23 Mei 2012

Cerpen : Menunggu

Entah mengapa aku kasihan, melihat sahabatku berjuang sendiri ditengah hirup-pikuk pergolakan belum jelasnya agenda besar organisasi bernama Al-maut. Aku tahu pasti tepat pukul 14.30 WIB sahabatku ini, eh mungkin sahabat kita ini menunggu dengan sabar kehadiran orang-orang yang sangat dia percaya untuk membantunya berjuang dalam sesuatu yang kata orang disebut dakwah. Short messenger service di handphone barunya jelas tidak salah tujuan dan sasaran menuju handphone tiap orang-orang yang dia percaya itu. Yang aku ingat sih tidak cuma sekali, entah dua atau tiga kali. Yang jelas handphone di kantongku berdering lebih dari satu kali.

Mengingat hal itu, tepat pukul tiga sore aku hampiri dan bertanya, “adakah yang datang?”
“Belum, atau mungkin tidak” jawabnya.
“Lalu?”
“Ya, kita tunggu saja”.
“Sampai kapan?”
“Sampai aku bosan menunggu”.

***
Hiruk pikuk manusia membanjiri ruangan sempit di pojokan kampus sore itu. Beraneka langkah dan emosi saling beradu berpadu membuat hidupnya suasana ditempat ini. Cengkrama para pemain dotA dengan kata-kata khasnya menggema, bisik-bisik mahasiswa membias gaung suara, basa-basi penjual siomai melengkapi hangatnya sore hari di pojokan kampus. Arloji raksasanyapun seolah tak mau ketinggalan menyambut hangat sore itu dengan ritme pukulan yang mengingatkan kami sudah pukul lima.

Sampai sini aku ingat, sahabatku di dimensi waktu yang sama dengan dimensi ruang beda sedang berkecamuk melawan banyak godaan. Mungkin saja nyamuk nakal itu terbahak melihat kesepian dan keheningan dimensi yang jauh berbeda suasananya dengan paragraph sebelumnya. Jelas sahabatku berdiam diri dan berdiri sendiri, mungkin benar-benar hanya ditemani nyamuk dan dingingnya angin sore andai saja kesabarannya pergi. Untung aku tahu, kesabarannya senantiasa setia menemani. Ya, minimal aku tenang dan bisa sedikit tertawa, sahabatku ditemani tiga kawan setia dari tiga dimensi berbeda, nyamuk, angin sore, dan kesabaran.

Awalnya aku ragu untuk bertanya, karena hampir sudah tahu asumsinya. Tapi tetap saja, ingatanku menuju pada sebuah tugu di kolam kampus Indonesia tenggelam, agar kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya, bukan asumsinya. Pertanyaanku masih sama “Adakah yang datang?”
“Belum atau mungkin tidak”
“Lalu?”
“Ya, kita tunggu saja”
“Sampai kapan?”
“Sampai aku tak lagi dipedulikan bahkan oleh nyamuk, hembusan angin, dan kesabaranku sendiri”.
“Yang terpenting tidak ada niat yang nista karena ketiganya” Balasku.
 

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan semata

                                                                                                           Sekretariat Nymphaea, 23 Mei 2012

2 komentar:

  1. Maaf mas, mau tanya, ini cerpen karya siapa? Tolong dibalas, untuk tugas mencari cerpen. Beserta pemgarangnya.

    BalasHapus