25 Sep 2010

Seruan Bahagia Masa Silam

Malam hari disebuah kamar kecil milik seorang sahabatku, aku memulai cerita ini. Sebuah memori masa lalu yang tak sengaja lewat menginspirasiku membubuhkan tulisan ini pada selembar microsoft word menggunakan laptop milik sahabatku yang lain.Aku menyebut cerita ini ‘seruan bahagia masa SD’.

Masa Sekolah Dasar (SD) menjadi sebuah momentum tak terlupakan bagi sebagian orang, termasuk diriku. Ya, jujur saja. Di SD aku menjadi anak yang orang bilang “pandai”. Aku tidak pernah sekalipun terlewatkan menjadi “juara kelas” disetiap catur wulan. (maklum, murid saat angkatanku hanya 16 orang. 5 putri dan 11 putra). Hampir setiap ajang kompetisi yang mewakili nama sekolah aku ikut. Aku selalu menjadi delegasi sekolah mengikuti ajang kompetisi. Mulai dari dokter kecil, lomba matematika, lomba cerdas-cermat,
kompetisi siswa teladan, sampai lomba senam tingkat kecamatan. Walaupun disana aku bukan yang terbaik, tapi guru-guruku tahu aku telah menampilkan yang yang terbaik. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Aku masuk 5 besar siswa teladan se kecamatan Purwokerto Selatan.(bukan bermaksud sombong)

Masih masa SD. Mungkin ada yang bertanya. Dimana aku bersekolah? Aku bersekolah di SDN 5 Berkoh. Sebuah SD kecil disebuah desa kecil bernama Berkoh. Ini adalah SD yang berdiri kira-kira tahun 70an. Awalnya SD ini hanyalah sebuah bangunan tua yang kemudian disulap menjadi sekolah, begitulah kiranya cerita Bapak aku yang merupakan siswa angkatan pertama SD ini.

Aku masih ingat saat kelas 2 SD ketika kami diajar oleh Ibu Kepala Sekolah (lupa namanya). Beliau pernah meminta murid-muridnya maju dan menceritakan cita-citanya. Ada seorang teman namanya Damog (nama aslinya Indra) mengatakan “aku ingin punya bengkel motor sendiri”. Dan setelah tamat SMP ia bekerja di sebuah bengkel motor. (mungkin inilah awal mau bikin bengkel sendiri). Dan sekarang ia sudah punya bengkel sendiri.

Aku juga masih punya seorang teman. Namanya Lukas. Ia adalah anak keturunan china. Aku lupa apa cita-citanya. Yang jelas ia ingin menjadi pengusaha yang sukses. Lukas adalah seorang yang tabah namun revolusioner. Aku ambilkan contoh. Ia sedikit diremehkan dan dikucilkan teman-temannya saat ia kelas 4 SD. Pernah suatu ketika ia diejek dan diolok-olok teman-teman sekelasnya sampai menangis. Mungkin termasuk aku. Dulu kami sering mengatainya ‘China Loleng’. Sebuah kata yang entah apa namanya. tapi kalau didengar terasa menyakitkan. (maaf Lukas tidak bermaksud menyinggung perasaan).

Namun waktu memperlihatkan kepada kami siapa sebenarnya pengecut itu. Lukas kecil sangat tabah dan bukan pendendam. Walapun pernah sekali, sehari setelah kejadian itu, Ayahnya (seorang photografer) datang kesekolah dan memprotes tindakan kami. Setelah kejaian itu, kami tak berani lagi mengejeknya. Semenjak SMP, karirnya menanjak. Dulu ia sama sekali tidak bisa main bola. Tapi sekarang ia pasti lebih jago main bola daripada orang-orang yang dulu masuk tim bola kelas. Waktu SMA ia mengikuti klub sepakbola di sekolahnya. Sekarang ia kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman.

Bicara masalah bola, SD kami sering bertanding bola melawan SDN 3 Berkoh. (SD sebelah). Ya, SD kami memang bersebelahan, tetapi derajat kami berbeda. SD 3 (disebut SD Lor, karena letaknya disebelah Utara SD kami) sering disebut SDnya orang-orang kaya dan pinter. Sedangkan SD 5 (biasa disebut SD Kidul) ya hanya SD biasa yang hanya untuk orang-orang biasa. Tak heran kalau satu angkatan di SD 3 bisa sampai 30 murid, sedangkan SD 5 hanya 16 murid.

Main bola tanpa berantem bagai sirup tanpa gula. Hampir setiap selesai pelajaran PENJASKES (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan). Kami beradu bola dengan SD Lor. Kadang kalah kadang menang, kalau kalah ada yang tak terima, yah berantem-berantem deh. Malah pernah sampai lempar-lemparan batu.

Wah kalau gara-gara bola berantem antar sekolah. Gara-gara perempuan berantem deh sesama teman sekelas. Aku masih ingat, waktu itu kelas 5 SD. Nah kebetulan aku ditunjuk menjadi ketua kelas (ini kali ketiga aku menjadi ketua kelas). Ada teman namanya Hendro. Dia memang orangnya rada sok-sokan.(maaf Hendro tidak bermaksud menyinggung). Pinter ngomong, pinter nge-les tapi juga pinter pelajaran. Ia pernah mendapat peringkat 5 besar di kelas.

Nah ini gara-gara teman perempuan namanya Lisa. Lisa adalah murid pindahan dari SD N Kranji sejak kelas 4. (bayangkan kalau tak ada dia, murid kami cuma 15). Nah aku digosipkan ‘menjalin hubungan khusus’ dengan dia (berita itu sama sekali tidak benar). Awalnya aku lihat Hendro sedang asyik ngobrol berdua sama Lisa. Entah kenapa, eh tiba-tiba ingin nimbrung obrolan mereka. Hendro malah sewot dan menuduh aku cemburu. Aku balik membalas gosip tak enak itu dengan serbuan mengejek kalau dia suka temen sekelas juga (namanya dirahasiakan). Awalnya ejek-mengejek itu hanya sebatas melayani kepuasan hati. Lama-lama ejekan itu berubah hujatan-hujatan yang tak pantas didendangkan.

Hendro mulai emosi. Iya memajukan badan menunjukkan keperkasaannya (badannya jauh lebih besar dari badanku). Aku pun tak gentar ikut memajukan baddanku. Tiba-tiba, “blugg...!!” sebuah tinjuan terhempas tepat di pipi kiriku. Aku hampir oleng. Namun segera bangkit dan bermaksud membalas serangan lawan, dengan tanpa ragu kulemparkan tinjuan mautku (kalau yang ini agak sedikit lebai) ke arah pipinya. Namun aku gagal mengenainya. Malah ia yang hampir menghempaskan pukulan kedua. Beruntung, Bu Siwi (Guru kelas 5) masuk dan mendapati kami sedang dalam suasana panas usai pertarungan hidup dan mati (ini lebih lebai lagi).

Taulah kiranya apa yang terjadi. Aku si ketua kelas dianggap tidak memberikan contoh yang baik untuk teman-teman. Dan Hendro dianggap telah tidak menghormati pemimpin dengan berani melakukan KDRK (kekerasan dalam ruang kelas). Akhirnya aku dicopot dari jabatan ketua dan digantikan oleh Hendro. Setelah kejadian itu kami bermaafan dan semuanya selesai. Kita berkawan lagi seolah tak ada hal buruk yang pernah terjadi. Malah waktu H-1 Ujian Nasional SMA. Ia datang kerumahku dan “bertanya” mengenai UAN yang akan dilaksanakan besok. Sekarang ia sudah lulus dan sudah membuka usaha Laundry. Kalau Lisa sudah dipinang dan menikah dengan sepupuku. Mereka sudah dikaruniai satu anak. Lebaran kemarin sempat silaturahmi. Ya, aku ‘pangling’. Ia membuka sebuah usaha warung kelontong dirumahnya.

Apa kabar dengan sekolahku? Kini nama SD N 5 Berkoh sudah tidak ada. Kabarnya pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan melebur SD N 5 dan SD N 3 menjadi SD N 2 Berkoh. Sekarang tak ada lagi istilah SD Lor atau SD Kidul. Yang ada hanya sebuah sebutan SD 2 Berkoh. SD yang pernah mengajariku pengalaman bagaimana bertahan hidup dengan keterbatasan. SD yang memberiku nafas pencerahan akan indahnya belajar. SD yang menginspirasi muridnya untuk terus berkarya dan berjuang menjalani terjalnya kehidupan. Indra dengan bengkelnya, Lukas dengan rencana usaha Peternakannya, Hendro dengan usaha Laundrynya, dan Lisa dengan warung kelontongnya.

Terimakasih Ibu-Bapak guruku, Ibu Sri Rejeki (guru kelas 1 dan 3), Ibu Kepala Sekolah (Guru Kelas 2), Ibu Siwi (guru kelas 4 dan 5) , Ibu Rosmiati (Guru kelas 6), Ibu Tati (Guru Agama), Alm Bapak Dasirun (Satu-satunya guru laki-laki SD Kidul), Ibu Fatimah (Guru Olahraga). Dimanapun Ibu-bapak berada murid-muridmu senantiasa mendoakan kebahagiaan atas jasa yang telah engkau berikan pada murid-muridmu, atas pengabdian yang telah engkau lakukan selama ini.

Selamat Berjuang Adik-adikku, Desi Nur Fitri, Qori Misyka Nur Annsia, dan Rizkiana Wahyu Ningsih. Selamat belajar penuh semangat. Doa kakakmu selalu menyertaimu. Kuakhiri cerita ini lewat sebuah perpaduan kata yang membentuk sebuah kalimat;

“Keterbatasan adalah tanda keadilan sang Pencipta agar manusia menyadari hakikat hidup adalah perjuangan”

“Penyesalan merupakan simponi masa silam yang membawa manusia pada sebuah kemajuan pemikiran.”


Terimakasih Guru
(ciptaan Sri Widodo)

Trimakasihku kuucapkan
pada guruku yang tulus
ilmu yang berguna selalu dilimpahkan
untuk bekalku nanti
Setiap hari ‘ku dibimbingnya
agar tumbuhlah bakatku
kan kuingat slalu nasihat guruku
trima kasih kuucapkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar