14 Feb 2010

Cerpen : Wong Gedhe

Adigang Adigung Adiguna
Waktu aku bangun pagi-pagi, aku ingin masuk penjara. Penjara yang sesunggguhnya. Karena disana ada sesuatu yang mesti ditunggu. Pekerjaan fisik cuma bentuk lahir dari menunggu sesuatu. Menunggu masa pembebasan. Menunggu hidup sebagai manusia merdeka dan bebas serta bertanggung jawab atas kehidupan itu sendiri. Tetapi sekarang aku tidak didalam penjara yang sesungguhnya. Aku di dalam penjara kebebasan itu sendiri. Penjara yang penuh beban tanggung jawab yang datang begitu saja tanpa diminta oleh siapapun. Bagitulah pagi ini tanggung jawab itu menungguku di pintu kamar. Seribu urusan merupakan tanggung jawab. Urusan yang tak pernah selesai-selesainya. Aku sibuk sekali.

Aku sibuk dengan beberapa hektar tanah yang baru saja kubeli. Aku sibuk mengurus peternakan yang baru saja kubuka. Aku asyik dengan pesanan mobilku yang terbaru. Belum lagi urusan jabatan di kantor tempat aku kerja sebagai alamat tetap status sosialku. Dan anak-anakku sendiri selalu menggerogoti urusanku. Minta apa saja yang diinginkannya. Istriku apalagi. Cerewetnya minta ampun. Walaupun aku tidak peduli dengan cerewetnya, tapi untuk membujuknya membuatku sering kehilangan waktu dan menyebalkan. Masih ada lagi perempuan peliharaanku. Memang aku membutuhkanya. Tapi, cukup membuatku lelah dan kurang tidur. Banyak pikiran. Terkadang sampai aku lupa kalau aku sedang menjalani dunia yang fana ini. Fana memang.

Aku tahu, hidup memang sebentar. Tapi justru pikiran itu yang mendorongku untuk merebut keadaaan seperti sekarang. Dulu aku begitu mengidami kehidupan seperti sekarag ini. Dan setelah dikabulkan Yang Maha Kuasa, rasanya kok biasa-biasa saja. Malah membuatku menjadi sering pergi kedokter spesialis penyakit dalam dan syaraf. Kata dokter ahli itu. Aku baik-baiksaja. Tapi toh tiap bulan aku disuruh periksa kesehatan. Anu chekup namanya.

Aku punya anak buah yang membantuku sepanjang siang dan malam. Tapi untuk perintah sana dan perintah sini pun membutuhkan waktu dan menyebalkan. Karena rata-rata sifat mereka penjilat. Tak berani ngomong yang sesungguhnya. Manusia-manusia robot. Diisi bensin, ya jalan. Tidak diisi , ya stop. Persis seperti mobil baruku. Tapi betul-betul merupakan pemandangan yang monoton. Itulah orang-orang sekitarku. Kata orang namanya anak buah. Tapi aku lebih suka dengan istilah sampah.
Kupikir, mestinya aku masuk bui saja. Biar berkawan dengan rekan-rekan yang disebut bajingan. Dilingkari tembok tebal dan tinggi. Sunyi dari muka-muka senyum palsu. Sebenarnya jalan kesana sudah ada. Tapi mereka mengahlang-halangiku sehingga penjara seolah-olah haram bagi orang-orang semacam aku. Terus terang aku koruptor. Aku manipulator. Aku meyalahgunakan jabatanku untuk semua yang konyol itu. Aku sebenarnya sudah mau setop. Tapi muka-muka badak itu datang terus dengan mengantarkan upeti. Ini dan itu mulai dari sepatu sampai peremuan semanis madu.
Aneh, mereka menamaiku orang baik-baik.

“Yakinlah, bahwa sampeyan orang-baik-baik.“ kata psikiater yang menyuruhku mengundangnya datang setiap bulan kerumahku. Padahal aku sudah bilang padanya bahwa aku bukan orang baik-baik. Setiap hari aku merasa bersalah. Rasa salah ini yang kadang membuatku kelihatan seperti orang stes. Tapi psikiater itu bilang aku baik-baik saja. Baik-baik saja? Tapi kenapa setiap bulan psikiater itu selalu datang kerumahku. Dan omongannya selalu sama. “sampeyan orang baik-baik pak.“
Setiap pagi yang kurindukan adalah penjara. Penjara yang kiranya akan menghapuskan rasa bersalah ini. Bukan tak ada jalan untuk kesana. Sebenarnya jalan itu sudah ada. Yaitu ketika tim pemeriksa keuangan datang ke kantorku. Sebenarnya aku sudah pasrah dengan semua itu. Aku yakin inilah saatnya aku masuk bui yang aku idam-idamkan setiap pagi itu. Aku tak menyangka. Anak buah yang aku sebut sampah itu malah bilang,“beres pak,“ kata-kata yang sudah muak aku dengar. “Bapak tenang saja,“ kata-kata kedua yang lagi-lagi aku jijik mendengarnya. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecut.

Berdebar memang saat aku terima sebuah amplop cukup besar. Tapi amplop itu bukan apa-apa, hanyalah sebuah kartu ucapan selamat lebaran untuk istri dan keluargaku. Malah ada bingkisannya segala. Memang benar. Anak buahku benar-benar gila. Saat tim pemeriksa keuangan itu datang, mereka hanya memberi salam hangat dengan senyuman yang membuatku semakin sakit hati. Anak buahku memang gila. Tak salah aku memelihara anak buah seperti itu. Aku sedikit lega, walaupun sebenarnya aku tak terima.
***
Pagi-pagi benar aku menemui seorang ustad yang aku pikir akan membantuku menghadapi semua masalah ini. Aku butuh petuah-petuah dan nasihat seseorang yang jujur. Aku butuh seseorang yang membuatku tenang. Aku beberkan semua dosa-dosa yang aku perbuat. Bagaimana aku bermain-main dengan kekuasaanku. Ustad itu bilang, “Baru kali ini saya dengar orang yang begitu jujur mengakui dosanya, bapaklah orang yang bersungguh-sungguh mau bertaubat. Bapak pantas masuk sorga. Percayalah, sampeyan itu orang baik-baik. Sampeyan itu sangat dibutuhkan rakyat. Lanjutkan saja pekerjaan itu.“ Gila. Aku tak habis pikir seorang ustad yang mengatakan ini. Katanya lagi, “bapak telah banyak menyenangkan orang lain, itu anak buah bapak hidupnya makmur akibat kepemimpinan bapak. Bapak ini seseorang yang dinantikan rakyat. coba kalau bapak mundur. Akan banyak kepala keluarga yang kehilangan mata pencahariannya. “ Ustad itu mulai menasehatiku dengan ayat ayat.

“Anak dan istri bapak juga masih sangat membutuhkan bapak. Mereka butuh kasih sayang. Mereka masih punya hak untuk dinafkahi lahir batin oleh bapak. Kiranya akan lebih baik jika bapak terus memenuhi kewajiban bapak menafkahi keluarga. Kan di agama juga diajarkan bahwa menafkahi keluarga itu merupakan suatu kewajiban. Untuk masalah zina yang bapak lakukan, memang harus dihentikan. Tentunya secara bertahap agar tak mempengaruhi fisik dan psikologis bapak. Bapak kan orang yang sangat dibutuhkan negeri ini. Taruhlah seorang yang ingin berhenti merokok, ia harus memulai untuk mengurangi kebiasaan merokoknya sebatang demi sebatang tiap hari, sampai nantinya berhenti total. Begitu juga kebiasaan bapak.“
Setelah cukup rasanya aku dengar nasihat-nasihat ustad lulusan luar negeri itu. Aku memutuskan untuk segera berpamitan. kusodorkan sebuah amplop putih yang takku hitung isinya berapa. Yang jelas satu kompi uang seratus ribuan yang belum sempat aku pecah, kumasukkan. Ustad itu menolak dengan lembut.
“Ahh, saya membantu bapak bukan untuk mengharap sesuatu dari bapak.“
“Inikan tak seberapa dibanding dengan nasihat-nasihat yang ustad berikan, terimalah...!“
Mungkin ia berpikir, ada benarnya juga omonganku. Ustad itupun mengubah pendapatnya.
“Terimakasih, semoga bapak cepat mendapat hidayah dari Gusti Allah.“

Rupanya aku telah termakan benar omongan ustad itu, mengurangi satu demi satu. Hari pertama aku suruh pulang satu dari lima perempuan yang biasa melayaniku. Esoknya satu lagi, begitu seterusnya. Hingga aku menyisakan satu saja.

Hari itu, entah mengapa penjara itu mengiang-ngiang terus dikepalaku. Saat perempuan manis madu tengah merayu dan memanjakanku. Tiba-tiba aku berpikir untuk membunuhnya saja. Benar. Aku cari pistol di laci kamar hotel. Kutodongkan padanya. Suara letupan kecil terdengar sampai keluar kamar. Anak buahku mendobrak pintu kamar dan masuk tanpa permisi. Mereka menanyakan keadaanku.
“Bapak baik-baik saja bukan?‘
Aku tak menjawab.“ Panggil polisi!“ teriakku.
“Tak usah sampai memanggil polisi. Ini urusan kecil pak. Bapak diancam bukan?“ Kata salah seorang anak buahku.
Urusan kecil? Apakah membunuh itu urusan kecil? Aku telah salah mendidik anak buahku.
Bahkan tak sampai seperempat jam. Anak buahku telah beres membersihkan mayat perempuan manis itu. Hampir tanpa jejak.

Aku muak, benar-benar muak dengan kelakuan anak buahku. Setelah kejadian itu, diam-diam aku memutuskan pergi mengasingkan diri. Dengan mobil baru aku pergi jauh meninggalkan kota. Pergi menyusuri jalan kearah utara. Hingga sampai di suatu desa yang entah apa namanya. Aku sempatkan membeli rokok di sebuah warung sebelum akhirnya aku menyewa sebuah wisma untuk tempatku menginap. Kurang lebih selama empat hari aku berdiam menghindari rengekan-rengekan anak buahku, menghindari tuntutan cerewetnya istriku, todongan-todongan tangan anak-anakku, serta upeti-upeti pejabat-pajabat yang tidak tahu diri itu. Juga untuk menenangkan diriku sendiri.

Pagi-pagi ketika aku baca sebuah koran yang terselip di bawah pintu kamarku. Gila. Gambarku empat hari lalu terpampang pada sebuah headline koran lokal. Disitu tertulis, ‘Sekarang Ini Jarang Pejabat Negeri Yang Langsng Turun Meninjau Rakyatnya.‘
Padahal tak ada konfirmasi waktu itu. Aku semakin lebar tertawa. Ini benar-benar gila.
Aku memutuskan untuk menginap satu malam lagi di desa itu. Sampai di kamar wisma. Aku cari pistol dilaci mejaku. Kutodongkan pistol itu di kepalaku. Suara letupan terdengar kembali sampai keluar kamar. Waktu itu semua terasa gelap. Sepertinya Itu suara terakhir yang aku dengar.


Bandung, 14 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar