Cerpen oleh Asma Nadia : Cinta Begitu Senja


(Illustration by getdrawing)

Salah satu cerpen karya Asma Nadia yang menjadi favorit saya.Tidak ada yang tahu, kapan persisnya Fajar mencintai Senja. Mereka bertetangga sejak sama-sama kecil. Tak hanya itu, Fajar dan Senja bahkan selalu bersekolah di tempat yang sama, meski tidak pernah sekelas. Fajar yang pendiam menyadari perhatiannya yang berlebihan terhadap gadis berkuncir dua yang tinggal di sebelah rumah. Waktu itu

Fajar masih duduk di kelas lima SD. Berkali-kali, tanpa lelah Fajar selalu jadi orang pertama yang mengembalikan bola bekel milik senja yang meloncat nakal keluar halaman. Setiap kali Senja melirik pohon jambu yang berbuah, maka dengan tangkas Fajar segera memanjat dan menghadiahi gadis kecil itu sekantung jambu manis. Begitu banyak kesempatan mencuri pehatian Senja, yang dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Fajar.

Tapi hingga mereka beranjak besar, Senja yang setahun lebih muda dari Fajar, bagai tak menangkap semua sinyal dan perhatian cowok di sebelah rumahnya itu. Sebabnya, mungkin Fajar tak pandai bicara. Senja seperti tak pernah tahu, betapa Fajar jatuh cinta padanya. Mentok. Betul-betul mentok, karena biar berapa tahun berlalu, dan berapa banyak gadis yang melintas, tak satupun bisa mengusir perasaan sayang Fajar terhadap Senja. "Bang, tidak apel? Mbak Senja kirim salam!" Adik-adik Fajar yang lima orang dan beranjak besar, lambat laun memahami perasaan abangnya terhadap gadis manis di sebelah rumahnya itu. Merekapun mulai menggoda, terutama saat malam minggu tiba. Namun Fajar hanya menjawab dengan senyum tersipu, dan cepat-cepat menaikkan kaca mata minusnya yang merosot lebih sering, setiap nama Senja disebut. Beberapa kali pula, adik- adiknya membawa satu loyang kue dan mengatakn itu titipan Senja untuknya. Tapi Fajar tahu, Mimi, Vita, Dira, Odi dan Leon berkata begitu hanya untuk menyenangkan hati abang mereka saja. Dan sekalipun waktu telah membentuknya menjadi pemuda tampan yang cerdas, Fajar tidak pernah punya cukup keberanian untuk mengatakan perasaannya pada Senja. Padahal banyak gadis di kampusnya yang terang-terangan memberikan lampu hijau. Tapi lampu merah dari Senja lah yang diam-diam diharapnya berubah warna.

Kenapa Senja tak pernah peduli? Berulang kali Fajar bertanya pada dirinya. Mustahil Senja tak bisa menangkap perhatian lelaki itu yang berlimpah, tidak hanya kepada dia, tapi juga keluarga gadis itu. "Jar"¦Fajar!" Teriakan panik Senja suatu malam, disertai ketukan pintu berkali-kali membuat Fajar melompat dari tempat tidur di kamar belakang. Tergesa lelaki itu membukakan pintu. Wajah Senja yang resah menyita penuh perhatiannya. Baru belakangan rona merah jambu di paras Senja menyadarkan Fajar akan kain sarungnya yang tak karuan. Permintaan maaf akan penampilannya yang berantakan, dan penyesalan kenapa ia tidak tidur lebih rapi tadi, tak pernah terucap. Senja yang pucat dan bibirnya yang bergerak-gerak tak teratur, menyadarkan Fajar akan hal buruk yang terjadi.

"Papa, Jar! Papa sakit jantungnya kumat. Harus dibawa ke rumah sakit.Tanpa menunggu kalimat Senja selesai, Fajar sudah meraih SIM-nya, dan berpesan pada adik-adiknya agar menjaga Ibu. Laki-laki itu sendiri yang menyetir Mercy milik keluarga Senja. Untuk pertama kali itulah mereka duduk berdampingan dalam satu mobil. Mama gadis itu memeluk Papa yang kelihatan sulit bernafas. "Cepat sedikit, Fajar." Kegelisahan Senja menghilangkan kantuk lelaki itu. Jalan gelap di hadapan, tak mencegah Fajar untuk menerbangkan mobil secepat mungkin. "Berdoa, Senja. Berdoa!" Ia berharap, setelah berbicara begitu bisa menggenggam tangan Senja yang mungil, dan mengalirkan ketenangan. Namun kenyataannya, hanya sebatas itu yang ia ucapkan. Selebihnya Fajar sibuk mendengarkan celoteh Senja yang meminta maaf berkali-kali karena telah merepotkan. Alhamdulillah malam itu Papa Senja bisa cepat mendapatkan pertolongan. Dokter meminta laki-laki separuh baya itu dirawat beberapa hari. Tanpa persiapan memadai, Fajar harus kembali mengantarkan gadis itu pulang untuk mengambil pakaian dan berbagai keperluan. "Mama bisa menjaga Papa. Makasih ya, Nak Fajar!" Lembut suara Mama Senja, terdengar seperti restu yang menyejukkan telinga. Hati Fajar berbunga. Impiannya melambung seperti nasib bola golf di tangan pemain profesional. Tapi, hanya sepekan setelah kejadian itu, Fajar merasa dirinya kembali dilupakan. Penyebabnya adalah Senja yang dilihatnya jalan berdampingan dengan pria berwajah indo. Senyum cerah gadis itu ketika keduanya berbicara, dan bintang di mata Senja, betul-betul membuat hati Fajar remuk.

Lanjut halaman berikutnya...

Halaman:     1      2

No comments:

Powered by Blogger.