21 Nov 2011

Tafakur Alam : Binatang Buas dan Konsep Ekologi



Tulisan ini nyata setelah diskusi dengan Khairudin Muhammad dan Joko Pebrianto, Senin 21 November 2011.

Diharamkannya binatang buas yang bertaring
Sebagai muslim yang baik sudah barang tentu kita berusaha menjadi insan terbaik dengan mengkonsumsi  makanan yang halal baik dzat maupun  cara mendapatkannya. Salah satu yang akan dibahas adalah mengenai diharamkannya binatang buas dan bertaring. Dalam buku Quraish Shihab menjawab, dijelaskan bahwa Rasulullah mengharamkan
semua binatang buas dan bertaring,


Setiap hewan yang memiliki taring untuk membunuh mangsanya baik hewan itu liar (singa, macan, srigala dll) maupun hewan tersebut jinak (kucing, anjing dll) maka menurut pendapat ulama hal tersebut tidak boleh/diharamkan, berdasarkan dalil-dalil berikut ini :

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Segala jenis binatang buas yang bertaring haram dimakan.” (HR Muslim).

Hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burug yang bercakar tajam.” (HR Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Dan hewan jenis ini, termasuk di dalamnya burung jenis predator seperti elang, gagak, rajawali dan sejenisnya yang memangsa/melukai buruannya dengan cakarnya yang tajam.

Piramida Makanan (Ecological Concept)
Mungkin anda masih ingat pelajaran biologi SMA mengenai rantai dan piramida ekologi. Nah berikut definisi ilmiahnya :
Rantai makanan merupakan bentuk interaksi suatu komunitas dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan. Sdangkan Piramida ekologi merupakan skema tingkat trofik suatu organisme dalam 3 komponen piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi.
Ini dia gambarnya :

Konsep penting dalam piramida ekologi :
Konsep piramida ekologi berkaitan dengan konsep kesetimbangan ekologi
Semakin tinggi tingkatan trofik, maka jumlah dan kelimpahan organismenya berkurang
Semakin tinggi tingkatan trofik, maka efektifitas penyerapan energinya semakin rendah.
Semakin tinggi tingkatan trofik, maka biomassa semakin rendah

Hubungan dengan hadist di atas
Sebagai manusia, kita berusaha mengambil sebanyak mungkin hikmah dari setiap kejadiam alam yang sudah sedemikian rupa diatur oleh sang Pencipta Alam Semesta. Bahwa ada konsekuensi lain dari tekstual hadist diatas yang dapat kita ambil hikmahnya.

Dalam piramida ekologi “......Binatang buas bertaring, dan burung bercakar tajam” berada di posisi tingkat trofik tertinggi. Mereka tergolong predator yang tidak lagi dimangsa oleh predator lain. Sehingga pada tingkat trofi ini memiliki konsekuensi :
1.  Memiliki penyerapan energi yang rendah (hanya sekitar 13% dari energi utama yang diradiasikan matahari), sehingga mengkonsumsi jenis hewan ini tidak akan efektif.
2.  Sebagai tingkat trofik tertinggi, spesies jenis ini memiliki akumulasi toksik dan racun yang terbanyak didalam tubuhnya, sehingga mengkonsumsi jenis hewan ini berbahaya.
3.  Jumlah jenis ini terbatas dibanding tingkatan trofik yang lebih rendah, sehingga mengkonsumsi jenis hewan ini akan mengganggu kesetimbangan ekologi. Akibatnya akan ada kelimpahan organisme tertentu pada tingkat trofik yang lebih rendah.

Diatas baru satu contoh dari hukum islam yang telah ada 14 abad silam. Islam telah dengan sempurna membuat hukum yang tentunya  memikirkan dengan bijak tidak hanya untuk kemaslahatan umat, namun kebaikan alam semesta.

Semoga bermanfaat
Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar