30 Sep 2010

Esensi Sebuah Kebersamaan (SITH 2009)



Dalam ilmu sosial, manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kepentingan untuk selalu berinteraksi, baik dengan alam maupun manusia lainnya. Sejarah mencatat, selama keberjalanan peradaban dunia. Belum pernah ditemukan satupun makhluk yang hidup sendiri tanpa intera
ksi dengan alam maupun makhluk lain, tak terkecuali manusia. Tumbuhan berinteraksi dengan polinar misal serangga, sebagai bagian dari interaksi ilmiah yang sudah ditakdirkan. Manusia dengan manusia lain berinteraksi dengan membentuk simbiosis. Simbiosis disini merupakan metode manusia untuk survive terhadap manusia lain, maupun lingkungan.
Dalam sistem interaksi, kita mengenal istilah “Stratifikasi Sosial”. Stratifikasi sosial adalah tingkatan/strata manusia dilihat dari sistem yang telah disepakati. Misal, disebuah desa, ada seorang pemimpin yaitu kepala desa. Ada ketua RW, ada ketua RT dan ada rakyat biasa. Mereka bertingkat-tingkat dan memiliki kewenangan maupun haknya sendiri. Jika stratifikasi ditinjau dari suatu interaksi makan dan dimakan, kira-kira begini. Ada produsen, ada konsumen tingkat I, ada konsumen tingkat II, konsumen tingkat III dan pengurai.

Bedanya, pada manusia, stratifikasi sosial merupakan rekayasa dan kesepakatan, sedangkan pada interaksi yang lain, adalah hukum alam yang tak mungkin terbantahkan. Akibatnya, kita sering menjumpai sekumpulan manusia bersatu, berunjuk rasa menuntut diturunkannya kepala desa, atau bupati dari jabatannya. Namun tidak pernah melihat tikus menempati derajat diatas kucing. Belum pernah ada tikus memakan kucing. Ini menunjukkan manusia adalah makhluk cerdas yang pandai menuntut hak dan keadilan.
Filosofi interaksi manusia didasarkan pada suatu kepentingan. Tanpa adanya kepentingan interaksi hanyalah ritual yang menjerumuskan manusia dalam lingkaran rutinitas. Kepentingan antar pelaku sosial sangat beragam, yang terkadang menbuat manusia terjebak pada kon
flik kepentingan. Konflik kepentingan akan selalu ada dalam sebuah keberjalanan interaksi yang membuat hidup memiliki warna, yang membuat kita sadar bahwa kepentingan manusia sangat beragam. Masalahnya adalah, bagaimana mensinkronkan kepentingan
manusia yang beraneka ragam supaya harmonisasi suatu komunitas dipertahankan eksistensi dan esensi kebersamaannya.
Pendahuluan diatas sebagai pengantar membawakan cerita ini. Saudaraku SITH 2009. Kita adalah sekumpulan manusia yang lebih dari satu tahun berinteraksi membentuk komunitas yang telah kita pertahankan bersama. Aku menyebutnya Keluarga. Satu tahun lebih kita menjalani interaksi dengan berbagai konsekuensinya. Memikirkan kesehatan teman yang lain, bersama-sama memikirkan nasib angkatan dibawah kita, bersama-sama membuat acara keakraban untuk menyatukan kita, bersama-sama membuat acara untuk memberikan persembahan terbaik pada kakak-kakak wisudawan, bersama menjalani Program Pengenalan Nymphaea yang penuh dengan dinamika ini. Apakah teman-teman sudah lupa?
Masih ingatkah pertama kali kita mendapat amanah melakukan Upacara Bendera di lapangan Gasibu. Mungkin ini Upacara Bendera Terakhir kita, dan Upacara Bendera ini kita lalui bersama keluarga baru kita saat itu. Masih ingatkah teman-teman saat menjalani diklat panjang OSKM, harus bangun setiap pagi, mengikuti diklat divisi maupun terpusat, ya, walaupun badan letih kita tetap happy. Saat itu teman-teman Taplok khawatir, kalau diklat yang selama ini dilakukan sia-sia karena kita tidak diijinkan berinteraksi oleh pihak rektorat. Saat itu Keluarga kita bersama sahabat-sahabat ITB melawan ketidak adilan itu. Dan kita menang. Lewat sebuah Kebersamaan.
Masih ingatkah ketika ada dari sebagian teman kita yang menjalani matrikulasi PPN karena satu dan lain hal. Teman-teman yang telah lulus dimintai pertanggung jawabannya untuk membantu teman kita yang sedang berjuang. Dan teman-teman yang telah lulus dengan ikhlas membantu, mereka berjuang bersama mempertahankan keutuhan Keluarga SITH 2009. Tak ada yang ingin seorangpun lepas dari keluarga kita. Jika teman kita kesusahan, kita ikut sudah dan berjuang bersama melewati kesusahan itu. Dan hasilnya, teman-teman yang telah kita bantu semoga mendapat manfaatnya. Ini adalah efek dari sebuah Kebersamaan.
Masih ingatkah ketika kita ditanya, “apakah kalian sudah kompak?”. Saat itu kita masih ragu menjawab, ya. Namun kita selalu optimis atas kekompakan kita. kita sepakat akan terus meingkatkan kekompakan dan kebersamaan kita. Dan saat itu keluarga kita dibanggakan oleh pemimpin dalam stratifikasi sosial Nymphaea, kak Gibran menyatakan keluarga 2007, keluarga 2008 iri dengan keluarga kita 2009. Kita adalah keluarga yang dikagumi karena kita mendapatkan segala pendidikan dan pembelajaran yang tidak mereka dapatkan. Mereka menaruh harapan besar kepada kita. Harapan meneruskan cita-cita mulia Himasith Nymphaea.
Namun, dalam sebuah even “Live in” sebagai rangkaian program Desa Binaan Himasith Nymphaea. Eksistensi dan esensi kebersamaan kita dipertanyakan. Kebersamaan kita diragukan. Aku hanya bisa menjawab, kita punya konflik kepentingan disini. Banyak teman-teman kita yang tidak bisa hadir karena memiliki prioritas masing-masing. Namun aku yakin, orang yang tidak ikut, bukan berarti mereka tidak memprioritaskan keluarga SITH. Hanya saja saat ini, mereka belum memiliki kesempatan untuk berjuang bersama kita dalam barisan terdepan Pengabdian Masyarakat Nymphaea.
Justru aku ingin bertanya kepada yang teman-teman yang ikut. Apakah kita mengikuti pengabdian masyarakat ini hanya untuk menjalani ritual karena tuntutan tugas Nymphaea? Kalau iya, teman-teman telah masuk dalam lingkaran rutinitas yang mengerdilkan pemikiran. Untuk itu, mari kita luruskan niat kita. Karena bisa jadi, teman-teman kita yang tidak ikut pengabdian masyarakat saat ini. Memiliki planning jauh lebih besar terkait pengabdian masyarakat.

Kebersamaan itu ibarat ompol dalam celana, orang lain hanya bisa melihat, namun kita yang merasakan kehangatannya”

Jika kita yakin kita satu keluarga. Andai kita sepakat kita satu SITH. Kita akan mempertahankan kebersamaan kita. Namun sekali lagi. Kebersamaan itu hanya kita yang merasakannya.
Terimakasih kepada kakak-kakak yang telah menurunkan ilmu dan amanahnya kepada kita. Semoga kita dapat menjalaninya dengan ikhlas, totalitas dan semangat juang. Disana kita punya kepentingan bersama, Kepentingan untuk mengabdi kepada sesama. Mari bersama lakukan yang terbaik. 

Desa Binaan Nymphaea, untuk Peradaban Indonesia lebih baik.”

2 komentar:

  1. menarik banget tong..
    10 jempol..

    BalasHapus
  2. thax tong... ayo PKM kita selesaikan. dapat ilham ni dari live-in kemarin. :)

    BalasHapus