Suatu Sore Bersama Ahmad Tohari

Pada awalnya saya hanya iseng saja mewacanakan, “ingin rasanya berbincang dan bertemu langsung dengan orang-orang hebat yang saya kagumi, entah dari sisi pemikiran, karakter, maupun karena kecantikan atau kegantengannya.” Berawal dari wacana sederhana itu, bersyukur saya sempat dipertemukan dengan Ahmad Fuadi pada 2010 lalu (penulis novel Negeri 5 Menara), walaupun hanya bertemu dan sempat bertanya dari kejauhan, tetap beruntung mendapat tanda tangan langsung darinya.

Liburan kuliah tahun ini,tepatnya bulan Agustus 2011 saya kembali beruntung mendapat kesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan bapak Ahmad Tohari, salah satu sastrawan terbaik yang juga penulis novel best seller Ronggeng Dukuh Paruk. Pertemuan kami terjadi dalam suatu sore di rumahnya yang sederhana ditemani teh manis dan hidangan ringan yang beliau suguhkan.

Awal Karir

Ahmad Tohari menulis sejak masih duduk di bangku SMA. Beliau mempunyai buku harian khusus untuk menulis kisah hariannya, baik manis maupun pahit, biasanya berupa puisi, artikel, maupun tulisan lain yang tak terdefinisi. Tulisan-tulisannya kala itu merupakan bentuk kemarahan, kritik sosial, maupun keprihatinannya terhadap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

Beliau memulai karir dengan tulisannya yang pertama kali dimuat di harian Suara Merdeka (Koran Jateng) tahun 1971. Karirnya berlanjut setelah novel Ronggeng Dukuh Paruk dimuat di harian Kompas (1981) secara berseri. Setelah selesai dalam cerita berseri Kompas, barulah novel tersebut dicetak hingga sekarang. Bahkan novel tersebut telah diterjemahkan dalam 6 bahasa, termasuk bahasa banyumasan (baca : Ngapak).

Penulis Berkarakter

Beliau mengatakan, tulisan yang baik tidak hanya bersumber dari otaknya saja, namun juga dari hati. Maksudnya, tulisan itu bersumber atas nurani dan pikiran penulisnya. Tulisan yang baik, adalah tulisan yang mampu mengocok pikiran pembacanya, untuk berfikir, merenung, meresapi dan kemudian beropini, setuju atau menolak.

Implikasinya terletak pada penulisnya. Penulis sejati, tentu harus menulis atas dasar nurani dan pikirannya. Atas niat yang ikhlas untuk mencerdaskan dan mendewasakan pembacanya, bukan untuk mencari ketenaran atau kepopuleran semata. Karena tulisan yang abadi tentu bersumber dari hati dan pikiran penulisnya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana memunculkan hati dan pikiran. Jawabannya, berkacalah pada fenomena yang terjadi di masyarakat dan berkacalah pada sisi-sisi yang mengasah kecerdasan social. Kecerdasan social inilah yang akan membawa Anda pada idealisme kebenaran yang sekarang Anda pegang kokoh.

Mendidik Anak melalui Novel

Pesan lain beliau yang disampaikan dengan bahasa banyumas : “Nyong ora gumun maring insinyur sing pinter ngitung utawa lulus cumlaude, tapi kelangan idealism nek dadi wong gedhe”. Maksudnya, beliau tidak kagum terhadap sarjana-sarjana yang pandai dan IPK cumlaude tapi kehilangan idealism saat sudah jadi orang besar, pejabat, dan semacamnya. Cerita menarik dari beliau adalah saat anaknya lulus S1 jurusan Teknik Sipil UGM. Daripada beliau menasehati anaknya dengan omongan, akhirnya beliau menulis novel berjudul Orang-Orang Proyek yang beliau persembahkan untuk anaknya yang ketika itu lulus sarjana teknik sipil.

Alhasil, ketika anak tersebut mendapat tawaran menjadi asisten Staf Ahli proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan kota S dan M. Ia hanya bertahan 3 bulan di proyek tersebut dan menyatakan diri keluar dari permainan kotor penuh intrik, persis seperti yang digambarkan ayahnya (Ahmad Tohari) dalam novel Orang-Orang Proyek. Ia sedih, saat mengetahui, ilmu pengetahuan dikhianati oleh nafsu serakah orang-orang besar. Akhirnya ia memilih menjadi dosen magang di UGM yang hanya bergai kurang dari 1 juta tiap bulan.

“Ini saya anggap keberhasilan saya mendidik anak saya dengan novel.” Kata beliau.

Demikian kiranya cerita singkat pertemuan saya dengan Bapak Ahmad Tohari, semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari cerita ini, khususnya yang bercita-cita menjadi penulis.

Berikut beberapa karya Ahmad Tohari yang saya rekomendasikan untuk dibaca : Bekisar Merah, Kubah, Lingkar Tanah Lingkar Air, Di Kaki Bukit Cibalak , Senyum Karyamin

Comments

BACA JUGA:

PALING POPULER PEKAN INI

Mitos Melangkahi Gamelan

Cerpen oleh AA Navis : Robohnya Surau Kami

Penalaran Hukum Pengharaman Binatang Buas atas Dasar Konsep Ekologi

Cerpen oleh Asma Nadia : Cinta Begitu Senja