan saat kita membahas Spizaetus bartelsi. Ada nilai sakral yang mungkin terlupa saat kita menyinggung Spizaetus bartelsi. Kesamaan itu adalah sang Garuda lambang negara dan nilai sakral itu adalah Pancasila.

Saya pernah sengaja mengetes seorang kawan saya dengan bertanya, “Sila ke-empat Pancasila bunyinya apa ya?” Iapun tak sanggup menjawabnya, lebih tepatnya lupa. Ia mengaku lupa karena sudah lama tak ber-upacara bendera. Kalau redaksinya saja lupa, bagaimana pemaknaannya? Semoga Anda tidak seperti kawan saya yang satu ini.

Saya hanya khawatir nasib Garuda Pancasila di dunia qalbu sama seperti nasib Spizaetus bartelsi di dunia nyata. Saya takut Garuda hanya menjadi kebanggan di bibir saja, saya takut Pancasila hanya dijadikan formalitas asas organisasi saja. Punah dari hati setiap manusia Indonesia, hilang filosofinya dan lesu dalam prestasi membangun bangsa.

ber-Garuda Pancasila?
Saya tak akan mengajari Anda apa filosofi atau makna Garuda Pancasila. Anda dengan mudah dapat mengaksesnya di Internet. Saya ingin mengajak Anda merenung, sudahkah kebanggan kita pada Garuda diimbangi dengan mimpi besar untuk Indonesia? Sudahkah kita berusaha menerapkan nilai Pancasila dan kehidupan berkewarganegaraan kita? Apapun nama atau sebutannya, manuk dadali, elang jawa, Spizaetus bartelsi atau burung garuda. Ini tetap jadi renungan kita bersama. Maukah kita ber-Garuda Pancasila? Atau nasibnya akan sama Spizaetus bartelsi di alam. Harus punah dulu, baru orang mau memikirkannya.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi , Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut, Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan, Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan, Yang hanya berisikan khayalan.

(Lanjutan lagu berjudul Bangunlah Putra Putri IbuPertiwi karya Iwan Fals)

Bandung, 3 Agustus 2012

8 Jul 2012

Menyoal RUU PT, ini Sikap Satu KM ITB!

Ini Kronologisnya
Saya senang malam ini ditemani kembali teman-teman BPH yang mulai kembali ke Bandung. Selepas membersihkan himpunan, tiba-tiba dengan sendirinya entah siapa yang mengawali, kami mulai berbincang santai tentang RUU PT (Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi). Hasil obrolan ini tentunya menyempurnakan tulisan saya berikut ini.

Saya awali tulisan ini dari kronologis mengapa RUU PT menjadi begitu semarak diperbincangkan. Kira-kira begini ceritanya,
Sebelumnya pemerintah mengundangkan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) pada tahun 2009 dengan alih-alih reformasi pendidikan. Namun RUUnya saja sudah kontroversial karena ditengarai mengandung unsur-unsur liberalisme. Reformasi tersebut justru menjurus pada alih-alih lepasnya tanggung jawab pemerintah khususnya pada pendidikan tinggi. Pemerintah memberikan keleluasaan (otonomi) seluas-luasnya kepada perguruan tinggi. Keleluasaan yang dimaksud yakni otonomi keuangan. Artinya masyarakat ikut menanggung beban pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Atau dengan kata lain, kita sedang digiring dalam nuansa “swastaisasi perguruan tinggi negeri”. Konsekuensi logisnya tentu biaya pendidikan semakin mahal karena PT BH dibolehkan mengambil dana “semaunya” dari masyarakat. Hal inilah yang dinilai seolah-olah pemerintah lepas tangan terhadap amanat UUD NKRI 1945.

Salah satu pasal perlu dikritisi dari UU BHP yakni pasal 41 ayat 10 yang berbunyi ”Dana pendidikan dari pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenanganya pada badan hukum pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.

Dalam tafsiran pasal tersebut, pemerintah jelas tidak dibebani biaya apapun untuk perguruan tingggi. Pemerintah hanya memberikan hibah yang porsi (nilai)nyapun tidak disebutkan dengan tegas. Hanya disebutkan “sesuai peraturan perundang-undangan”. Ini menjadi bukti yang menguatkan dugaan pemerintah yang ingin lepas tangan terhadap pendidikan di Indonesia.

Kontroversi tersebut tuntas setelah sejumlah usulan untuk dilakukan uji undang-undang dipenuhi Mahkamah Konstitusi. MK yang bertugas menguji ketersesuaian antara UU BPH dengan UUD NKRI 1945 memutuskan UU BPH tidak lagi memiliki kekuatan hukum pada tahun 2010. Sebagai ganti sementara, presiden mengeluarkan PP No.66 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang mengubah statuta PTN menjadi PTN Badan Layanan Umum. Status PT BLU sudah cukup memberikan kebebasan perguruan tinggi untuk mengelola kekayaannya sendiri.

PP No.66 ini dinilai cukup pro dengan masyarakat miskin yang ingin mengenyam pendidikan. Salah satunya adalah peraturan yang menyatakan “Aturan Wajib Penerimaan Calon Mahasiswa Miskin Latar Belakang Ekonomi Lemah 20 persen (%) dari Total Penerimaan Mahasiswa Baru”. Inilah yang melahirkan beasiswa Bidik Misi dari kementerian pendidikan yang sering kita dengar.

Selama peraturan pemerintah ini memiliki kekuatan hukum, statuta PT mengacu pada PP tersebut. Namun agaknya beberapa majelis guru besar perguruan tinggi (salah satunya ITB) mendesak pemerintah membuat payung hukum yang lebih kuat dari PP yakni UU. Ditengah-tengah kebimbangan akan payung hukum tersebut, tahun 2012 ini pemerintah melalui kementerian pendidikan merancang RUU PT yang kembali kontroversial. Sudah dikeluarkan beberapa draft terkait RUU ini, draft terbaru dari pemerintah keluarkan tanggal 26 Juni 2012 lalu.

Lalu bagaimana sikap kita??

Ini sikap Kita, Satu KM ITB
Dari beberapa kontroversi yang muncul, setidaknya ada dua isu besar yang menjadi fokus utama yang membuat kita sebagai manusia terdidik harus mengambil sikap yakni otonomisasi dan Internasionalisasi. Berikut saya sampaikan hasil kajian dari  Kabinet KM ITB beserta para pimpinan lembaga siang tadi.

Otonomisasi Keuangan
 Ini berkaitan dengan RUU PT Pasal 33 mengenai otonomi, dimana disebutkan bahwa status PTN akan menjadi PTN Badan Hukum yang diarahkan untuk mengelola keuangannya sendiri dan membuat/mencari dana usaha sendiri. Hal ini ditengarai sebagai tindakan awal pemerintah mengurangi beban terhadap pendidikan dan melepas tanggungjawabnya. Hal tersebut dikuatkan dengan pasal 45-50 Bab pembiayaan dan pengalokasian. Porsi pemerintah dalam pembiayaan tidak diatur secara gamblang. Jelas kasus ini sama kontroversialnya dengan Pasal 41 ayat 10 UU BHP yang telah dipaparkan sebelumnya.
Salah satu implikasi dari pasal-pasal tersebut jika rancangan jadi diundangkan yaitu perguruan tinggi menjadi seperti "perusahaan" yang harus mencari dana sebanyak-banyaknya bagi kelangsungan hidupnya. Jangan heran kalau sebentar lagi akan kita saksikan mall-mall megah berdiri di dalam kampus.

Internasionalisasi
Poin kedua menarik menurut saya. Sebelumnya saya tidak sepakat dengan isu “internasionalisasi” diangkat untuk ditolak. Karena saya pikir ini adalah niat baik pemerintah untuk membuat setidaknya beberapa PTN memiliki kualitas dan daya saing dengan perguruan tinggi maju di negara lain. Dengan internasionalisasi diharapkan terjadi pertukaran ilmu dan teknologi yang mampu meningkatkan kapabilitas dan kualitas manusia Indonesia.

Namun pandangan saya berubah oleh fakta penandatanganan perjanjian GATS (General Agreement On Trade In Services) tahun 2005 semenjak Indonesia bergabung dengan WTO. Perjanjian memang selayaknya memberikan keuntungan antar pihak-pihak yang terlibat. Seperti salah satunya, akses Indonesia dengan negara lain semakin terbuka lebar. Namun salah satu yang menjadi sorotan adalah disebutkannya 12 sektor jasa yang harus lepas dari peran pemerintah dan salah satunya adalah sektor pendidikan. Ini jelas-jelas upaya liberalisasi dan komersialisasi pendidikan dari negara-negara kapitalis yang acuannya untuk uang dan keuntungan.

Salah satu bentuk nyata upaya tersebut yaitu pasal 51 RUU PT yang menyebutkan pemerintah dengan persetujuan menteri mengizinkan Perguruan Tinggi Asing untuk mendirikan dan membuka cabangnya di Indonesia.

Menyoal kata “asing” tentu kita harus mengingat kembali fakta sejarah bagaimana dulu bangsa-bangsa kapitalis menjarah sumberdaya alam Indonesia melalui investasi dibidang tambang, minyak, serta industri lainnya. Pertanyaanya apakah ini adalah upaya asing untuk kembali menjarah sumberdaya manusia dengan menginvestasikan PTA untuk di kuliahi oleh orang pribumi? Dilematis memang, antara ingin meningkatkan kualitas pendidikan atau upaya asing yang ingin menjajah sumberdaya manusia Indonesia. Namun analisis menunjukkan kecenderungan pada jawaban kedua. Bangsa kapitalis menginvestasikan pendidikan tingginya untuk dikuliahi pribumi yang nantinya menghasilkan “kuli terdidik” bagi kaum kapitalis lagi. Parahnya lagi, pendidikan tinggi sedang dibawa pada mekanisme pasar bebas. Ini dengan mudah terjadi karena pendidikan di Indonesia yang belum memiliki visi pendidikan yang jelas serta kebijakan ekonomi Indonesia yang masih lemah.

Dua isu tersebut nampaknya cukup untuk menyatakan sikap penolakan terhadap RUU PT yang akan disahkan tanggal 13 Juli 2012 mendatang. Sekali lagi RUU PT ini sedang menggiring kita pada pengalihan sifat pendidikan yang asalnya bersifat public goods berubah menjadi private goods, yang nantinya pendidikan diposisikan sebagai komoditas perdagangan. Institusi pendidikanpun akan berubah orientasi geraknya yang awalnya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi orientasi mencari keuntungan.
 

Tolak RUU PT, ini sikap kita satu KM ITB!
Kusampaikan salam-salam perjuangan
Kami semua cinta-cinta Indonesia
Hidup Mahasiswa!!