Puisi : Tugu Perjuangan

Hari ini,
Ku lihat padang hijau, luas dan rapi sekali
Telaga ditengahnya, ada semak diantarnya
Orang lalu lalang, Indah damai dihati
Inikah surga buatan manusia?

Dulu,
Aku lihat belantara, kotor dan busuk sekali
Bersama tujuh kawanku, ke-tak imbangan terjadi
Empat orang dari kami mati, diterjang peluru kompeni
Inikah neraka buatan manusia?

Surga yang fana, neraka yang duafa
Maaf, hanya duniaku yang abadi
Surga itu milik mereka yang bebas
Neraka itu milik mereka yang tertindas
Tetap tak ada yang abadi, hanya duniaku saja

Nerakaku boleh hilang
Surga mereka boleh datang
Duniaku jangan
Kalau terjadi, pandai-pandai menghibur diri

Aku dengar, perjuangan t’lah berakhir
Aku rasa, kemenangan t’lah kembali
Aku pikir, kehidupan t’lah abadi
Sayang, tugu itu tak kunjung datang

Walau usia menjelang
Entah dijual atau memang duniaku tak pernah didengar
***

Cisitu Lama, 10 November 2010

Comments

BACA JUGA:

PALING POPULER PEKAN INI

Mitos Melangkahi Gamelan

Cerpen oleh AA Navis : Robohnya Surau Kami

Esensi Sebuah Kebersamaan : Catatan untuk kawan seperjuangan SITH 2009

Penalaran Hukum Pengharaman Binatang Buas atas Dasar Konsep Ekologi