4 Jan 2010

BIUS, Nasionalisme, dan Sosialisme


Semangat nasionalisme akhir-akhir ini mulai rapuh, begitupun rasa sosial antar sesama (sosialisme) yang semakin mengendur. Tetapi tidak untuk mereka ke duapuluh tujuh pemuda luar biasa dari seluruh penjuru tanah air. Mereka pemuda BIUS.
Siapa tak kenal Soekarno. Sang Plokamator kemerdekaan. Legendaris kemerdekaan yang mengakhiri penderitaan rakyat akibat penjajahan. Salah satu manusia tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini. Dari beliaulah kita belajar nasionalisme.
Mungkin banyak dari kita yang menganggap dirinya berjiwa nasionalis. Namun masihkah pantas di jaman sekarang ini membicarakan masalah nasionalisme? Sementara kita masih bangga ketika memakai sepatu bermerk a**idas. Kita merasa gak keren kalau belum memakai baju impor. Malah minder saat dipaksa berpakaian batik. Kita tak lagi menghormati bendera. Merasa tak hebat kalau belum mendendangkan lagu-lagu barat sementara lagu Indonesia Raya kita abaikan. Mungkin itu hanya sekelumit kisah akibat runtuhnya nilai-nilai nasionalisme.
Andai kita analogikan nasionalisme dengan sosialisme. Mungkin kita akan mengenal nama Betty Alisyahbana. Pelopor kemerdekaan mengenyam pendidikan tinggi untuk warga miskin di seluruh pelosok tanah air. Sang sahajawati inilah yang mengajarkan kita sosialisme. Bukan sosialisme sebagai paham liberal melainkan sosialisme sebagai rasa peduli terhadap sesama. Lewat Program Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS), Betty seolah membuka mata kita bahwa sosialisme belum sepenuhnya runtuh.
Jika seabad yang lalu para pemuda Jong Java, Jong Sumatren Bond, dan Jong Ambon bersatu untuk mengadakan konggres pemuda. Maka sekarang Wong Java, Wong Sumatra, Pemuda Sulawesi, dan Pemudi Balik Papan (baca: pemuda BIUS.red) dikumpulkan dalam sebuah ikatan persahabatan. Jakarta yang seabad lalu menjadi tempat suci pengucapan ikrar Sumpah Pemuda sebagai landasan untuk mencapai Indonesia merdeka. Sekarang giliran Kota Kembang Bandung sebagai tempat singgah para pemuda ini. Tempat suci pengikraran janji setia. Janji untuk berjuang bersama di kampus Ganesha sebagai landasan perjuangan menuju Indonesia Tersenyum.
Jika seabad yang lalu semangat nasionalisme dikobarkan. Sekarang semangat sosialisme tak boleh redup. Nasionalisme yang menjadi dasar berbangsa. Sosialisme menjadi dasar bertetangga. Semangat belajar pemuda BIUS tidak boleh kalah dengan semangat para pemuda seabad silam. Kobaran api semangat sosialisme sekarang juga harus berimbang dengan semangat nasionalisme satu seperempat windu yang lalu.

Tak mudah memang menguraikan makna nasionalisme. Tapi paling tidak menggambarkan bahwa nasionalisme terbentuk melalui proses pendidikan. Edukasi, sebagai satu dari trilogi Van de Venter sangat mempengaruhi munculnya semangat ini. Proses yang ada dalam pendidikan ini yang harus digali sehingga kita tak sekedar tahu saja apa itu nasionalisme, namun juga mengamalkannya.
Intinya, pemuda BIUS ini tak boleh kehilangan semangat nasionalisme dan sosialisme-nya. Apalah artinya menjadi orang cerdas tapi tak peduli nasib negaranya, yang hanya berkutat pada pekerjaannya. Apa pula menjadi orang besar tapi tak berguna bagi sesama. Hidup tak hidup sama saja, tak ada guna.
So, teruntuk para pemuda BIUS, semangat belajar yang dibarengi rasa nasionalisme tinggi pasti cenderung berpikir keras bagaimana mengubah bangsanya menjadi lebih baik. Dan semangat belajar yang dibarengi rasa sosialisme yang pekat akan menambah deretan kisah sejarah orang-orang besar yang berjasa bagi sesama manusia. Jika tujuh belas tahun Sumpah Pemuda berbuah kemerdakaan Indonesia. Tujuh belas tahun setelah ini mereka mengubah Indonesia lebih maju dari Amerika. Lebih canggih dari Jepang. Para pemuda BIUS! Indonesia menanti kalian!! Mulai sekarang “Berbuatlah untuk Indonesia Tersenyum.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar