26 Mei 2012

Permainan Itu Masih Ada

 

   Hari ini pikiranku diajak kembali mengingat kejadian duabelas tahun silam, saat tubuh mungil ini masih rapuh dengan ingus yang mengalir dari hidung kecilku.

   Orang jawa menyebutnya permainan Engklek, disunda disebut Sondakh. Sebelum bermain, terlebih dahulu dibuat arena permainan yang dibatasi oleh garis-garis yang disepakati bersama. Setiap pemain memiliki sebuah Gateng (semacam batu kecil yang digunakan dalam permainan). Sebelum pemain melakukan engklek (berjalan satu kaki), Gateng harus dilempar terlebih dahulu oleh pemain tepat masuk kedalam arena permainan. Jika gagal, maka pemainpun gagal melanjutkan engklek. Jika berhasil, pemain harus melakukan engklek melewati setiap arena permainan dan harus kembali ke garis start dengan membawa Gateng.


    Permainan ini adalah permainan tradisional khas Indonesia yang mengandalkan ketangkasan bergerak, dan keterampilan membidik. Permainan ini jelas melatih keseimbangan tubuh karena pemainnya diharuskan berjalan (engklek) dengan satu kaki. Kemampuan lain yang dibutuhkan adalah ketepatan bidikan saat melempar Gateng. Tidak hanya itu, pemain juga diwajibkan memiliki lompatan yang jauh demi mendukung kemenangan.
    Untuk menjadi pemenang, pemain harus memiliki empat kombinasi kemampuan yakni, ketangkasan gerak, keseimbangan tubuh, lompatan yang jauh, dan ahli bidik. Pemain dengan kombinasi terbaiklah yang memiliki peluang terbesar menjadi pemenang dalam permainan ini

  Ya, sungguh permainan sederhana yang melatih koordinasi kerja otak dan otot
  Sungguh permainan murah yang melatih berbagai kemampuan motorik pemainnya
  Sungguh permainan menghibur meskipun tak satupun orang tahu siapa penciptanya
  Sungguh permainan tradisional yang lama tak kujumpa
  Tapi aku yakin, permainan itu masih ada

Sanggar Unit Pramuka ITB, bersama kawan seperjuangan, 27 Mei 2012

Puisi : Gurandil Malang



Gurandil Malang

Malangnya gurandil malang,
Langkah kakimu adalah harapan keluarga
Keringatmu senyum istrimu
Topimu sesuap nasi anakmu

Namun, malangnya gurandil malang,
Di tengah kewaspadaan engkau bekerja
Di tengah bidikan pistol petugas engkau tertawa
Di tengah bayangan longsoran hitam engkau bercengkrama

Kini, malangmu semakin menjadi,
Aku dengar berita hari ini
Delapan gurandil tewas terkubur longsor
Kalau sudah begini,
Siapa lagi yang memberi anak-anakmu sesuap nasi

Curug Dago, 26 Mei 2012