Penalaran Hukum Pengharaman Binatang Buas atas Dasar Konsep Ekologi

(Illustration by EasyDraw)

 

Dasar hukum pengharaman binatang buas

Sebagai muslim yang baik sudah barang tentu kita berusaha menjadi insan terbaik dengan mengkonsumsi makanan yang halal baik dzat maupun cara mendapatkannya. Salah satunya adalah mengenai diharamkannya binatang buas dan bertaring. Dalam buku Quraish Shihab menjawab, dijelaskan bahwa Rasulullah mengharamkan semua binatang buas dan bertaring. Setiap hewan yang memiliki taring untuk membunuh mangsanya baik hewan itu liar (singa, macan, srigala dll) maupun hewan tersebut jinak (kucing, anjing dll) maka menurut pendapat ulama hal tersebut tidak boleh/diharamkan, berdasarkan dalil-dalil berikut ini :

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : "Segala jenis binatang buas yang bertaring haram dimakan.” (HR Muslim).

Hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burug yang bercakar tajam.” (HR Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Dan tentu saja hewan jenis ini, termasuk di dalamnya burung jenis predator seperti elang, gagak, rajawali dan sejenisnya yang memangsa/melukai buruannya dengan cakarnya yang tajam.

Piramida makanan (Ecological Concept)

Mungkin anda masih ingat pelajaran biologi SMA mengenai rantai dan piramida ekologi. Sederhananya, bahwa rantai makanan merupakan bentuk interaksi suatu komunitas dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga terjadi pemindahan energi, elemen kimia, dan komponen lain dari satu bentuk ke bentuk lain di sepanjang rantai makanan. Sedangkan Piramida Ekologi merupakan skema tingkat trofik suatu organisme dalam 3 komponen piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi sebagaimana digambarkan pada diagram berikut:


Inti dari konsep penting dalam piramida ekologi adalah:
  • Bahwa piramida ekologi berkaitan dengan konsep kesetimbangan ekologi
  • Semakin tinggi tingkatan trofik, maka jumlah dan kelimpahan organismenya berkurang
  • Semakin tinggi tingkatan trofik, maka efektifitas penyerapan energinya semakin rendah.
  • Semakin tinggi tingkatan trofik, maka biomassa semakin rendah

Keterkaitan konsep ekologi dengan hadist di atas

Sebagai manusia, kita berusaha mengambil sebanyak mungkin hikmah dari setiap kejadian alam yang sudah sedemikian rupa diatur oleh sang Pencipta Alam Semesta. Bahwa ada konsekuensi lain dari tekstual hadist diatas yang dapat kita ambil hikmahnya.

Dalam piramida ekologi yaitu Binatang buas bertaring, dan burung bercakar tajam berada di posisi tingkat trofik tertinggi. Hewan-hewan tersebut tergolong predator yang tidak lagi dimangsa oleh predator lain. Sehingga pada tingkat trofik tertinggi ini memiliki konsekuensi :

Memiliki penyerapan energi yang rendah (hanya sekitar 13% dari energi utama yang diradiasikan matahari), sehingga mengkonsumsi jenis hewan ini tidak akan efektif bagi tubuh.
Sebagai tingkat trofik tertinggi, spesies jenis ini memiliki potensi terbesar akumulasi toksik dan racun yang di dalam tubuhnya, sehingga mengkonsumsi jenis hewan ini tentu berpotensi membahayakan tubuh.

Jumlah jenis ini terbatas dibanding tingkatan trofik yang lebih rendah, sehingga mengkonsumsi jenis hewan ini akan mengganggu kesetimbangan ekologi yang dapat mengakibatkan fenomena kelimpahan organisme tertentu pada tingkat trofik yang lebih rendah.

Penutup

Penjabaran diatas hanyalah salah satu contoh dari penalaran atas hukum/dalil islam yang telah ada 14 abad silam dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Argumen diatas setidaknya menambah keyakinan bahwa Islam telah dengan sempurna membuat hukum yang tentunya memikirkan dengan bijak tidak hanya untuk kemaslahatan umat, namun kebaikan alam semesta.
Semoga bermanfaat

No comments:

Powered by Blogger.