29 Nov 2012

Spesiasi Kemahasiswaan Multikampus


ITB Multikampus sudah di depan mata. pihak rektorat, lembaga kemahasiswaan, konggres, kabinet, himpunan dan unit berusaha mencari bentuk keidealannya. Sistem birokrasi pasti berubah, kemahasiswaan juga harus berubah.

Di tengah usaha masing-masing pihak, yang menjadi concern utama mahasiswa tetaplah kemahasiswaan. Berbicara hal yang berhubungan dengan mahasiswa ini memang selalu unik dan tak jarang menguras emosi. Lihat saja alinea pertama Konsepsi KM ITB, di sana tergambar betapa kerasnya usaha para mahasiswa membangun kemahasiswaan terpusat. Maka jangan heran jika pertanyaan sederhana seperti, sistem apa yang akan diberlakukan dalam kemahasiswaan multikampus, bagaimana  menjalankannya, dan kapan mulai dijalankan menjadi begitu rumit dan menguras pikiran. Tapi inilah kemahasiswaan.

Menyoal multikampus, HIMASITH Nymphaea sebagai himpunan pertama yang menjajal kemahasiswaan multikampus sadar betul bahwa menjalani kemahasiswaan multikampus di awal pembentukannya sangatlah berat. Dua analisis substansial yang menjadi tantangan yaitu adanya Isolasi Geografis-Ekologis dan Isolasi Behaviour-Cultural. Kedua hal tersebut dipastikan menimbulkan terjadinya spesiasi kemahasiswaan yang menurut teori spesiasi dapat memicu munculnya spesies baru kemahasiswaan.

Spesiasi adalah proses suatu spesies berdivergen menjadi dua atau lebih. Spesiasi kemahasiswaan berarti berdivergen-nya spesies kemahasiswan yang mana timbul survive behaviour dan budaya baru sehingga terbentuk spesies baru kemahasiswaan. Spesies kemahasiswaan di sini berarti organisme (kumpulan sistem organ) yang identik dengan organisasi kemahasiswaan. Jika spesiasi terjadi akibat isolasi geografis-ekologis, maka spesiasi kemahasiswaan terjadi akibat multikampus.

Parameter spesiasi dapat dilihat dari genotipe dan fenotipenya. Bisa saja genotipenya sangat mirip namun fenotipenya jauh berbeda, atau sebaliknya fenotipe mirip namun genotipenya berbeda. Dalam hal kemahasiswaan, genotipe diibaratkan filosofi, sedangkan fenotipe diibaratkan sistem geraknya. Spesiasi kemahasiswaan seharusnya bisa di-setting seperti pola pertama, genotipe sama meski fenotipe berbeda. Kemahasiswaan multikampus ITB harus memiliki filosofi yang sama, meskipun sistem geraknya berbeda.

Kemahasiswaan multikampus nantinya harus tetap memegang teguh semangat kemahasiswaan yang mengacu pada rancangan umum kaderisasi KM ITB, yaitu membentuk karakter lulusan mahasiswa ITB dengan berbagai macam profil yang disesuaikan dengan tantangan jaman. Jika memang secara geografis (wilayah), ekologis (interaksi dan kebutuhan hidup), behaviour (tingkah laku) maupun culture harus berbeda. Ya berbedalah, toh memang kebutuhan dan tantangan dalam kondisi mikro berbeda. Tapi tetap harus diingat bahwa kedua spesies kemahasiswaan ini hidup dalam lingkungan makro sama yang bernama Indonesia.

Harapan!!
Pada akhirnya, spesiasi merupakan proses evolusi niscaya terjadi, begitupun evolusi kemahasiswaan. Dulu Dewan Mahasiswa, kini Keluarga Mahasiswa, selanjutnya? Berapapun nantinya ITB akan dibentuk disegala penjuru dunia, semangat berkemahasiswaan harus tetap terjaga. Pedoman kemahasiswaan tetap satu, yakni membentuk profil lulusan ITB. Sehingga nantinya tiada sebutan alumni ITB Jatinangor, tiada sebutan alumni ITB Ganesha, tiada sebutan alumni ITB Malaysia, semua sama, satu Almamater, Institut Teknologi Bandung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar