26 Mei 2012

Para Pencari Kalajengking


Pagi ini aku kembali dihadapkan pada dilema kelakuan anak negeri.  Enam orang anak kecil bertubuh mungil mengendus pelan. Tangannya membawa jeratan dengan ujung melingkar sembari mengorek-orek lubang di tanah taman Curug Dago, Bandung. Apa gerangan yang mereka lakukan?
Selama mereka sibuk, selama itu pula aku perhatikan. Tiba-tiba keluarlah seekor binatang dari kelas arachnida yang terjerat tak berdaya. Kuperhatikan lebih dekat rupanya ini adalah benar-benar kalajengking yang kata orang menakutkan. Benar saja, jika tersengat, racunnya mengandung neurotoksin yang terdiri dari protein-protein kecil, natrium dan kalium, yang berguna untuk mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking menggunakan racunnya untuk membunuh atau melumpuhkan mangsa mereka agar mudah dimakan.
Meskipun kebanyakan racun kalajengking tidak menyebabkan kematian pada manusia, tapi tetap saja memberikan efek lokal seperti bengkak, dan rasa sakit, bahkan jika korban alergi, efeknya terburuknya bisa menyebabkan kematian.

Karena penasaran aku memberanikan diri bertanya, untuk apa sebenarnya kalajengking-kalajengking itu?
Salah seorang dari kumpulan anak-anak itu menjawab, “untuk dijual kang”
“Dijual kemana?”
“Ada pokoknya, semacam penampung yang siap menerima”
“Berapa harga kalian jual?”
“Lima ribu rupiah setiap ekor kang”.
“Apa kalian tahu resikonya?”
“Ya, tahu, untuk uang jajan kang”.
“Kalian kok tidak sekolah?”
“Haha, sudah tidak sekolah kang”.

Obrolan ini kuakhiri, sengaja tak kulanjutkan karena tahu akan kemana arah pembicaraan kami jika dilanjutkan.
Ujung-ujungnya aku akan marah kepada bocah-bocah yang tak tahu diri mandi dalam kubangan bahaya.
Ujung-ujungnya aku akan marah kepada orang tua mereka yang menelantarkan dan tak memberinya uang jajan.
Ujung-ujungnya aku akan menyalahkan pemerintah, menyalahkan orang-orang terhormat yang duduk manis setelah menikmati pendidikan tinggi namun tak peduli pendidikan negeri ini.
Ujung-ujungnya aku akan marah dan kecewa pada diriku sendiri, sebagai calon sarjana biologi belum mampu meyelesaikan masalah sepele Jual Beli Binatang dan Konservasi.

Ya, saat ini aku hanya bisa menghibur mereka dengan ucapan yang pernah ku dengar dari ayahku,
“Sesusah apapun keadaanmu, gapailah cita-citamu nak! Bagaimanapun caranya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar