1 Jan 2012

Cerpen : Cinta Begitu Senja


By. Asma Nadia
Iseng-iseng buat nambah bacaan. hehe... :)

Tidak ada yang tahu, kapan persisnya Fajar mencintai Senja. Mereka bertetangga sejak sama-sama kecil. Tak hanya itu, Fajar dan Senja bahkan selalu bersekolah di tempat yang sama, meski tidak pernah sekelas. Fajar yang pendiam menyadari perhatiannya yang berlebihan terhadap gadis berkuncir dua yang tinggal di sebelah rumah. Waktu itu
Fajar masih duduk di kelas lima SD. Berkali-kali, tanpa lelah Fajar selalu jadi orang pertama yang mengembalikan bola bekel milik senja yang meloncat nakal keluar halaman. Setiap kali Senja melirik pohon jambu yang berbuah, maka dengan tangkas Fajar segera memanjat dan menghadiahi gadis kecil itu sekantung jambu manis. Begitu banyak kesempatan mencuri pehatian Senja, yang dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Fajar.

Tapi hingga mereka beranjak besar, Senja yang setahun lebih muda dari Fajar, bagai tak menangkap semua sinyal dan perhatian cowok di sebelah rumahnya itu. Sebabnya, mungkin Fajar tak pandai bicara. Senja seperti tak pernah tahu, betapa Fajar jatuh cinta padanya. Mentok. Betul-betul mentok, karena biar berapa tahun berlalu, dan berapa banyak gadis yang melintas, tak satupun bisa mengusir perasaan sayang Fajar terhadap Senja. "Bang, tidak apel? Mbak Senja kirim salam!" Adik-adik Fajar yang lima orang dan beranjak besar, lambat laun memahami perasaan abangnya terhadap gadis manis di sebelah rumahnya itu. Merekapun mulai menggoda, terutama saat malam minggu tiba. Namun Fajar hanya menjawab dengan senyum tersipu, dan cepat-cepat menaikkan kaca mata minusnya yang merosot lebih sering, setiap nama Senja disebut. Beberapa kali pula, adik-adiknya membawa satu loyang kue dan mengatakn itu titipan Senja untuknya. Tapi Fajar tahu, Mimi, Vita, Dira, Odi dan Leon berkata begitu hanya untuk menyenangkan hati abang mereka saja. Dan sekalipun waktu telah membentuknya menjadi pemuda tampan yang cerdas, Fajar tidak pernah punya cukup keberanian untuk mengatakan perasaannya pada Senja. Padahal banyak gadis di kampusnya yang terang-terangan memberikan lampu hijau. Tapi lampu merah dari Senja lah yang diam-diam diharapnya berubah warna.

Kenapa Senja tak pernah peduli? Berulang kali Fajar bertanya pada dirinya. Mustahil Senja tak bisa menangkap perhatian lelaki itu yang berlimpah, tidak hanya kepada dia, tapi juga keluarga gadis itu. "Jar"¦Fajar!" Teriakan panik Senja suatu malam, disertai ketukan pintu berkali-kali membuat Fajar melompat dari tempat tidur di kamar belakang. Tergesa lelaki itu membukakan pintu. Wajah Senja yang resah menyita penuh perhatiannya. Baru belakangan rona merah jambu di paras Senja menyadarkan Fajar akan kain sarungnya yang tak karuan. Permintaan maaf akan penampilannya yang berantakan, dan penyesalan kenapa ia tidak tidur lebih rapi tadi, tak pernah terucap. Senja yang pucat dan bibirnya yang bergerak-gerak tak teratur, menyadarkan Fajar akan hal buruk yang terjadi.

"Papa, Jar! Papa sakit jantungnya kumat. Harus dibawa ke rumah sakit. Kalau bisa"¦"¦" Tanpa menunggu kalimat Senja selesai, Fajar sudah meraih SIM-nya, dan berpesan pada adik-adiknya agar menjaga Ibu. Laki-laki itu sendiri yang menyetir Mercy milik keluarga Senja. Untuk pertama kali itulah mereka duduk berdampingan dalam satu mobil. Mama gadis itu memeluk Papa yang kelihatan sulit bernafas. "Cepat sedikit, Fajar." Kegelisahan Senja menghilangkan kantuk lelaki itu. Jalan gelap di hadapan, tak mencegah Fajar untuk menerbangkan mobil secepat mungkin. "Berdoa, Senja. Berdoa!" Ia berharap, setelah berbicara begitu bisa menggenggam tangan Senja yang mungil, dan mengalirkan ketenangan. Namun kenyataannya, hanya sebatas itu yang ia ucapkan. Selebihnya Fajar sibuk mendengarkan celoteh Senja yang meminta maaf berkali-kali karena telah merepotkan. Alhamdulillah malam itu Papa Senja bisa cepat mendapatkan pertolongan. Dokter meminta laki-laki separuh baya itu dirawat beberapa hari. Tanpa persiapan memadai, Fajar harus kembali mengantarkan gadis itu pulang untuk mengambil pakaian dan berbagai keperluan. "Mama bisa menjaga Papa. Makasih ya, Nak Fajar!" Lembut suara Mama Senja, terdengar seperti restu yang menyejukkan telinga. Hati Fajar berbunga. Impiannya melambung seperti nasib bola golf di tangan pemain profesional. Tapi, hanya sepekan setelah kejadian itu, Fajar merasa dirinya kembali dilupakan. Penyebabnya adalah Senja yang dilihatnya jalan berdampingan dengan pria berwajah indo. Senyum cerah gadis itu ketika keduanya berbicara, dan bintang di mata Senja, betul-betul membuat hati Fajar remuk.

****
Ia tak pernah merasa sesedih hari ini. "Paspormu sudah siap?" Ragu, Senja mengangguk. Gadis pintar itu mendapat beasiswa untuk meneruskan kuliahnya di Jepang. Kesempatan emas, kata Mama. Kesempatan yang membuat iri banyak orang tua. Usia Senja dua puluh empat tahun, dan hari itu untuk pertama kalinya ia tahu, dirinya dan Fajar tak berjodoh! Perjaka tampan dan baik hati di rumah sebelah, ternyata tak pernah menganggap diri Senja istimewa. Kesadaran yang datang terlambat setelah tahun-tahun penantian yang sia-sia. Kamar di hatinya tak pernah dibukanya untuk orang lain. Wajar jika belakangan ini, gadis manis itu menyambut malam dengan air mata yang meleleh di pipinya. Sungguh, ia menyesali hari pertama dalam masa kanak-kanak nya, dimana ia merasa punya tempat khusus di hati Fajar.

Nyatanya?

Sampai sekarang tak sekalipun Fajar mengungkapkan perasaannya pada Senja. Atau"¦"¦ karena memang sebenarnya tidak ada? Air mata gadis itu membayang lagi di pelupuk. Kalau memang tak ada hati, kenapa Fajar selalu ringan tangan dan siap membantunya kapan saja? Bola bekel yang sengaja digulirkannya ke luar halaman, selalu kembali, dan Fajar-lah penyebabnya. "Mungkin saja Fajar memang pas di depan rumah, Senja. Jangan sedih." Senja mengangguk. Hidungnya sudah dari tadi merah. Direbahkannya kepala di pangkuan Mama. Mereka hanya berdua sejak Papa meninggal. Dan Fajar yang diam-diam diharapkan akan menjadi lelaki lain pengganti Papa di rumah itu, ternyata terlalu sibuk mengurusi adik-adik nya; membiayai mereka sekolah, menanggung urusan pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, memastikan semua kebutuhan rumah terpenuhi, dan seabrek kewajiban. Kaca mata lelaki tampan itu makin tebal saja dalam pandangan Senja. Sejujurnya Senja tak pernah keberatan menempati urutan terakhir dalam prioritas Fajar. Meski di keluarga ia adalah anak tunggal yang selalu dengan mudah mendapatkan keinginan. Kecuali satu: ia tak pernah mendapatkan Fajar. Tak hanya itu. Mulai hari ini ia akan berpisah dengan satu-satunya sosok yang mencuri hatinya. Senja menarik nafas dalam. Ia salah, ternyata Fajar tak pernah punya perasaan apapun. Barangkali di mata lelaki itu, Senja seperti adik-adiknya yang lain. Mungkin itu sebabnya Fajar tak pernah membalas salam, atau bahkan berterima kasih atas kue yang susah payah dibikinnya. "Senja, sudah siap? Nanti terlambat ke Bandara, Sayang!" Senja bangkit, mencium tangan Mama, dan melirik sekilas ke arah rumah sebelah yang terdengar ramai. Mungkin ada yang ulang tahun. Memorinya kembali ditarik ke masa silam: Fajar yang tak pernah melupakan upacara sederhana untuk Mimi, Vita, Dira, Odi dan Leon. Mereka adalah adik-adik paling beruntung di dunia. Mungkin termasuk dia, sebab belum pernah sekalipun lelaki itu lupa menitipkan kado untuknya. Adik-adiknya dengan suka cita mengantarkannya pada Senja. Kenangan mereka begitu banyak. Indah. Bahkan teramat indah. Sayang, mungkin tak satupun benar-benar punya arti.

Aning menerbangkan tahun-tahun, secepat daun-daun yang runtuh dari batang pohon jambu di halaman. Waktu meniup usia muda. Juga usia Fajar dan Senja. Tiga puluh tahun berkelang, sejak Fajar patah hati pada Senja, begitupun sebaliknya. Dan disinilah, di beranda rumah Fajar, keduanya duduk bersisian menghadap jalanan depan rumah. Satu sore yang paling damai dalam hati keduanya, Fajar si perjaka tampan, dan Senja si anak tunggal yang manis. Mereka kini jauh dari muda. "Apa kabar, Fajar?" Laki-laki itu tak langsung menjawab. Ia berdehem beberapa kali dan memperbaiki kacamatanya yang merosot lebih sering. Sekitar mereka sepi. Adik-adiknya yang lima orang, sudah sejak lama berkeluarga dan meninggalkan rumah. Kalau tidak, barangkali kedamaian seperti ini tidak akan pernah jadi kenyataan. Fajar tersenyum kecil. "Baik, Senja. Bagaimana anak-anak mu?" Kedua mata Senja yang mulai dikelilingi banyak kerutan, terangkat ke atas. Berbinar. Anaknya dua orang. Buah pernikahannya dengan dosennya di Jepang. Lelaki yang baik hati, namun tak pernah cukup dicintai Senja. Bahkan hingga suaminya yang sabar itu kembali ke pangkuan Tuhan tahun lalu. "Mereka baik, Bang. Tadi sempat pamitan padaku, mengantar neneknya belanja." Fajar mengangguk mafhum. Meski soal anak, satu pun ia tak punya. Lelaki itu tak pernah letih menunggu Senja. "Mereka cantik-cantik." Sepertimu"¦"¦, kata yang terakhir hanya melingkar-lingkar di benak lelaki itu.

Tuhan, sampai kapanpun ia tak kuasa menatap mata Senja, dan menyampaikan begitu banyak pujian untuk gadis itu. Cintanya. Cinta satu-satunya. Apalagi kekuatan untuk berkata cinta. Tidak. Fajar tak punya kekuatan itu. "Soal yang kemarin itu, seriuskah?" Lelaki itu terkesiap. Ia merasa perutnya kram. Pendidikan di luar kah yang membuat Senja begitu gesit dan tak malu bertanya langsung ke pokok masalah? Tadi malam Fajar memang membuat keputusan besar dalam hidupnya. Ia nekat. Setelah tahun-tahun yang meletihkan, ia akhirnya berani bicara. "Kita menikah, Senja. Bagaimana?" Keberanian yang mengejutkan Senja. Perempuan itu baru sehari sampai di Jakarta. Berpuluh tahun ia menemani suaminya mengajar dari satu universitas ke universitas lain di berbagai negara dan hanya sesekali pulang. Itupun terlalu singkat untuk bicara dari hati ke hati. Baru sekarang ia memutuskan untuk menetap kembali di rumah Mama, sebab tak ada lagi yang harus diikuti. Sedang Fajar, dulu buru-buru memutus harapan ketika melihat cincin bermata satu yang melingkar di jari manis Senja. Tapi tadi malam, entah kekuatan itu datang darimana. Ia pastilah orang linglung di mata Senja ketika tiba-tiba mengucapkan kalimat itu tanpa tedeng aling-aling. Mengajak Senja menikah!

Disampingnya, Senja tersenyum. Menatapnya lurus, tak menyisakan ruang nol bagi lelaki itu untuk bersembunyi. Fajar tahu, ia tak bisa lagi menghindar. "Tentu. Kita menikah Senja, itu jika kau setuju." Senja terpana. Fajar telah membuat kemajuan luar biasa rupanya dalam hidup. Kemana sayang, cinta, kata-kata rayuan yang seharusnya mengawali kalimat keramat itu? Tapi sejujurnya, Senja merasa dadanya bergejolak. Ia sama sekali tidak keberatan. Setelah ditelepon tadi malam, dirinya dipenuhi keriangan yang dikiranya hanya milik orang muda. Anak-anaknya yang tersenyum menggoda, membuatnya tak bisa menyembunyikan kebahagiaan. Inilah saatnya. Nyata. Bukan mimpi. Di dekatnya, Fajar tersenyum tulus. Penuh cinta. Lelaki yang pelipisnya sudah memutih itu siap menumpahkan semua perasaannya ketika Senja tiba-tiba terdiam dan menarik senyumnya. Ada yang tiba-tiba melintas di benak perempuan itu dan teramat mengganggunya. Pikiran itu. Kenapa baru sekarang Fajar mengatakannya? Senja tak pernah menyesali pernikahan dan anak-anaknya. Dia juga tak pernah berpikiran seperti sebagian kecil orang, seandainya bisa mengulang sejarah. Tidak! Dia tak mau begitu. Hanya saja, Fajar harusnya melakukan ini sejak dulu, dan menghemat energi, kerinduan yang selama ini terkuras. Cinta yang diam-diam disimpannya!

"Kenapa baru mengatakannya sekarang?" Pertanyaan itu meluncur dari mulut Senja. Dan Fajar sama sekali tidak siap. Ia mengira Senja hanya menjawab ya atau tidak. Setelah itu semuanya akan selesai. Fajar gelisah. Menit-menit berlalu dan Senja masih belum beranjak menatapnya. "Jawablah, Jar!" Seandainya boleh, Fajar ingin menghindar dan mengembalikan duduk permasalahan pada jawaban Senja. Ia tak sanggup menceritakan semua penantian. Energi yang terkuras habis dan melemahkan otot serta semua syaraf di tubuhnya. Cintanya yang tak kesampaian. Jadi, apa pentiingnya? Kenapa mengungkit masa lalu? Kenapa tidak menjelang saja masa depan tanpa berpikir lebih jauh? Tapi Senja menunggu dalam hening dan tak hendak bertanya apapun. Gigih, menuntut jawaban. "Aku memang bodoh, Senja. Tapi orang bodoh ini kini tahu bagaimana bersikap. Bukannya aku tiba-tiba mengajakmu menikah. Hanya saja"¦"¦" Senja menatapnya dengan mata yang sulit diselami. "Aku begitu mencintaimu, Senja" Sungguh! Sejak dulu, tak ada gadis lain." Alis Senja terangkat. "Jadi itu benar?" "Ya, aku begitu mencintaimu. Sungguh menyakitkan tidak bisa bersama orang yang kita cintai." Senja merasa dadanya sesak. Usia menyisakan penyakit jantung untuknya. Dan debaran karena masalah ini, nyaris tak mampu ditanggungnya. "Kenapa tidak dari dulu dikatakan?" Fajar terhenyak. Ia hanya mengatakan cinta, kenapa tiba-tiba harus mendapatkan penyerangan seperti ini?

"Apakah ada bedanya?" ucapnya membela diri. Beberapa saat lenyap. Hanya butiran bening dari mata Senja yang menjawab. Fajar merasa dirinya mendapat anugerah. "Jadi selama ini"¦," lelaki berusia lima puluhan itu susah payah menyelesaikan kalimatnya, "Jadi selama ini kau mencintaiku?" Senja mengangguk. Matanya basah. Dari jauh suara azan ashar terdengar. Senja ingin sekali lari dan merebahkan sujudnya dalam-dalam. Tuhan, apa maksud-Mu dengan ini semua? "Kenapa tak pernah bilang, Senja?" Kenapa ia tak pernah bilang? Pertanyaan Fajar mengusik kemarahan dalam diri Senja. Kenapa pula ia yang harus bilang? Kenapa bukan lelaki itu? "Sebab aku perempuan! Itu sebabnya!" Suara Senja keras, "dan perempuan bukan tempatnya terbuka bicara perasaan!" "Kenapa tidak?" balas Fajar tak kalah keras. Senja kaget bukan kepalang. Belum pernah ia melihat Fajar bicara sekeras itu. Tidak padanya, atau adik-adiknya yang lima orang. Tidak pernah, selama sejarah pertetanggaan mereka yang panjang.

"Perasaan milik siapa saja, Senja! Bukan kewajiban bagi laki-laki mengungkapkan perasaannya. Harusnya perempuan lebih peka soal ini." "Peka? Jadi maksudmua aku tidak peka? Tidak sensitif? Begitu?" "Bukan begitu, maksudku"¦" "Aku tahu maksudmu, sensitivitas itu milik perempuan. Dan keberanian yang harusnya milik laki-laki menjadi tumpul, sebab ketidak-sensitivan perempuan!" "Senja, kenapa jadi rumit begitu?" Fajar tak mengerti. Harusnya sore ini sempurna dan memberikan keindahan pada mereka berdua. Jawaban atas penantian berpuluh tahun. Harusnya sosok yang dicintainya bisa mengerti dan tidak salah paham. "Kenapa harus aku yang mengerti? Kenapa bukan laki-laki yang menjadi lebih pengertian? Kenapa harus perempuan yang selalu di anggap salah paham?" Fajar tak mengerti mengapa Senja bereaksi sekeras itu. Senja pun tak mengerti bagaimana bisa lelaki yang dipujanya melakukan kebodohan begitu rupa. Dulu ia memaafkan, karena dia pikir Fajar memang tak mencintainya. Tapi mengetahui kenyataan lelaki itu begitu mencintainya, namun hanya menyimpan dan membiarkan Senja membuat keputusan besar dalam keputusasaan, adalah hal yang tak bisa dimaafkan! Tapi"¦"¦ Senja merasa terbentur pada tembok keras. Fajar cintanya. Cuma Fajar.

Mereka saling tatap. Saling melihat cinta begitu besar yang membayang di mata keduanya. "Senja, jawablah." Suara itu tulus, penuh permohonan. Padahal dua orang yang mencintai tak sepatutnya memohon. Seharusnya mereka sudah saling mengerti hanya dengan melempar tatap. Senja memejamkan matanya. Membiarkan sunyi membiaskan tahun-tahunnya yang pucat tanpa warna. Harinya yang tanpa rasa. Cinta teramat besar. Pelan perempuan itu mengangkat dagunya. Tersentak oleh keasingan yang diucapkannya sendiri, "Sesuatu yang terlambat, mungkin memang tak perlu dimulai, Jar!" Maka sunyi membungkus langkah-langkah Senja, dalam baying yang kian mengabur di mata Fajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar