Memaknai ITB Multikampus dalam Kerangka Proses Spesiasi

"Not everything that is faced can be changed, but nothing can be changed until it is faced" (James Baldwin). ITB Multikampus sudah di depan mata. pihak rektorat, lembaga kemahasiswaan, konggres, kabinet, himpunan dan unit berusaha mencari bentuk keidealannya. Sistem birokrasi pasti berubah, kemahasiswaan juga harus berubah. Semunya akan dan harus dihadapi sebagaimana kutipan yang mengawali tulisan ini.

Di tengah usaha masing-masing pihak, yang menjadi concern utama mahasiswa tetaplah kemahasiswaan. Berbicara hal yang berhubungan dengan mahasiswa ini memang selalu unik dan tak jarang menguras emosi. Lihat saja alinea pertama Konsepsi KM ITB, di sana tergambar betapa kerasnya usaha para mahasiswa membangun kemahasiswaan terpusat. Maka jangan heran jika pertanyaan sederhana seperti, sistem apa yang akan diberlakukan dalam kemahasiswaan multikampus, bagaimana menjalankannya, dan kapan mulai dijalankan menjadi begitu rumit dan menguras pikiran. Tapi inilah kemahasiswaan.

Menyoal multikampus, HIMASITH Nymphaea sebagai himpunan pertama yang menjajal kemahasiswaan multikampus sadar betul bahwa menjalani kemahasiswaan multikampus di awal pembentukannya sangatlah berat. Dua analisis substansial yang menjadi tantangan yaitu adanya Isolasi Geografis-Ekologis dan Isolasi Behaviour-Cultural. Kedua hal tersebut dipastikan menimbulkan terjadinya spesiasi kemahasiswaan yang menurut “teori spesiasi” dapat memicu munculnya spesies baru kemahasiswaan.

Spesiasi adalah proses suatu spesies berdivergen menjadi dua atau lebih. Spesiasi kemahasiswaan berarti berdivergen-nya spesies kemahasiswan yang mana timbul survive behaviour dan budaya baru sehingga terbentuk spesies baru kemahasiswaan. Spesies kemahasiswaan di sini berarti organisme (kumpulan sistem organ) yang identik dengan organisasi kemahasiswaan. Jika spesiasi terjadi akibat isolasi geografis-ekologis, maka spesiasi kemahasiswaan terjadi akibat multikampus.

Parameter spesiasi dapat dilihat dari genotipe maupun fenotipenya. Bisa saja genotipenya sangat mirip namun fenotipenya jauh berbeda, atau sebaliknya fenotipe mirip namun genotipenya berbeda. Dalam hal kemahasiswaan, genotipe diibaratkan filosofi, sedangkan fenotipe diibaratkan sistem geraknya. Spesiasi kemahasiswaan seharusnya bisa di-set seperti pola pertama, genotipe sama meski fenotipe berbeda. Kemahasiswaan multikampus ITB harus memiliki filosofi yang sama, meskipun sistem geraknya berbeda.

Kemahasiswaan multikampus nantinya harus tetap memegang teguh semangat kemahasiswaan yang mengacu pada rancangan umum kaderisasi KM ITB, yaitu membentuk karakter lulusan mahasiswa ITB dengan berbagai macam profil yang disesuaikan dengan tantangan jaman. Jika memang secara geografis (wilayah), ekologis (interaksi dan kebutuhan hidup), behaviour (tingkah laku) maupun culture harus berbeda. Ya berbedalah, toh memang kebutuhan dan tantangan dalam kondisi mikro berbeda. Tapi tetap harus diingat bahwa kedua spesies kemahasiswaan ini hidup dalam lingkungan makro sama yang bernama Indonesia.

Harapan

Pada akhirnya, spesiasi merupakan proses evolusi yang niscaya terjadi, begitupun evolusi kemahasiswaan. Dulu Dewan Mahasiswa, kini Keluarga Mahasiswa, selanjutnya apa? kita belum tahu. Berapapun nantinya ITB akan dibentuk disegala penjuru dunia, semangat berkemahasiswaan harus tetap terjaga. Pedoman kemahasiswaan tetap satu, yakni membentuk profil lulusan ITB. Sehingga nantinya tiada sebutan alumni ITB Jatinangor, tiada sebutan alumni ITB Ganesha, tiada sebutan alumni ITB Malaysia, semua sama, satu Almamater, Institut Teknologi Bandung.

Comments

BACA JUGA:

PALING POPULER PEKAN INI

Mitos Melangkahi Gamelan

Cerpen oleh AA Navis : Robohnya Surau Kami

Penalaran Hukum Pengharaman Binatang Buas atas Dasar Konsep Ekologi

Cerpen oleh Asma Nadia : Cinta Begitu Senja