Memaknai Kembali 'Keprofesian' Himasith Nymphaea ITB

(Illustration by picbear)

Sebuah organisasi lahir karena kesadaran anggotanya akan pentingnya berhimpun dan berkembang bersama. Falsafah dasar organisasi yaitu, membentuk manusia susila dan demokrat. Menurut Muhammad Hatta, kesusilaan dan kedemokratan manusia tercermin dalam karakter mahasiswa yang memiliki keinsafan dan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, serta cakap memangku jabatan dan atau pekerjaan dalam masyarakat. Atau dalam kata lain, perguruan tinggi memiliki tugas mulia, membentuk insak akademik yang mampu mengembangkan dirinya, dan mencari serta membela kebenaran ilmiah, untuk membentuk tatanan masyarakat yang lebih baik. Demi tercapainya tujuan mulia tersebut, dibentuklah kebutuhan dasar berupa wadah pendidikan, kesejahteraan, dan aktualisasi yaitu organisasi.

Jiwa pembangun sebuah organisasi kemahasiswaan sendiri harus mengacu pada tridharma perguruan tinggi, yang mengedepankan pendidikan sebagai basis kehidupan, penelitian sebagai implementasi keilmuan, dan pengabdian masyarakat sebagai implementasi kecerdasan sosial.

Himpunan Mahasiswa SITH “Nymphaea” ITB menjadi organisasi yang dimaksudkan untuk menunjang proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan ilmu hayati. Organisasi ini berdiri untuk membina mahasiswa SITH, untuk menjiwai dan menerapkan keprofesian ilmu dan teknologi hayati serta memfasilitasi proses tersebut secara berkelanjutan.

Meski terminologi 'keprofesian' sendiri tak tercantum dalam KBBI, setidaknya kata yang sering didengungkan dikalangan mahasiswa ITB ini tetap penting, terutama bagi anggota Himpunan Nymphaea ITB yang secara sadar mengakui basis himpunanya adalah keahlian biologi. Keprofesian dapat dijabarkan sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab anggota himpunan terhadap keilmuan yang dipelajarinya. Kepedulian mendasari ‘sense of belonging’ terhadap karya yang berkelanjutan, sedangkan tanggung jawab menumbuhkan ‘sense of powering’ terkait manfaat karya keilmuan yang dihasilkan. Sederhananya keprofesian harus dibangun dengan dasar peduli akan keilmuan serta bertanggung jawab untuk memakmurkan orang banyak.

Berbekal sepenggal sejarah, Nymphaea ITB dikenal sebagai himpunan besar memiliki ‘mimpi besar’ dalam kontribusi nyata pada permasalahan bangsa. Tiga tahun silam, semangat mengejar ‘mimpi besar’ itu memang sempat tertunda, namun satu tahun setelahnya, semangat itu kembali dimunculkan. Begitupun saat kepengurusan BPH 2011/2012 menjabat, keprofesian lambat laun dibangun. Nymphaea kali ini sedang memasuki babak ‘karya keprofesian’. Dan harapannya, dengan usianya yang semakin bertambah, satu tahun kedepan Nymphaea kembali menggaungkan semangat mengejar mimpi besar dengan memperkokoh eksistensinya melaui karya nyata bagi kemaslahatan masyarakat. Yang mana, babak kebermanfaatan untuk masyarakat adalah langkah lanjutan setelah babak ‘karya keprofesian’.

No comments:

Powered by Blogger.