Taraweh Pertama, Gambar dan Secangkir Kopi

(Illustration by Kyle)

Gelap perlahan menyelimuti, temaram senter dan emergency lamp serempak menyala menghiasi ruang tengah rumah-rumah orang Pulau Gili, Bawean. Sembari berdoa, kami khusuk menyimak toa masjid yang menjalar ke telinga tujuh ratusan penghuni. Ayam sudah lagi rabun, tapi tak biasanya masih gelap. Mungkin ada gangguan teknis atau si empunya genset lupa, saat ini sudah pukul enam sore.

Pulau kami memang tak berlistrik. Generator listrik sumbangan pak bupati hanya menyala dari pukul 18.00-22.00. Sebagian kecil warga memanfaatkan solar cell, beberapa orang punya genset pribadi. Bagi yang tak punya, harus sabar menunggu Pak Wakir -si empunya genset- membuka keran arus listrik yang masih terbendung sejak pukul sepuluh malam kemarin. Alhamdulillah, tak sampai setengah jam arus listrik kembali mengalir.

“Pak guruuuuu..! Pak guruuuuu..!”

Suara anak-anak membuyarkan tidur saya yang hampir lelap. Yang saya ingat, selepas maghrib saya rebahan di kasur, sejenak merenungi kembali apa yang akan saya perbuat di sini. Saya refleks terbangun, meluruskan kopyah, kemudian menghampiri mereka yang sudah menunggu di depan rumah.

“Manjuh tojuk nak-kanak...!!” Saya membalas senyum mereka dengan semangat.

Belasan anak berhamburan memasuki ruang tengah. Masing-masing mulai membaca buku yang mereka suka, ada yang menggambar tokoh kesukaannya, ada yang menggambar pemandangan, ada pula yang memilih memainkan pianika.

Lima belas menit saya hanya memperhatikan gerak-gerik mereka, mengamati satu persatu kebiasaan dan kesukaannya. Maka di saat itulah saya serasa menjadi guru Kobayashi dalam novel Totto-chan. Guru Kobayashi yang membebaskan anak mengerjakan sesuatu dari hal yang disukainya. Beda negara, beda pula tempatnya. Kalau Totto-chan belajar di gerbong kereta, kami belajar di rumah Pak Herman-orang tua angkat saya.

Teringatlah saya pada gurunda Munif Chatib -sang maestro Multiple Intelegence. Bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah kesempatan yang terbatas. Kesempatan anak bertemu dengan penyelam handal. Sebagai guru, saya memang diharuskan menjadi penyelam bagi mereka, menyelam untuk menemukan mutiara yang terpendam di dasar samudra - mengembangkan minat dan bakat.

Tiba-tiba lamunan saya dibuyarkan oleh ide serta merta. Saya mengajak mereka menggambar. Temanya bebas. Mereka bebas menggambar apapun yang mereka suka.

“Siapa yang mau menggambar?”, saya perhatikan tak ada anak yang tak mengacungkan tangannya. Bergegas saya mengambil kertas reuse, alat tulis dan pensil warna. Suasana yang awalnya riuh, perlahan mulai tenang. Anak-anak sangat fokus menyelesaikan gambarnya. Entah sebuah kebetulan atau tidak, setelah saya kategorikan berdasarkan usia, inilah hasil gambar beserta analisanya:

Bersambung ke halaman 2...

Halaman:    1    2

No comments:

Powered by Blogger.