8 Feb 2010

Refleksi Seorang Mahasiswa



Masuk gerbang Kampus Ganesha menjadi harapan tertinggiku satu tahun lalu. Institu Teknologi Bandung menjadi sebuah mimpi tempat singgahku satu tahun lalu. Bermain bersama anak BIUS terasa berkabut kala itu. Satu tahun lalu, saat foto wajah ‘imut’ku terpampang di ijazah SMAku. Satu tahun lalu, saat sepeda ontel menemaniku bersama seragam putih abu-abuku yang lusuh. Tapi kini semua terasa mimpi, enam bulan sudah aku lewati jalan terjal kuliah di institut terbaik yang dimiliki bangsa ini. Satu semeter sudah lewati proses pembelajaran di Institut Impianku satu tahun silam. Kampus ITB.
Refleksi pembelajaranku kiranya tak cukup aku tuliskan di selembar note bertuliskan kata ayal ini. Tapi aku coba menjelaskan, minimal memaparkan pengalamanku satu semester ini. Tentunya aku jelaskan dengan kata-kataku sendiri.
Kesan pertama pertemuan dengan Dosen ITB.
1. Briliant
Aku lihat hampir semua dosen ITB diligent, cerdas, dan briliant otaknya. Buktinya mereka sanggup menurunkan rumus-rumus lewat teknik-teknik integrasi yang rumit. Rumit aku katakan, karena disitu tertulis ‘cacing-cacing’ yang entah dari mana asalnya. Pendapat ini aku perkuat dengan kelebihan dosen ITB yang hampir semuanya pernah melanjutkan studi di luar negeri. (Tentunya orang-orang cerdas saja yang mampu belajar sampai keluar negeri). Tapi ada sisi kurang baik dari dosen-dosen ini. Kadang pinternya mereka hanya untuk mereka sendiri. Beliau-beliau kurang bisa menularkan atau bahkan sekedar mentransfer ilmu mereka kepada mahasiswa. (ah, atau aku saja yang bodoh dan tak mau memperhatikannya).
2. Scary
Aku katakan sebagian saja Dosen ITB yang “menakutkan”. Misal, jika terlambat lebih dari 5 menit. Tak boleh ikut kuliah. Ada juga Dosen yang jika beliau sudah masuk ruangan, tak ada mahasiswa lagi yang boleh masuk. Anak-anak sering memanggilnya dosen killer. Argumen dosen paling-paling . “Ya untuk melatih kedisiplinan kalian. Kalian tahu, kenapa bangsa ini tak kunjung maju? Itu karena ada orang-orang seperti kalian yang tak menghargai waktu. Orang-orang di luar negeri sana sangat menghargai waktunya. Jangankan terlambat, datang tepat waktu saja sudah memalukan bagi mereka.” Kalau dosen sudah bicara demikian paling-paling kami jawab. “Iya pak...”. tapi kenyataanya aku masih sering terlambat. Eh bukan sering, hampir tiap hari malah.

Kesan pertama pada Matakuliah:
Biasa
Awalnya saya merasa pelajaran di TPB ini biasa. Seperti belum ada getar-getir keresahan yang berarti. “Ah, kalkulus 1B. Kan udah pernah di ajarin Mas Imam. Gampanglah...Kima? Udah ada Pak Ook (Guru Kima SMA N 1 Purwokerto) yang dulu ngajarin banyak banget soal menyoal unsur, reaksi-reaksi kima dan bla-bla-bla. Kimia mudahlah... Fisika? Paling-paling cuma belajar pelajarannya Pak Newton (Apel jatuh dari pohon) atau Archimedes (Berendam di air seharian). Kecillah...TTKI? paling-paling belajar nulis ejaan yang benar. KPIP? Kan cuma konsep-konsep ilmu pengetahuan. Anak ITB pasti udah jago. PTI? Tiap hari juga hubungan ama Komputer. Semua mudah tak jadi masalah...” .
Lambat laun, proses pembelajaran itu berajalan seiring berdetaknya waktu. Hari demi hari aku lewati. Kesanku pada pelajaran di ITB ini masih Biasa. Biasa aku menghabiskan waktu belajar dengan teman-temanku. Walaupun jujur, belajarku tak sesering dan seserius dulu. Dulu saat seragam putih abu-abu melingkari tubuhku. Mungkin ini yang orang-orang sebut MAHASISWA. Sekarang, Aku malah lebih banyak bermain. Menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak berhubungan dengan pelajaran kuliah. Sampai habis masa satu semester. Kendalaku masih sama. Aku tak sesemangat dulu. Atau mungkin kini orientasiku beda. Seorang MAHASISWA punya tanggung jawab lebih. MAHASISWA yang dipundaknya telah terpatri janji-janji dan harapan-harapan rakyat negeri yang menanti uluran karya-karyanya. Apakah seperti itu? Entahlah, aku sendiri tak tahu. Yang jelas kini aku belajar menyeimbangkan. Antara kuliah dan aktifitas kemahasiswaanku.
Saat-saat seperti inilah, mulai ada kesulitan menghadapi matakuliah yang aku sombongkan itu. UTS 1 fisikaku sangat memalukan. UTS 1 KPIPku tak sangup melampaui angka 6.5. UTS 2pun demikian, banyak nilai yang sepertinya takku harapkan. Ini serius, aku terlalu meremehkan pelajaran itu. Sampai saat-saat mendebarkan itu tiba. Yang dibarengi dengan liburan panjang sebulan waktu itu. Betapa terkejut diriku, saat kubuka situs ol.akademik.itb.ac.id. Ya Allah. Inilah keadilanMu. Tak ada hasil baik tanpa kerja keras. Walaupun kerja keras yang tak dibarengi doapun percuma. Aku telah melupakan ungkapan, “lebih baik latihan perang dengan berlumuran keringat daripada saat perang berlumuran darah”. Aku telah mengecewakan kedua orang tuaku.
Ya Allah... Ampuni hambamu yang sombong ini. Ampuni hambamu yang terkadang mengumpat pada Dosen-dosen kami. Dosen yang seharusnya kami hormati, kami hargai. Ampuni juga hambamu yang tak mau mendengar nasihat-nasihat dosen hamba. Hambamu yang terlalu percaya diri, sehingga lupa bahwa semua Ilmu itu datang dari Engkau ya Allah. Engkau yang berhak menambah atau mengilangkan ilmu yang semua bersumber dari-Mu.
Kini kumulai lagi lembaran baru kehidupan di kampus ganesha. Menapaki jalan terjal yang terus menghadang. Halangan yang selamanya merintang. Dengan ucapan “Bismillah”, akan kucoba jalani lembaran semester dua ini dengan lebih baik. Amin..

Bandung, 8 Februari 2010

2 komentar: