Kisah Pengajar Muda: Memancing adalah Rasa

(Illustration getdrawings.com)

Memancing adalah rasa. Saat penglihatan dibutakan oleh pekatnya malam. Saat telinga dilenakan oleh desiran ombak yang sesekali datang. Dan saat saraf-saraf kulit dibekukan oleh dinginnya angin malam. Tapi satu hal yang tetap tak boleh mati, rasa. Sore itu adzan ashar masih berkumandang, namun aku dan bapak sudah selesai solat. Super kilat. Kami memang sedang terburu-buru, harus segera berangkat sebelum hari gelap. “Harus cari umpan dulu” kata bapak.

Sebelum kami bergegas menuju kalothok (perahu), ibu dan adik-adik lebih dulu menunggui kami di tepi pantai. Membawakan bekal untuk kami yang akan semalaman memancing ikan.

Dua minggu ini adalah musim kertang-sebutan untuk ikan kerapu tiger, musim dimana ikan kertang sedang aktif-aktifnya mencari makan. Konon ikan begitu malas. Saking malasnya, sampai-sampai ia rela saja menunggui apa-apa yang lewat di depan sarangnya, sebelum akhirnya ia lahap. Sebetulnya aku lebih setuju kalau dia ikhlas, bukan malas. “Ya, ikhlas menerima segala yang tersedia. Tak banyak minta, tak banyak mengeluh”, begitu pikirku.

Orang-orang di pulauku memilih untuk mencari ikan kertang di Karang Bungaran, sekitar satu setengah jam perjalanan dari Pulau Gili. Betul, kami sampai di sana tepat sebelum matahari terbenam, sehinga aku sempat mengabadikannya tenggelam dengan telanjang. Meskipun ada saja sensor awan tipis yang menghalangi pandangan.
***
Sebetulnya aku lebih setuju kalau dia ikhlas, bukan malas. Ya, ikhlas menerima segala yang tersedia. Tak banyak minta, tak banyak mengeluh
Begitu hari gelap, bapak langsung memberiku sebuah kail dan sepotong umpan. Lalu mulai mengajariku “nanti ini dilempar terus begini... begini... begini...” kata bapak sambil memperagakannya. Kusimpulkan saja tiga pedoman, “celupkan, rasakan, lalu mainkan”, begitu kataku biar gampang mengingat. Sebelum akhirnya kita tertawa bersama.

Celup adalah teknik melemparkan kail, kata bapak, “rasakan! Kalau arusnya lemah, kasih satu saja (pemberat), kalau arusnya kuat kasih tiga”.

Rasakan kedalaman kailmu, “awas, jangan sampai nyangkut ke karang, rasakan kedalamannya!”

Mainkan umpanmu, “biar kayak ikan hidup, sesekali harus dimain-mainkan, tarik terus ulur, tarik lagi lalu ulur”

Pedoman-pedoman itu yang saya amalkan sepanjang malam.
***
 
“Dapat paak guruuu, dapaaat ...” teriak bapak kegirangan.

Teriakan itu membangunkan saya yang tidur setengah lelap. Kali ini arlojiku menunjukkan pukul dua dini hari. “Alhamdulillah pak, akhirnya...”, sahutku menghampiri. Kantukku hilang seketika, semangat yang justru ada, mungkin karena tau ada harapan, bahwa jauh di dalam laut sana ada segerombolan ikan kertang lain yang datang.
***

“Memancing harus dijiwai memang”, kata bapak mengawali percakapan.

Bagaimana tidak, sudah jam empat subuh. Dua belas jam lebih semenjak keberangkatan, hanya satu ikan yang nyantol, itupun “nilai jualnya tak seberapa” begitu kata bapak.

“Syukuri saja pak...hehe” sahutku menghibur.
***

Fajar mulai datang, bapak mengajakku pulang. “Pak guru ayo pulang, kan jam tujuh harus ngajar”.

“Sebentar pak, pengin motret matahari terbit” kataku. Dan lagi-lagi aku berhasil mengabadikan mentari terbit dengan telanjang, meski masih saja sensor di sana-sini. Tapi pikirku justru itu yang membuatnya makin mempesona.

“O ya sudah, lempar lagi, siapa tahu dapat”, bapak melempar kail.

Tak lama berselang, melalui kuasaNya, Tuhan seperti menggerakan ikan pemalas itu menghampiri kail bapak, atau malah kail bapak yang digerakan untuk menghampiri si pemalas, Dia menurunkan karunia. Menjelang pukul enam kurang seperempat, satu lagi ikan nyantol di kail bapak. “Dapat satu lagi...”. Bapak nyengir setelah sempat menangis. Mungkin terlalu bersyukur.

Sesegera mungkin kami bergeras, bersiap pulang karena saya harus kembali mengajar.

Sepulang mengajar bapak menghampiriku, “Alhamdulillah dapat dua ratus tujuh puluh lima ribu pak guru. Untuk makan esok hari”. Kata bapak sembari tersenyum.

No comments:

Powered by Blogger.