Cerpen: Rengginang Tengah Malam

(Illustration by Abeh Ahmad)

Oh ya, malam ini tepat pukul duabelas lewat satu menit, Parmin dan istrinya sengaja membuka pintu rumah, sembari menyalakan lampu dipan rumahnya, anak-anaknya tengah tertidur pulas. Harap-harap cemas menanti satu, dua, tiga orang lelaki datang.

Pukul 03.01. Parmin mulai cemas, orang yang dinanti tak kunjung datang. “Mana ya dik? Biasanya sudah pada datang jam segini”. “Mungkin masih di jalan mas, kalo gitu kita solat hajat dulu saja, mohon sama Gusti Allah”, sahut istrinya.

Pukul 04.01. Kali ini giliran istrinya yang gusar, parasnya mulai pasi. “Sudah hampir subuh begini, belum juga datang mas”. Parmin tak bergeming meski angin malam kian tega menusuki tulang. “Sabar dik, kan kita sudah solat hajat, mungkin sebentar lagi”.

Pukul 04.31. Adzan subuh berkumandang, menyeruak terulur lewat ‘toa’ surau sebrang Kali Banjaran. Suara serak mbah Dirlan muncul tenggelam, nafas pendeknya terbata mengucap takbir dan syahadat. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup seretan kaki, seorang lelaki tua akhirnya datang, Paijo, orang sebrang Kali Banjaran. Perlahan menghampiri rumah Parmin seraya mengucap salam “Assalamu’alaikum”. Kali ini parmin begitu cekatan, dengan wajah riang bergegas menjawab “Wa’alaikumsalam”. Istrinya bahkan tak sempat ikut menyalam.

“Lho Paijo? Ngapain kamu?”

“Anu min, terimalah ini.” tangan Paijo menyodorkan sebungkus rengginang. “Anak gadisku jadi caleg, aku minta tolong sama kamu, coblos partai singkong nomor dua, caleg DPRD kabupaten/kota”. Begitu lancar ucapan Paijo karena seringnya berujar demikian.
***

Pukul 08.01. Beberapa warga mulai datang ke TPS, satu-satu mendaftar, mengantri menunggu panggilan. Ekspresinya bermacam-macam, tapi kebanyakan riang, dengar-dengar yang datang paling awal yang mendapat “serangan fajar” paling besar. Parmin dan istrinya ada dibarisan terdepan, mendapat antrian nomor urut 3 dan 4.

Diam-diam tangan Parmin digenggam, istrinya berbisik mesra “hari ini kita makan apa mas?"

Parmin menyeringai sambil berujar “apalagi kalau bukan rengginang dik…”

Keduanya semakin erat bergenggaman
*** 


Banyumas, 9 April 2014

No comments:

Powered by Blogger.