Refleksi Seorang Mahasiswa Baru Kampus Gajah

(Illustration by Rizky)

Masuk gerbang Kampus Ganesha menjadi harapan tertinggi saya satu tahun lalu. Institut Teknologi Bandung menjadi sebuah mimpi tempat singgah baru. Bermain bersama anak penerima Beasiswa ITB Untuk Semua (www.itbuntuksemua.com) terasa berkabut kala itu. Satu tahun lalu, saat foto wajah ‘imut’ saya terpampang di ijazah SMA. Satu tahun lalu, saat sepeda ontel menemani saya bersama seragam putih abu-abuku yang lusuh. Tapi kini semua terasa seperti mimpi, enam bulan sudah saya lewati jalan terjal kuliah di institut terbaik yang dimiliki bangsa ini. Satu semeter sudah lewati proses pembelajaran di Institut Impian saya setahun silam. Kampus ITB.

Refleksi pembelajaranku kiranya tak cukup saya tuliskan di selembar note bertuliskan kata ayal ini. Tapi akan coba saya jelaskan minimal pengalaman satu semester ini.

Kesan pertama pertemuan dengan Dosen ITB.

1. Briliant

Saya lihat hampir semua dosen ITB itu diligent, cerdas, dan briliant otaknya. Buktinya mereka sanggup menurunkan rumus-rumus lewat teknik-teknik integrasi yang rumit. Rumit bagi saya, karena disitu tertulis ‘cacing-cacing’ yang entah dari mana asalnya. Pendapat ini saya perkuat dengan kelebihan dosen ITB yang hampir semuanya pernah melanjutkan studi di luar negeri. (Tentunya orang-orang pandai dan berkesempatanlah yang mampu belajar sampai keluar negeri). Tapi ada sisi kurang baik dari dosen-dosen ini. Kadang pinternya mereka hanya untuk mereka sendiri. Beliau-beliau kurang bisa menularkan atau bahkan sekedar mentransfer ilmu mereka kepada mahasiswa. (ah, atau saya saja yang bodoh dan tak mau memperhatikan matakuliahnya).

2. Scary

Saya katakan sebagian saja Dosen ITB yang “menakutkan”. Misal, jika terlambat lebih dari 5 menit. Tak boleh ikut kuliah. Ada juga Dosen yang jika beliau sudah masuk ruangan, tak ada mahasiswa lagi yang boleh masuk. Anak-anak sering memanggilnya dosen killer. Argumen dosen paling-paling . “Ya untuk melatih kedisiplinan kalian. Kalian tahu, kenapa bangsa ini tak kunjung maju? Itu karena ada orang-orang seperti kalian yang tak menghargai waktu. Orang-orang di luar negeri sana sangat menghargai waktunya. Jangankan terlambat, datang tepat waktu saja sudah memalukan bagi mereka.” Kalau dosen sudah bicara demikian paling-paling kami jawab. “Iya pak...”. tapi kenyataanya saya masih terus-terusan terlambat. Lebih tepatnya ketagihan. Hehe..

Kesan pertama pada Mata kuliah

Awalnya saya merasa pelajaran di TPB ini biasa. Seperti belum ada getar-getir keresahan yang berarti. “Ah, kalkulus 1B. Kan udah pernah di ajarin Mas Imam. Gampanglah...Kimia? Udah ada Pak Ook (Guru Kima SMA N 1 Purwokerto) yang dulu ngajarin banyak banget soal menyoal unsur, reaksi-reaksi kima dan bla-bla-blanya. Kimia mudahlah... Fisika? Paling-paling cuma belajar pelajarannya Pak Newton (Apel jatuh dari pohon) atau Archimedes (Berendam di air seharian). Kecillah...TTKI? paling-paling belajar nulis ejaan yang benar. KPIP? Kan cuma konsep-konsep ilmu pengetahuan. Anak ITB pasti udah jago. PTI? Tiap hari juga hubungan ama Komputer. Semua mudah tak jadi masalah".

Namun, lambat laun proses pembelajaran itu berajalan seiring berdetaknya waktu. Hari demi hari saya lewati. Awalnya pelajaran di ITB ini masih Biasa. Saya seperti cukup menghabiskan waktu belajar sedikit saja, itu pun bareng teman-teman. Beda ketika dulu SMA, saat seragam putih abu-abu melingkari tubuh, intensitas belajarku saat ini berkurang. Mungkin ini ya rasanya menjadi mahasiswa. Sekarang, saya malah lebih banyak bermain. Menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak berhubungan dengan pelajaran kuliah.

Sampai habis masa satu semester. Kendalanya masih sama. Saya tak sesemangat dulu. Atau mungkin kini orientasi saya yang berbeda. Seorang mahasiswa punya tanggung jawab lebih. Mahasiswa yang dipundaknya telah terpatri janji-janji dan harapan-harapan rakyat negeri yang menanti uluran karya-karyanya. Apakah benar seperti itu? Entahlah, saya sendiri tak tahu. Itu cuma kata-kata yang sering saya dengar dari senior-senior saya di kampus. Yang jelas kini saya coba belajar menyeimbangkan. antara kuliah dan aktifitas kemahasiswaan.

Saat-saat seperti inilah, mulai ada kesulitan menghadapi matakuliah yang awalnya saya sombongkan itu. Ulangan Tengah Semester (UTS) 1 fisika sangat memalukan. UTS 1 KPIP tak sangup melampaui angka 6.5. UTS 2 pun demikian, banyak nilai yang sepertinya tak saya harapkan. Ini serius, ternyata saya terlalu meremehkan matakuliah-matakuliah TPB.

Sampai saat-saat mendebarkan itu tiba. Betapa terkejutnya saya, saat membuka situs ol.akademik.itb.ac.id. Ya Allah. Inilah keadilanMu. Katanya hasil tak akan menghianati usaha. Tak ada hasil baik tanpa kerja keras. Walaupun kerja keras yang tak dibarengi doapun percuma. Saya telah melupakan ungkapan, “lebih baik latihan perang dengan berlumuran keringat daripada saat perang berlumuran darah”. Saya telah mengecewakan kedua orang tua.

Ya Allah... Ampuni hambamu yang sombong ini. Ampuni hambamu yang terkadang mengumpat pada Dosen-dosen kami. Dosen yang seharusnya kami hormati, kami hargai. Ampuni juga hambamu yang tak mau mendengar nasihat dan ilmu para dosen. Hambamu yang terlalu percaya diri, sehingga lupa bahwa semua Ilmu itu datang dari Engkau ya Allah. Engkau yang berhak menambah atau mengilangkan ilmu yang semua bersumber dari-Mu.

Akhir kata, kini saya berjanji akan memulai lagi lembaran baru kehidupan di kampus ganesha dengan lebih baik. Menapaki jalan terjal yang terus menghadang. Halangan yang selamanya merintang. Dengan ucapan “Bismillah”, akan saya usahakan menjalani lembaran semester dua ini dengan lebih baik.

Bandung, 8 Februari 2010

2 comments:

Powered by Blogger.