Cerita Tentang Elang Jawa dan Garuda Pancasila

Illustration courtesy of Pinterest.com

 

Manuk Dadali, Elang Jawa, Spizaetus bartelsi, atau Garuda Pancasila?

Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkerammu (Iwan Fals, Bangun Putra Putri Ibu Pertiwi)

Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna (Manuk Dadali – Lagu Daerah Sunda)

Saya sengaja memutas lagu di atas sembari memulai tulisan ini. Tulisan yang berharap bisa menjawab pertanyaan dan memuculkan pertanyaan baru. Berawal dari pertanyaan iseng saya sebagai mahasiswa biologi, apa sih sebenarnya spesies burung garuda yang katanya lambang negara itu? apakah memang benar ada?

Setelah beberapa kali browsing akhirnya menemukan juga sekilas sejarah lambang negara ini. Singkatnya, pada sebuah kesempaatan ada enam tokoh Indonesia yang tergabung dalam kepanitian pembuatan lambang ini, mereka adalah Ki Hajar Dewantoro, Muh Yamin, Sultan Hamid II, Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, Moh Natsir, dan MA Pellaupessy. Di luar mereka, ada sosok warga negara asing yang juga terlibat. Salah satunya adalah Dirk Ruhl Jr, warga kebangsaan Jerman. Proses pembuatanpun terbilang rumit mengingat lambang garuda sempat direvisi beberapa kali. Awalnya kepala burung ini plontos, lebih mirip burung elang lambang negaranya US. Sampai pada suatu titik orang jerman Dirk Ruhl Jr inilah yang menyempurnakan jambul di kepala garuda yang sekarang menjadi lambang negara kita.

Konon jambul tersebut terinspirasi salah satu hewan endemik Pulau Jawa yang mungkin pada masa itu (tahun 40an) masih banyak ditemukan terbang berkeliaran kesana kemari di daratan Jawa, ialah Spizaetus bartelsi atau yang lebih dikenal dengan Elang Jawa. Orang sunda punya sebutan lokal sendiri, Manuk Dadali.

Pertanyaan selanjutnya, kalian sendiri pernah ga sih melihat sosok asli Elang Jawa alias Spizaetus bartelsi ini yang katanya jadi lambang negara yang selalu kita liat di dinding-dinding sekolah kita? Nah, bisa jadi dulu Pak Dirk Ruhl terinspirasi memberi jambul pada lambang garuda karena pernah melihat sendiri sang elang bertengger atau terbang melintas kepalanya. Secara kan jaman itu belum ada internet yang tinggal browsing ya kan.

Untuk jaman sekarang tentu tak ada kesulitan berarti bagi kita untuk mengetahui bagaimana bentuk bahkan perilaku burung garuda ini. Kita cuma butuh latop dengan koneksi internetnya, lalu ketik keyword “elang jawa” di search-engine, maka dalam hitungan detik akan muncul puluhan gambar burung garuda dalam berbagai posisi. Atau jika ingin lebih imajinatif lagi, tinggal ketik keyword tersebut di youtube.com. Maka cara bertengger, terbang, atau berburu makan pun dengan mudah ditemui.

Hmm.. Kalau begitu, pertanyaannya saya ganti ya. Siapa yang pernah melihatnya secara langsung di alam bebas? alam bebas loh ya bukan kebun binatang. hehe.. Pertanyaan ini mungkin mengernyitkan dahi banyak pembaca. Karena tidak banyak orang yang beruntung bisa menemui sang garuda ini di alam bebas.

Dan saya bisa sedikit jumawa karena menjadi satu dari jutaan orang Indonesia yang beruntung bisa melihat sang garudadi alam bebas secara langsung. Somboong.. Ya ini nyata, kejadiannya sekitar dua bulan lalu (juni 2012), saat berjalan-jalan menikmati suasana Kebun Raya Cibodas bersama seorang kawan, Khairuddin Muhammad Nur.

Kenapa saya katakan beruntung?

Ini dia kutipan informasi yang saya dapatkan,
“Di Jawa sendiri keberadaan elang Jawa terancam kepunahan, di habitatnya di Kaliurang, Sleman, saat ini tinggal 10 ekor. Sedang secara keseluruhan populasi elang Jawa yang merupakan binatang langka dan dilindungi ini, tidak lebih dari 100 ekor. Jumlah itu diperkirakan akan terus menyusut mengingat banyak pemburu liar dan sulitnya menangkarkan jenis burung ini”.

Ini jelas keberuntungan sekaligus kebanggan, karena saya masih sempat menyaksikan satu dari 100 ekor garuda yang masih tersisa di dunia dengan mata telanjang. Bukan di video, bukan di kebun binatang, bukan pula di pasar burung. Sayangnya pada waktu saya terlalu menikmati dan tidak sedang dalam keadaan siap dengan kamera canggih.

Lalu kenapa saya harus bangga?

Seorang sahabat mengingatkan, “kenapa harus bangga? Bukankah artinya sebentar lagi sang garuda akan habis digerogoti waktu?”. Benar memang, seandainya sang garuda alias Spizaetus bartelsi punah, maka anak cucu kita hanya benar-benar bisa melihatnya di media gambar atau video saja. Karakternya hanya akan dikenang dalam berbagai cerita yang telah disimbolisasi pada tubuh Pancasila. Kemudian saya berujar "iya kalau masih pada menjiwai garuda pancasila, kalau tidak?".
Lalu kawan saya ini balik bertanya, "memangnya apa hubungannya dengan menjiwai pancasila??"  Pertanyaan demi pertanyaan ini malah membuat diskusi kami bergeser dari awalnya tentang kekhawatiran kepunahan Spizaetus bartelsi menjadi kekhawatiran akan kepunahan pemaknaan pancasila.

Tentang Kekhawatiran "Punah"nya Penjiwaan Garuda Pancasila

Jika Anda tak mau memikirkan nasib Spizaetus bartelsi, saya tak akan memaksa. Jika Anda tak peduli dengan berita kepunahannya, sayapun tak bisa men-judge Anda berdosa. Tidak salah jika pikiran Anda mengatakan, “Kan saya bukan mahasiswa biologi? Kan passion saya bukan bidang konservasi? Toh saya tidak memburu atau merusak lingkungannya?”

Sekali lagi, tidak ada yang salah. Benar jika sudah ada kumpulan orang yang telah memikirkan konservasi Spizaetus bartelsi ini. Benar jika konservasi hanya perkara wajib kifayah saja. Tapi jangan lupa ya, ada yang lebih penting dari sekedar isu kepunahan Spizaetus bartelsi, ialah kehawatiran akan kepunahan nilai sakral nan luhur yang dicengkram oleh sang garuda, yaitu Pancasila.

Saya pernah sengaja mengetes seorang kawan saya yang lain dengan bertanya, “Jawab sebelum hitungan ke-3 detik, sila ke-empat Pancasila bunyinya apa?” Kawan saya ini pun gagal, ia menjawab setelah hitungan lebih dari detik ke-8, ini karena ia menghafal, sebelum menjawab sila ke empat ia terlebih dahulu menghafal sila pertama sampai tiga. Saat menjawabpun cukup blepotan bahkan sempat salah. Ia mengaku lupa, karena sudah lama sekali tak ber-upacara bendera. Kalau redaksinya saja lupa, terus bagaimana pemaknaannya? Semoga Anda tidak seperti kawan saya yang satu ini ya. hehe.

Dari cerita awal saya tentang kepunahan 'garuda' sungguhan (Spizaetus bartelsi), saya berefleksi, jangan-jangan "kepunahan" garuda pancasila juga terjadi. Buktinya masih banyak sekali ketimpangan sosial ketimbang keadilan. Makin banyak pejabat perwakilan rakyat yang korupsi. Masih banyak terjadi perpecahan golongan di berbagai daerah di Indonesia. Kita masih sibuk membenci satu sama lain, masih terjadi diskriminasi ras dan golongan kaum-kaum minoritas. Dan yang paling mengerikan, makin banyak manusia yang jauh dari Tuhannya.

Ah, semoga ini hanya kekhawatiran yang berlebihan dari saya. Semoga nasib Garuda Pancasila di dunia qalbu dan penjiwaannya tidak sama seperti nasib Spizaetus bartelsi di dunia nyata, hampir punah. Saya takut Garuda hanya menjadi kebanggan di bibir saja, saya takut Pancasila hanya dijadikan formalitas asas berbagai organisasi, namun punah dari hati setiap manusia Indonesia dan malah hilang filosofinya.

Bukan kapasitas saya mengajari Anda apa itu filosofi Pancasila. Saya hanya ingin mengajak kita semua merenung, sudahkah kebanggan kita pada Garuda diimbangi dengan penerapkan nilai-nilai luhurnya dalam kehidupan kita? Apapun nama atau sebutannya, Manuk Dadali, Elang Jawa, Spizaetus bartelsi atau garuda. Ini tetap jadi renungan kita bersama. Mari kira berjanji bergaruda pancasila dalam penerapan kehidupan sehari-hari. Agar nasibnya tidak sama seperti Spizaetus bartelsi. Harus punah dulu, baru orang mau memikirkannya.

Mentari pagi sudah membumbung tinggi , Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut, Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan, Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan, Yang hanya berisikan khayalan.

(Lanjutan lagu berjudul Bangunlah Putra Putri IbuPertiwi karya Iwan Fals)
***

Bandung, 3 Agustus 2012

No comments:

Powered by Blogger.