2 Feb 2010

Cerpen : Suara Hati Kakek Pejuang

 
-->

            Aku masih berdiri. Seperti biasa. Menatap sejuknya sore di usia senjaku. Sendiri, ditemani bunyi daun-daun yang bergesek tertiup angin. Semilirnya mengalahkan segala kesejukkan yang pernah ada. Kesendirianku hanya ditemani harum asap rokok cap Wahid yang tersimpan dirumahku. Eh salah, Gubuk maksudku. Karena memang tempat itu tak semewah Istana Merdeka, tak juga semegah Istana Negara. Tapi lumayanlah. Cukup untukku tidur dan memimpikan kenangan indah hidupku. Juga melakukan segala aktifitas harianku sebagai seorang manusia. Mungkin rumahku yang aku sebut gubuk itu tak lebih layak dari perkuburan seorang pahlawan yang aku dengar meninggal minggu lalu. Eh lupa, maksudku pahlawan yang masih dipertentangkan status kepahlawanannya. Aku dengar ia dipertentangkan orang yang pro dan kontra atas jasa yang ia berikan pada negeri ini. Ada yang bilang pantas, karena jasanya mendamaikan sengketa
negeri. Ada yang bilang ia seorang koruptor, jadi tak pantas menyandang gelar pahlawan. Ah, persetan. Yang penting aku masih hidup dan punya KTP. Jadi, aku masih diakui status kewarganegaraannya.
            Bicara soal Negara diusia senjaku. Aku teringat jaman perang dulu. Jaman-jaman penderitaan jaman kegilaan orang-orang imperialis. Penindasan, kejahiliahan, dan korban kekejaman. Perikemanusiaan dikorbankan. Rakyat diperbudakkan. Ah, pokoknya penjajah itu menginjak-injak harga diri bangsa ini. Beruntung aku punya bapak yang cinta tanah air. Coba dulu bapakku tak menyuruh masuk barisan PETA. Mungkin aku hanya jadi benalu perjuangan saja. Bagaimana orang-orang dulu tidak cinta. Mereka ditindas, mau tak mau harus membela dan terpaksa cinta tanah air. Jadi jangan dipikir anak muda jaman dulu mau maju perang. Banyak dari mereka pengecut . sampah peradaban, benalu perjuangan. Menambah beban para pejuang. Beda dengan pemuda jaman sekarang. Semangat bekerja. Ikhlas membangun bangsa. Ikhlas cinta tanah air. Bahu-membahu membangun negeri. Kemakmuran pemuda jaman sekarang terjamin. Buktinya aku sering melihat mereka bernyanyi riang di bus-bus kota. Tandanya mereka sudah makmur hidupnya. Iya kan??
            Pertanyaan pertama kakek tua hanya saya jawab dengan senyuman.
            Aku masih sendiri. Kembali menatap indahnya mentari sore diusia senjaku. Aku piker mentari kelelahan menemani kesendirianku. Terlihat dari sengatan hangatnya yang kian surut. Pancarannya semakin teduh. Terus condong kebarat dan sebentar lagi hilang ditelan rimbunnya pepohonan gunung. Tapi aku masih kuat berdiri. Sedikit bersenang-senang menyulut sebatang rokok Wahid kesgemaranku. Walau tak sedap lagi. Maklum, lidahku sudah tak bias merasakan apa-apa lagi. Kecuali pahit dan hambar. Tapi aku senang! Seringkali dalam kesendirianku. Kulihat beramai-ramai orang mendatangiku. Diantara mereka ada yang membawa kamera. Sinar flashnya terkadang menyilaukan mata. Ada pula yang membawa kotakkan semacam tape recorder yang mereka sodor-sodorkan kemulutku. Mungkin mereka kira aku kelaparan. Padahal aku yakin. Jaman sekarang ini tak ada lagi orang kelaparan. Mereka yang datang selalu mengerubutiku. Bertanya-tanya tentang kejadian-kejadian masa lalu. Masih dalam lamunanku. Aku membayangkan, sedang bercerita banyak soal jaman penjajahan dulu.
            Salah seorang dari mereka bertanya.
            “Apakah Anda seorang pejuang?”
            Yang ini aku lupa menjawabnya. Yang jelas dulu bapak menyuruhku ikut barisan pembela tanah air. Dilatih bertempur, dikasih mainan macam senapan. Ikut berperang bersama Pak Iman -panggilan akrab Jenderal Soedirman- sampai ke Ambarawa. Aku sendiri tak tahu arti pejuang.
            Masih dalam bayanganku, aku ceritakan kepada mereka tentang pemikir-pemikir nasib bangsa. Mengenai konseptor-konseptor negeri. Seingatku saja. Coba dulu tak ada pemikir-pemikir seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, Kasman dan kawan-kawannya. Mungkin negeri ini tak kunjung meneriakkan euphoria kemerdekaan. Beruntung, disela-sela pemuda jaman dulu yang malas. Ada orang-orang yang rela memikirkan bagaimana mewujudkan cita-cita luhur bangsa ini. Kalau tak ada mereka. Tak tahu kapan negeri ini akan merdeka. Jadi jangan kalian piker anak muda jaman dulu semua memikirkan nasib bangsa. Beda dengan pemuda-pemuda jaman sekarang. Mereka pemikir-pemikir sejati. Buktinya anak-anak sekolah saja masih sempat berkumpul diterminal, bergerombol mendiskusikan sesuatu sebelum waktu sekolahnya. Mereka pasti mendiskusikan banyak untuk negeri ini kan? Aku yakin itu.
            Saya kembali tersenyum kecut mendengarnya.
            Tetap dalam kesendirianku. Suatu sore diusia senjaku. Menanti datangnya sepi. Bersama kicau burung Parkit yang terbang melintas di atas kepalaku. Beramai-ramai pulang ke sarangnya. Membawa makan untuk anak-anak yang seharian ditinggalkannya. Aku lihat lagi segerombol burung Kunthul terbang membentuk barisan solid seperti huruf V. Mereka pergi kearah barat tapi tertiup angin hingga arahnya berubah haluan sedikit serong ke barat laut. Kulihat burung paling depan kelelahan, lalu digantikan oleh teman belakangnya. Yang samping juga, kemudian diganti oleh teman belakangnya. Begitu seterusnya. Jika melihat burung yang kelelahan, yang lain akan segera menggantikan posisi temannya. Kompak. Sungguh barisan yang sempurna. Pemandangan yang mengingatkanku akan kekompakan pasukan perang jaman dulu. Mereka tak rela kalau melihat temannya menderita. Mereka akan lebih suka dirinya syahid di medan perang demi melindungi temannya.
            Melihat gerombolan tadi, aku jadi ingat geromblan manusia yang tadi menanyaiku. Diantara mereka ada yang bertanya:
          
  “Anda pernah ikut barisan perang apa saja?”
            Waduh, lagi-lagi aku lupa jawabnya. Pokoknya aku dulu ikut barisan Pembela Tanah Air. Seperti yang sudah aku ceritakan. Disana cuma disuruh-suruh. Aku disuruh lari keliling lapangan sebelah terminal itu.  Merayap dengan dada telanjang melewati jalan lumpur seberang kali, perutku diinjak-injak dengan sepatu mirip PDL yang keras. Push up jadi makanan sehari-hariku. Orang bilang aku dididik teknik perang. Kantanya sih latihan militer. Tapi sungguh-sungguh melelahkan waktu itu. Pokoknya yang namanya cinta tanah air itu menyita waktu. Menghirup banyak tenaga dan menguras kinerja otak. Aku sih dulu ikut-ikutan saja, dipaksa bapakku. Yang aku bingung. Walaupun sudah tiga tahun disuruh-suruh seperti itu. Badanku tetap saja kurus krempeng. Tak ada keren-kerennya sedikitpun. Beda seperti pemuda jaman sekarang. Rata-rata dari mereka berbadan besar, tegap, dan gagah sekali dipandang. Mungkin ini relevan dengan kemakmuran para pemuda jaman sekarang. Sering aku lihat mereka yang berbadan besar berjaga-jaga di sepanjang pasar. Menyantuni para pedagang, mereka mendatangi pedagang itu dua kali sehari. Pagi dan sore. Mereka pasti pemuda-pemuda utusan pemda yang bertugas menertibkan pasar. Kalau penjaga pasar saja berbadan segagah itu, bagaimana para militan. Pasti lebih gagah dan lebih berani. Indonesia sudah maju sekarang ya? Buktinya pemda sampai memperhatikan sejauh itu hal yang aku anggap kecil itu.
            Oh kakek tua yang malang, itu bukan utusan pemda. Tapi preman…
            Kali ini aku duduk, senja telah benar-benar mengalahkanku. Langit kemerahan yang giliran menemani usia senjaku. Masih dengan khayalan kalbuku. Melintasi cakrawala jaman. Seiring dengan itu, nadiku berdegup pelan. Teratur, malah sangat teratur. Seperti gumpalan awan langit yang mengiringi kepergian sore ini. Bulan sabit tampak muncul dari ufuk timur. Ini awal bulan Ramadhan. Oh iya, hari ini sabtu sembilan Ramadhan. Hari paling bersejarah buat bangsa ini.

            “Selamat ulang tahun negeriku”


Mungkin banyak orang tak percaya padaku. Tapi percayalah. Hari ini benar-benar hari itu. Sudahlah. Sudah barang tentu tak ada orang yang mau percaya omongan orang tua seperti aku. Mungkin, aku sudah terlalu senja untuk memikirkan negeri ini. Pikiranku sudah terlalu kolot. Toh, negeri ini sudah jauh lebih maju dari jaman dulu. Biarlah giliran pemuda-pemuda gagah itu yang berpikir. Merekalah yang akan bahu membahu membangun peradaban bangsa ini. Biarlah aku sendiri disini, menanti saat-saat teraakhir ujung nafasku. Cukup tenang jiwa ini merelakan kepasrarahan negeri ini ditangan pemuda-pemuda jaman sekarang.
***
            Tiba-tiba seorang lelaki muda bertubuh tambun datang menghampiri kakek tua itu. Sesegera ia menjewer telinga kakek. Kakek tua itu menunduk mengimbangi tubuhnya yang hampir jatuh. Terdengar teriakan keras.
            “Ayo pulang kek…! Sudah malam…!!”
Teriakan seperti itu hanya terengar lirih seperti bisikan oleh kakek tua itu. Kakek tua yang kaget, langsung meraba pohon pinus disampingnya. Mengambil tongkat pemandu yang membantunya berjalan. Ini akibat bom sekutu yang pernah mengenai tempat persembunyiannya waktu perang dulu. Sejak saat itu, pendengaran kakek terganggu. Matanya rabun tak berpandang.
            “Sudah pulang cucuku. Dapat banyak hari ini?”
            “Cukuplah untuk makan malam ini dan sarapan esok pagi”
            “Alhamdulillah… Kemana saja kau hari ini?”
            “Biasa kek. Tadi pagi bareng anak-anak sekolah diterminal. Dapat setoran cukup banyak dari mereka. Siangnya di bus-bus kota. Terus sorenya menemani Bang Pi’I narikin jatah pedagang di pasar Glempang.”
Lelaki muda itu mengambil gitar betot yang baru saja ia selehkan di pohon pinus kemudian menentengnya di tangan kirinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memandu kakeknya berjalan.
            “Mari kita pulang…”

Bandung, November 2009

2 komentar: