21 Agt 2011

Mitos Melangkahi Gamelan



Dalam kaidah ngrumat gamelan, dikenal dengan larangan melangkahi alat musik gamelan. Kata orang-orang terdahulu “ora ilok” atau dalam bahasa sehari-hari pamali. Ada sesuatu yang sepertinya disembunyikan jika kita melangkahi alat musik gamelan jawa. Dan ora ilok ini mengisyaratkan akan adanya bahaya mistis yang mengancam sang pelaku. Betulkah demikian? Lalu saat aku tanya pada orang-orang tua, mengapa tidak boleh melangkahi gamelan. Toh mereka hanyalah benda mati yang tidak memiliki syaraf untuk mengekspresikan bentuk kesakitannya.

Orang-orang tua terdahulu mungkin bukan bermaksud hendak menakut-nakut kita, melainkan ingin agar kita taat asas dan aturan. Hanya saja jurus jitunya dengan mengkaitkannya dengan hal-hal mistis, misal dengan akan datangnya jin penunggu gamelan yang akan marah. Tujuannya, agar kita tidak mempertanyakan hal itu lagi.

Sayangnya, aku tak percaya begitu saja, seperti ada sesuatu yang janggal jika pemikiran orang-orang terdahulu hanya sebatas mitos pada hal-hal mistis. Orang-orang luhur itu pasti punya maksud lain yang lebih mulia dan masuk akal. Dan sepertinya ada distorsi informasi yang tidak diturun-temurunkan terkait aturan tersebut. Yang terdengar hanya larangan melangkahi gamelan, karena mitos ini dan itu.

Suatu hari, saat aku bersilaturahmi ke kediaman salah seorang penyiar radio di Bandung, kami berdiskusi kesana-kemari sampai pada sebuah pertanyaan reflektif. Mengapa ada larangan orang-orang terdahulu untuk melangkahi gamelan? Hasil diskusi kami kira-kira seperti ini.

Seperangkat gamelan terdiri dari berbagai macam alat yang dominansi bahan pembuatnya berupa baja, perunggu atau kuningan (tergantung bahannya). Dapat dibayangkan kiranya jaman dulu saat peradaban teknologi masih sangat terbatas, mereka sudah membuat alat seperti bonang (1 set berjumlah 50-60 pencon), balungan (1 set berjumlah 40-60 bilah), kenong, belum lagi kempul dan gong (1 set berjumlah 10-15 buah) hanya dengan alat-alat tradisional.
Boleh kiranya anda membayangkan lagi saat mereka mulai membakar, menempanya berulang-ulang, membuat bentukan, mengamplas, sampai bagian tersulit yaitu melaras. Menurut cerita, si empu gamelan harus melaras satu persatu wilahan/pencon untuk menghasilkan nada yang selaras. Bayangkan lagi bagaimana gotong royong yang mereka bangun. Harus ada orang yang  mencari kayu bakar sebagai sumber api, harus ada orang yang menjaga api agar tetap membara, harus ada pandai besi yang menempa bahan, orang yang melaras untuk menghasilkan nada yang selaras, dan harus ada orang yang membuat wadah gamelan. Sungguh hasil karya luhur yang dibuat tidak hanya dengan kerja keras dan gotong royong, juga dengan ketulusan dan semangat melestarikan bentuk kebudayaan tanah air. Kami sepakat menyebutnya pahlawan kebudayaan tanah air. Kan “bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya”.

Jika anda menyimak salah satu pernyataanku diatas, bahwa ada maksud mulia dan masuk akal. Maka hasil diskusi kami diatas kiranya menggambarkan kemuliaan dan menjawab pertanyaan mengapa ada larangan melangkahi gamelan. Terkait masuk akal atau tidak, tunggu dulu. Ini hasil diskusi kami berikutnya.

Jika anda pernah melihat seperangkat alat musik gamelan, tentu anda dapat memperkirakan berapa panjang bonang, tinggi balungan, lebar kenong dsb. Jika belum, kira-kira begini. Dimensi panjang, lebar dan tinggi balungan sekitar 1 meter, 0.4 meter, dan 0,3 meter. Sedangkan dimensi bonang sekitar 1,8 meter, 0,6 meter dan 0,3 meter. Bayangkan jika anda sedang melangkahi kotak besi dengan dimensi volume diatas, tiba-tiba anda tesandung dan terjatuh. Beruntung kalau kepala anda tidak membentur wilahan baja/perunggu tersebut. Jadi, maksud lain larangan melangkahi gamelan adalah tanda hati-hati atau tanda bebaya, sebagai upaya preventif dari kecelakaan yang tidak diinginkan.

Hikmahnya adalah jangan memandang sesuatu dari hal normatif saja, buka cakrawala dan pandanglah secara bijak, niscaya selalu ada hikmah dibaliknya.

Jadi, masih percaya mitos?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar