2 Feb 2010

Cerpen : Para Penggodeng

-->
              Lelaki bekumis tebal penuh jambang itu duduk bersila di dalam sebuah lorong Goa Loreng. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit mengucap mantra-mantra. Kekar tubuhnya seolah tak peduli kepulan harum asap kemenyan yang menyembul dari tungku saktinya. Ia melipat kedua tangannya ke depan seraya mendekapkan kedua telapak tangannya di atas dadanya yang busung. Kopyah blangkon hitam di kepalanya menambah kengerian sosok Mbah Godeg.
            “  Huahahaa…hahaa..kk.” Menggelegar tawa khas Mbah Godeg saat kuping saktinya mendengar Sarkim, ajudannya masuk mulut goa bersama sekawanan orang.
            “Pasienku datang.” Gumamnya.
     
       “Huahahaa…hahaa..k.” goa kembali berdengung.
            Sarkim bersama ketiga orang itu masuk. Berjalan beriringan melewati batuan goa. Gelap. Mereka terus berjalan sampai pada suatu lorong. Mulut lorong itu sempit, hanya cukup masuk seorang saja. Di dinding lorong telah tersedia obor sebagai penerang. Obor memang sengaja disediakan sebagai penerang para pasien yang ingin menemui Mbah Godeg di ujung lorong. Mereka berempat masuk satu demi satu. Sarkim paling depan. Sementara itu Mbah Godeg masih memejamkan kedua matanya sambil komat-kamit mengucap mantra-mantranya.
            Mereka sampai ujung lorong.
            “Sendiko dawuh mbah…Saya bawa pasien baru.” Sarkim sembah sungkem.
            Mbah Godeg membuka matanya.
            “Huahahaa…hahaa..k.” tawanya keluar bersama gigi ompong Mbah Godeg.
            “Siapa Mereka?”
            Pasien 1 memperkenalkan diri.
            “Saya Sastro mbah. Empat puluh lima tahun. Buruh pabrik gula aren”
            “Apa maumu?” Tanya Mbah Godeg.
            “Saya mau bos pabrik gula aren mati mbah.” Pasien 1 menyahut.
            “Apa Alasanmu?”
.           “Dia telah mempermalukan saya dimuka umum mbah. Dia menginjak-injak harga diri saya. Seminggu yang lalu saya dipecat gara-gara hal yang sangat sepele. Itupun bukan sebenarnya bukan saya yang melakukan. Tapi ia tak mau tahu, lalu sebelum saya dipecat, saya diusir secara paksa dan diperlakukan seperti binatang! Saya mau bangsat itu mati hari ini juga!”  pasien 1 terbakar.
            “Huahahaa…hahaa..kk.! Apa imbalanmu?”
            “Saya punya lima ekor kambing. Tiga ekor untuk mbah.” Sahut pasien 1  tegas.
            “Huahahaa…hahaa…kk!” Mbah godeg tertawa lagi.
            “Keinginanmu terkabul…”
            Mbah Godeg meneplikkan jari-jarinya. Menimbulkan bunyi keras seperti bunyi pecutan. Tak lama berselang, lima algojo muncul beriringan. Mereka berdiri berjejer rapi di samping Mbah Godeg. Mereka adalah; Sarti yang dijuluki Kanthil Maut. Paras cantiknya membuat setiap lelaki terkesima. Namun dibalik kecantikannya tersimpan darah dingin seorang pembunuh. Di sebelah Sarti ada Baseng, si Pedang Setan. Pedang yang dimilikinya telah membunuh lebih dari seratus orang korban. Kemudian Rasiman, mendapat julukan Singa Pasar. Dia memang pembunuh spesialis dikerumunan. Maksudnya, seramai apapun kerumunan orang. Targetnya pasti kena dan pasti mati di tempat.
           
“Huahahaa…hahaa..kk.!” Mbah Godeg tertawa membanggakan.
            Lalu ada Sarwin si Gadil Iblis. Ia terkenal pembunuh paling sadis. Ia selalu membunuh korbannya dengan cara menggigit leher hingga putus urat sarafnya. Yang terakhir Mondol, kelincahannya dalam membunuh dan selalu meninggalkan jejak berupa cakar. Membuatnya dijuluki Cakar Celeng.
            “Perkenalkan! Merekalah para Penggodeng! Huahahaa…hahaa..kk!” Mbah Godeg memperlihatkan gigi ompongnya. Lalu menyuruh pasien 1 memilih penggodeng yang ia sukai.
            “Penggodeng Mondol…” Sahut pasien 1.
            Seketika itu si Cakar Celeng memperlihatkan kebolehannya. Ia mengambil sebatang bambu. Meremas dan mencengkramnya kuat-kuat sampai bambu itu berantakan tak berbentuk.
            “Pergilah! Tunggu kabar esok pagi. Kau akan dengar Bosmu tewas dengan luka cakar disekujur tubuhnya. Huahahaa…hahaa..kk!” Tawa Mbah Godeg kembali menggelegar mengiringi kepergian pasien 1.
***
            Pasien? Kenapa pula orang-orang yang datang itu mereka sebut pasien? Apa karena mereka yang datang adalah orang-orang sakit hati, dendam, dan sembuh apabila dendamnya terbalaskan? Entahlah.
            Sekarang giliran pasien 2 mengutarakan maksud kedatangannya. Tanpa basa-basi ia mengemukakan tujuannya datang. Pasien 2 ingin juragan Katro, orang terkaya di kampung itu meregang nyawa. Ia malah minta sore ini juga. Masalahnya sebenarnya lebih sepele. Juragan Katro pernah menggoda istrinya. Itu terjadi ketika ia pergi merantau untuk bekerja. Ia baru mendapat pengaduan istrinya tadi malam. Pagi ini ia langsung datang ke Goa Loreng melancarkan dendamnya. Dendam? Padahal ia sendiri tak melihat kejadian itu. Hanya dapat pengaduan istrinya. Mungkin ia terlalu sayang dan percaya pada istrinya. Tak peduli, sekali dendam tetap dendam. Ia menunjuk Sarti si Kanthil Maut untuk bersedia menghabisi juragan Katro. Imbalannyapun cukup menggiurkan. Serenteng perhiasan.
            “Kalau begitu. Pulanglah! Nanti malam kau akan mendengar juragan Katro tewas dan mayatnya ditemukan telanjang di semak dekat hutan bambu.”
            “Huahahaa…hahaa..kk!” Lagi-lagi tawa Mbah Godeg menggema mengantarkan kepulangan pasien 2.
            Mbah Godeg masih duduk tegak bersila. Kembali menebar kemenyan di tungku saktinya. Kepulan asap harum semerbak memenuhi ujung lorong goa. Mbah Godeg masih bertahan dengan duduk sakralnya.
Pasien 3 datang menghadap.
“ Siapa namamu?”
“Kasman. Pengangguran.”
“Umur?” Mbah bertanya lagi.
“Dua enam” Jawab pasien 3.
“Pengangguran? Apa yang kau punya? Lalu apa keperluanmu? ” Mbah Godeg penasaran.
“Nyawaku sendiri dan nyawaku sendiri!”
Mbah Godeg melotot, membuka matanya lebar-lebar. Bertanya lagi.
“Diriku sendiri…” Jawaban Kasman masih sama.
“Hei! Asal kau tahu anak muda. Aku hanya bersedia membunuh orang-orang yang ingin kau bunuh karena dendam. Karena kau pernah sakit hati olehnya.”
“ Aku juga mbah. Aku geram, dendam, kesal pada diriku sendiri. Aku malu, pokoknya aku ingin para penggodeng itu menghabisi nyawaku sekarang juga.” Kasman menantang.
“Huahahaa…hahaa..kk! Bercandamu sama sekali tak lucu anak muda!” Mbah Godeg merespon.
“Aku serius! Aku tak bercanda! Aku benar-benar ingin segera menemui ajal. Aku malu. Aku yang lulusan Sarjana Perguruan Tinggi ternama di Kota. Lulus dua tahun lalu, tapi sampai saat ini aku nganggur. Ijazahku tak diterima kerja dimana-mana. Sekolahku, kuliahku, perjuanganku selama ini sia-sia karena ijazah yang tak berguna itu. Ditambah lagi pacarku, disaat sulit seperti ini malah tega meninggalkanku. Padahal hubungan kami sudah lima tahun berjalan. Aku kesal mbah. Aku marah pada diriku sendiri! Aku jauh-jauh datang dari kota, mau melihat para penggodeng itu mengakhiri hidupku. Sekarang juga!” Kasman benar-benar menantang.
“Gila kau!” Mbah Godeg mulai tak nyaman dengan duduk sakralnya.
“Kau tak tahu betapa bermaknanya hidup?”
“Kalian sendiri? kalian lebih lancang lagi. Tidakkah kalian menghargai orang-orang yang telah kalian bunuh?” Kasman balik bertanya.
          Mbah Godeg mengerutkan dahi.
        “Kami membunuh orang yang pantas dibunuh. Mereka yang kami bunuh adalah yang sama sekali tak menghargai hidup orang lain. Mereka yang merasa pengadilan dunia tak ada. Mereka yang merasa semua bisa dibeli dengan uang. Kami membunuh mereka yang sewenang-wenang, jahat dan kejam. Kami ingin mereka merasakan siksa akherat lebih cepat ditimpakan padanya dari ketentuan yang ditakdirkan Tuhan.”
Mbah Godeg semakin gerah dengan duduk sakralnya.

Kasman tersenyum kecut.
          “Akupun begitu mbah. Aku ingin mati sekarang! Bukankah aku juga tak menghargai hidupku sendiri? Jadi, aku termasuk orang yang tak menghargai hidup. Kepalaku pantas dipenggal para penggodeng itu!” Kasman mulai tak bisa mengendalikan diri.
            Mbah Godeg mulai serius. Ia semakin kacau dengan duduk sakralnya. Ia menatap tajam mata Kasman. Ia tak menangkap sedikitpun lelucon dari pancaran auranya. Ini serius!
            “Kau tahu, bunuh diri itu dosa yang tak terampuni anak muda! Kenapa kau tak suruh para penggodeng itu untuk menghabisi orang-orang yang telah membuatmu kesal dengan dirimu saja. Kau tahu siapa yang membuatmu tak diterima kerja? Apa kau ingin menghabisi pacarmu. Atau pejabat-pejabat negeri ini saja. Yang dulu berjanji menyediakan lapangan pekerjaan saat kampanye? Mereka yang dulu berjanji memberi kesejahteraan pada rakyat. Tapi masih banyak orang melarat. Kau mau?” Mbah Godeg mencoba menawarkan solusi.
            “Aku tetap pada pendirianku!” Sahut Kasman sambil mengepalkan kedua tangannya.
            Para penggodeng yang sedari tadi berdiri mendengarkan percakapan itu heran, saling pandang. Menggeleng-gelengkan kepala –tanda tak habis pikir.
            “Penggodeng juga manusia. Mereka punya hati! Kau tanya, adakah dari mereka yang bersedia menbunuhmu?” tantang Mbah Godeg.
             Kasman mengalihkan pandangannya ke arah para penggodeng itu. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya kedipan mata memelas yang menandakan betapa ingin ia melihat salah satu penggodeng mengangguk, bersedia mengakhiri permainan hidupnya. Para penggodeng itu saling pandang, mengernyitkan dahi, seolah berdiskusi lewat isyarat matanya. Lalu, mereka serempak menggelengkan kepala. Bukan mereka takut. Tapi tak tega. Sekalipun si pedang setan sebagai penggodeng paling senior.
             “Bukankah kalian para penggodeng handal dan terpercaya?!” Kasman bangkit.
            “Bodoh kalian! Orang-orang yang pernah kalian rengkut nyawanya apakah pernah mereka mengatakan kerelaannya. Tidak bukan? Tapi kalian tetap menghabisi mereka tanpa ampun. Sedangkan aku, yang jelas-jelas menyatakan kesediannya untuk kalian bunuh. Kalian malah tak berani. Pengecut! Penggodeng macam apa kalian?!!” Kasman benar-benar terbakar sekarang. Ia tak lagi menggunakan otak sehatnya.
            Mbah Godeg terpancing. Ia bangkit dari duduk sakralnya.
            “Diam kau gila!”
            Ia bangkit, Mencengkeram kerah baju Kasman, melayangkan bogem mentah ke sebelah matanya. Kasman tak berkutik. Ia seret Kasman keluar lorong, kemudian melemparnya ke luar goa. Mengusir dan memakinya.
            “Dasar gila…! Beruntung aku tak membunuhmu. Pergi kau dari sini!”
            Sarkim segera membawa Kasman pergi jauh-jauh dari goa itu. Pergi melewati hutan, menuruni bukit – sungai – hutan bambu. Ia meninggalkan Kasman sendiri di tepi desa dalam keadaan pingsan. Kemudian ia kembali melewati hutan bambu – sungai – menaiki bukit – masuk hutan dan kembali ke goa itu. Sarkim masuk, Dalam gelap melewati batuan, menelusuri jalan utama. Menemui persimpangan lorong. Ia mengambil obor kemudian masuk lorong. Terus masuk sampai ujung lorong tempat praktek Mbah Godeg. Semua terasa sunyi, hanya terdengar tetesan stalaktid menetes menerpa kolam kecil di ujung lorong. Betapa terkejut ia. Ia melihat Kanthil Maut, Singa Pasar, Pedang Setan, Gadil Iblis dan Cakar Celeng , para penggodeng itu bertumpuk satu sama lain. Di sampingnya terlihat Mbah Godeg tergeletak lemah dengan golok yang masih menancap dilehernya. Darah segar mengalir. Mereka semua telah tewas.


Purwokerto, Mei 2009


3 komentar:

  1. Eh, ko pada mati guh?
    matinya kenapa?
    yang ngebunuh siapa?

    BalasHapus
  2. Teguh iya iya, itu di akhir pada matinya kenapa?

    BalasHapus