3 Agt 2012

Manuk Dadali, Elang Jawa, Spizaetus bartelsi, atau Garuda?

Kaum padjajaran menyebutnya manuk dadali, Sultan Hamid II menamainya burung garuda, lalu disempurnakan oleh Soekarno menjadi garuda pancasila. Nama populernya elang jawa, namun sebagai mahasiswa biologi saya lebih memilih kata “Spizaetus bartelsi”.
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kala mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkerammu (Iwan Fals, Bangun Putra Putri Ibu Pertiwi)
….
Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia jaya
Manuk dadali pang kakoncarana
Resep ngahiji rukun sakabehna
….. (Manuk Dadali – Lagu Daerah Sunda)

Sembari mendendangkan lagu tersebut saya memulai tulisan ini. Tulisan yang berharap bisa menjawab pertanyaan dan memuculkan pertanyaan baru. Berawal dari pertanyaan iseng,
Apa sejatinya burung garuda yang katanya lambang negara itu?
Sebutan lain Garuda ialah Elang Jawa (latin: Spizaetus bartelsi). Orang sunda biasa menyebutnya dengan Manuk Dadali.

Siapa yang pernah melihat burung garuda atau Spizaetus bartelsi ini?
Tentu tak ada kesulitan berarti bagi Anda untuk mengetahui bagaimana bentuk bahkan perilaku burung garuda. Anda hanya membutuhkan latop dengan koneksi internetnya, lalu ketikkan keyword “elang jawa” di searchengine. Dalam hitungan detik akan muncul puluhan gambar burung garuda dalam berbagai posisi. Atau jika ingin lebih imajinatif lagi, Anda tinggal mengetikkan keyword tersebut di youtube.com. Maka cara bertengger, terbang, atau berburu makanpun dengan mudah ditemui. Kalau begitu, saya ganti pertanyaannya.

Siapa yang pernah melihatnya secara langsung di alam?
Pertanyaan ini tentu mengernyitkan dahi banyak pembaca, mungkin termasuk Anda. Tidak banyak orang yang beruntung bisa menemui sang Garuda Perkasa ini di alam. Dan saya adalah satu dari jutaan orang Indonesia yang beruntung bisa melihat Spizaetus bartelsi di alam secara langsung. Tak perlu heran, kejadiannya sekitar dua bulan lalu, saat sedang berjalan-jalan menikmati suasana Kebun Raya Cibodas bersama seorang kawan.

Kenapa saya katakan beruntung?
Ini dia kutipan informasi yang saya dapatkan,
“Di Jawa sendiri keberadaan elang Jawa terancam kepunahan, di habitatnya di Kaliurang, Sleman, saat ini tinggal 10 ekor. Sedang secara keseluruhan populasi elang Jawa yang merupakan binatang langka dan dilindungi ini, tidak lebih dari 100 ekor. Jumlah itu diperkirakan akan terus menyusut mengingat banyak pemburu liar dan sulitnya menangkarkan jenis burung ini”.
Jelas kebanggan muncul, karena dari 100 ekor Garuda yang masih tersisa di dunia, saya orang yang beruntung bisa menemuinya di alam. Bukan di video, bukan di kebun binatang, bukan pula di pasar burung.

Lalu kenapa saya harus bangga?
Seorang sahabat mengingatkan, “kenapa harus bangga? Bukankah artinya sebentar lagi si Gagah Garuda habis digerogoti waktu?”. Benar memang, seandainya Spizaetus bartelsi punah, maka anak cucu kita hanya benar-benar bisa melihatnya di media gambar atau video saja. Karakternya hanya akan dikenang dalam sebuah simbol yang katanya dibanggakan setiap warna negara Indonesia. Simbol itu bernama Garuda Pancasila.

Benarkah masih ada kebanggan pada sang Garuda Pancasila?
Jika Anda tak mau memikirkan Spizaetus bartelsi, saya tak akan memaksa. Jika Anda tak peduli dengan berita kepunahan Spizaetus bartelsi, sayapun tak bisa men-judge Anda berdosa. Tidak salah jika pikiran Anda mengatakan,
“Kan saya bukan mahasiswa biologi? Kan passion saya bukan bidang konservasi? Toh saya tidak memburu sang Garuda atau merusak lingkungannya?”
Sekali lagi, tidak ada yang salah. Benar jika sudah ada kumpulan orang yang memikirkan konservasi Spizaetus bartelsi. Benar jika konservasi hanya wajib kifayah saja. Tapi jangan lupa, ada kesamaan saat kita membahas Spizaetus bartelsi. Ada nilai sakral yang mungkin terlupa saat kita menyinggung Spizaetus bartelsi. Kesamaan itu adalah sang Garuda lambang negara dan nilai sakral itu adalah Pancasila.

Saya pernah sengaja mengetes seorang kawan saya dengan bertanya, “Sila ke-empat Pancasila bunyinya apa ya?” Iapun tak sanggup menjawabnya, lebih tepatnya lupa. Ia mengaku lupa karena sudah lama tak ber-upacara bendera. Kalau redaksinya saja lupa, bagaimana pemaknaannya? Semoga Anda tidak seperti kawan saya yang satu ini.

Saya hanya khawatir nasib Garuda Pancasila di dunia qalbu sama seperti nasib Spizaetus bartelsi di dunia nyata. Saya takut Garuda hanya menjadi kebanggan di bibir saja, saya takut Pancasila hanya dijadikan formalitas asas organisasi saja. Punah dari hati setiap manusia Indonesia, hilang filosofinya dan lesu dalam prestasi membangun bangsa.

ber-Garuda Pancasila?
Saya tak akan mengajari Anda apa filosofi atau makna Garuda Pancasila. Anda dengan mudah dapat mengaksesnya di Internet. Saya ingin mengajak Anda merenung, sudahkah kebanggan kita pada Garuda diimbangi dengan mimpi besar untuk Indonesia? Sudahkah kita berusaha menerapkan nilai Pancasila dan kehidupan berkewarganegaraan kita? Apapun nama atau sebutannya, manuk dadali, elang jawa, Spizaetus bartelsi atau burung garuda. Ini tetap jadi renungan kita bersama. Maukah kita ber-Garuda Pancasila? Atau nasibnya akan sama Spizaetus bartelsi di alam. Harus punah dulu, baru orang mau memikirkannya.
Mentari pagi sudah membumbung tinggi , Bangunlah putra putri ibu pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi, Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut, Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan, Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan, Yang hanya berisikan khayalan.

(Lanjutan lagu berjudul Bangunlah Putra Putri IbuPertiwi karya Iwan Fals)

Bandung, 3 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar