14 Jan 2010

Cerpen : Gerobak Tua Ayah



M
entari kembali menyala. Menyinari indanya semesta. Gairah baru untuk dunia. Sapaan hangatnya berkata – Selamat Pagi Dunia. Sapaan yang ditujukan untuk makhluk-makhluk yang telah memulai aktifitasnya. Silau pancarnya disambut girang senyuman indah manusia yang bersujud mengagungkan nama-Nya. Senyum tulus pak penjaga palang pintu perlintasan rel kereta telah memulai pagi ini. Alunan lagu manja banci kaleng merayu, sedikit memaksa anak muda yang nongkrong-nongkrong untuk mau membagi rezekinya. Walau sekedar uang koin bergambar burung merak sekalipun. Belasan kuli angkut berebut mendekati ibu-ibu paruh baya yang kesulitan membawa barang belanjaannya. Telah tampak orang-orang menjajakan dagangannya. Pasar Grapyak tlah banyak dikunjungi. Manusia-manusia hilir mudik berdatangan. Mereka yang berjualan atau hanya sekedar berjalan-jalan menghabiskan waktu paginya.
Pasar itu ada separuh hari saja. Jika siang tiba, satu persatu pedagang telah mulai angkat kaki membereskan dagangannya. Satu persatu pulang. Keramaian makin lama makin surut. Bak halilintar yang menyambar. Menggelegar, namun makin lama makin diam. Hingga akhirnya diam sama sekali. Sampai tengah hari, pasar ini benar-banar sepi. Tak ada lagi penjual maupun pembeli. Semua kosong tak berisi. Bagaimana tidak, pasar swadaya ini buka disamping kanan kiri perlintasan rel kereta. Sewaktu-waktu mereka bisa saja diterjang sunggukan mesin tempur yang siap menggerus setiap relung jiwa yang lengah pada pikirannya. Pasar itu tak beratap, apalagi bangunan yang meneduhkan. Yang ada hanya toko-toko kecil yang terbuat dari bambu yang sengaja dibangun sendiri oleh pemiliknya. Itupun bukan kepemilikan seutuhnya. Masih ada upeti cuma-cuma yang harus dibayar si pemilik pada preman pasar yang berpenampilan sebagai petugas penjaga. Begitu kiranya kehidupan rutin pasar kumuh ibu kota sehari sebelum hari ini.
***
Tak jauh dari pemandngan itu. Seorang lelaki duduk termenung sembari menegakkan pandangannya. Menghadapkan wajahnya kearah timur. Menantang kemulau sinar mentari yang betebaran menyorot dipan selasar rumahnya. Lelaki itu diam. Nampak pikiran berat menggerayangi otaknya. Terlihat dari sorot matanya yang sayup. Terkadang lelaki itu senyum-senyum sendiri, mengernyitkan dahinya. Pernah terlihat ia tertawa terbahak hingga kursi yang ditungganginya oleng ke kanan. Ada saatnya ia geram. Melotot mengatupkan kedua rahang giginya. Tangannya mengepal menjadi sekeras batu. Pernah juga ia tersedu, ditemani lelehan air mata yang mengalir membasahi pipi kasarnya. Namun lelaki itu lebih banyak diam. Termenung pada keadaannya. Sampai tak sadar seorang bocah tengah berdiri memandangi dirinya sejak tadi.
Dalam lamunannya. Ia teringat. Benar-benar teringat hari-hari perjuangan itu. Ya. erjalanan bersama gerobak tuanya. Melanglang buana melintasi TPA-TPA ibu kota. Saat itu, teriknya mentari adalah teman sejati. Teman sejati yang dibarengi kilah-kilah peluh tubuhnya. Aromanya benar-benar ia datangkan pagi itu. Tapi yang ia rasakan hanyalah secuil bau-bau kejantanannya. Baru secuil. Karena masih banyak peluh kisah yang tak sanggup ia hadirkan kembali dalam pikirannya kini. Walaupun semua seperti dihadapannya. Ketika itu, dinginnya malam telah menyatu bersama daging dan kulitnya. Paru-parunya terlalu tangguh untuk sekedar tusukan angin yang merasuk merajang sepanjang malam hidupnya. Lelaki kekar itu telah mendorong gerobak tuanya tak kurang dari dua puluh tahun lamanya. Inilah yang membuat lekukan-lekukan otot bisepnya mengencang. Cengkramanya kuat sekuat cengkraman elang. Mungkin tak kalah kuat dengan cengkraman atlet lempar cakram sekalipun. Ah,, gerobak tua itu...
“Kenapa yah?“
Suara itu membuatnya tersentak. Ia bangun dari lamunannya. Tampak wajahnya seperti orang linglung. Lelaki itu mengusap matanya yang berair dan hampir jatuh air matanya. Menoleh. Lalu tersenyum menjawab pertanyaan yang mengagetkan itu.
“Ayah tadi diam lama sekali. Kenapa yah?”
Lelaki itu terkejut. Ahh,, jangan-jangan sejak tadi anak ini benar-benar melihat kelakuanku. Ia membatin. Namun masih belum bicara banyak atas pertanyaan anaknya.
“Ayah hanya teringat.” Jawab lelaki itu singkat.
“Ingat siapa yah? Ingat bunda ya??” anak itu bertanya lebih dalam.
“Tidak”
“Lalu kenapa?”
Lelaki itu memandang wajah anaknya dalam-dalam. Tersimpan sorot penuh tanya disana. Lelaki tak tega melihat pertanyaan anaknya yang tak bertuan. Lalu ia menjawab lirih.
“Gerobak tua…”
Sang anak terkejut. Mengernyitkan dahi. “Ayah tak merindukan bunda?“
Lelaki itu diam. Cukup lama. Kemudian tersenyum kembali.
“Ayah juga senyum-senyum sendiri tadi.“ anak itu mengadu tak terima.
Ahh, tepat dugaanku. Anak itu melihat kelakuanku sejak tadi. Lelaki itu diam sebelum akhirnya tersenyum dan menjawab.
“Gerobak tua itu…”
Anak itu kembali merajuk. Kali ini dibuktikan dengan wajahnya yang memerah.
“Memangnya ada apa dengan gerobak tua ayah?” sedikit membentak. Walaupun bentakkanya tak sekeras dan sekasar orang-orang dewasa. Keras, kasar, ngotot. Yang kadang memicu pergelutan. Tapi ini lebih lembut dan halus.
“A..Ayah punya kenangan sangat indah dengn gerobak tua itu nak.” Lelaki itu mulai berkata-kata. “Lima belas tahun lalu, gerobak itu yang mempertemukan ayah dan bundamu.” Ia tersenyum.
            “Kok bisa?” kejar sang anak.
            “Waktu hujan lebat. Bundamu yang masih muda sendirian berteduh di halte dekat palang pintu kereta. Ayah ingat benar wajah gelisah bundamu saat itu.“
            “Gelisah?“
            “Iya, bundamu harus segera pulang membawa bungkusan kresek hitam yang ia tenteng. Katanya, bungkusan itu harus segera dibawanya ke rumah. Kalau tidak cepat-cepat, ia akan dimarahi orang tuanya. Mungkin malah tak hanya dimarahi. Bisa saja bundamu di pukuli atau mungin dipecut. Atau malah dibunuh. Ah, mungkin itu hanya analisa konyol ayah. Yang jelas bundamu sangat gelisah saat itu.“
            “Lalu yah?“
            “Beruntung ada payung bekas yang masih layak pakai di gerobak tua. Ayah ajak bundamu naik ke gerobak. Lalu  ayah dorong gerobak itu kencang-kencang. Tentunya dengan perhitungan yang pas. Karena ayah juga tak mau ada yang celaka. Akhirnya selamatlah gerobak tua itu bersama bundamu kedepan rumahnya. Itu perjumpaan pertama ayah dengan bundamu nak. Hahaha…” pemaparannya diakhiri dengan tawa.
            “Apa isi bungkusan itu yah?”
“Entahlah, bahkan sampai bundamu tiada. Ayah tak tahu. Bundamu tak pernah cerita.” Lelaki itu menghela nafas panjang. Menghempas semua energi-energi negatif ditubuhnya. Air matanya ia tahan. Suasana mulai cair.
“Cie..cie.. ayah jatuh cinta ni yee..” anak itu meledek sembari mengedip-kedipkan matanya. Wajahnya menggemaskan. “Tapi kok tadi ayah keliatan kayak orang marah?” anak itu mengernyitkan dahi.
Ohh, benar. Anak ini benar-benar melihat kelakuanku tadi. Lamunannya begitu dalam. Sampai-sampai tak sadar sejauh ini anaknya memperhatikan. Ia tarik nafasnya dalam-dalam. Menunduk. Suasana seperti beku kembali.
“Ayah marah kenapa?“ anak itu mencerca bertanya lagi.
Lelaki itu masih tertunduk. “Gerobak tua itu.” Kenangnya.
Sang anak meletakkan kedua tangannya dibawah dagunya. Ia benar-benar ingin mendengar cerita ayahnya.
Lelaki itu menjelaskan. “Dulu, waktu jaman Rezim Baru. Kekejaman terselubung merejalela. Otoritas pemerintah sangat dominan. Apapun yang dikatakan pemerintah saat itu, harus dilaksanakan. Kebebasan berpendapat dikekang. Pers dan media dibawah kendali orang-orang partai kuning. Bendera-bendera partai kuning tersebar dimana-mana. Partai kuning sangat berjaya ketika itu.”
“Motor sitas? Apa yah? Motor-motoran kayak punyaku bukan?” polos sang anak.
Oh, rupanya lelaki itu lupa dengan siapa ia bicara. Ia bicara pada anak semata wayangnya yang usianya baru lima tahun.
“Kau akan mengetahuinya kelak. Yang jelas gerobak itu turut menjadi korban kekejaman mereka. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah jenuh dengan otoritas itu. Mereka melakukan berbagai aksi turun kejalan. Mereka menuntut satu kata. Keadilan. Mereka yang banyak sekali, merusak fasilitas-fasilitas umum, kadang-kadang aksinya brutal. Saking geramnya, gerbang istana sampai hampir dirobohkan. Sering mereka merobek dan membakar spanduk-spanduk parrtai kuning. Bahkan gerobak ayah. Yang dulu warnanya kuning. Saat itu ayah seperti biasa melanglang buana. Sialnya, hari itu bertepatan dengan aksi mereka. Mereka mengejar-kejar ayah. Menangkap, kemudian memukuli ayah tanpa ampun. Mereka merusak gerobak tua itu. Mencopot ban gerobak kemudian membakarnya beramai-ramai di jalanan. Beruntung ayah dilepas dan diperbolehkan pulang. Dengan syarat mengganti warna gerobak tua itu. Gerobak yang rusak oleh terjangan manusia kalap yang lebih menusuk dari sengatan matahari sekalipun. Hahaha…” pemaparannya kembali diakhiri dengan tawa.
“Ugghh..! Mereka jahat sekali ya yah? Untung ayah masih hidup. Kalau terjadi apa-apa dengan ayah aku tak terima. Aku yang akan membalasnya. Ayah tenang saja.” Sang anak nyerocos sok jagoan.
            “Memangnya siapa yang jahat?”
            “Maha… maha siwa. Eh, maha apa itu lah.”
            “Hahaha… kelak kau tahu, siapa penjahat sebenarnya anakku.”
            Suasana terasa kembali cair. Lelaki itu mendekat, mendekap hangat . merangkul kemudian menciumi rambut anaknya. Tulus sekali…
            “Oya, tadi ayah tertawa lepas sekali lho!” anak itu mengadu lagi.
            Tak diragukan lagi. Anak ini benar-benar melihat kelakuanku sejak tadi. ”Hahaha… Gerobak tua itu!” masih sama jawabnya.
            “Gerobak tua itu lucu yah?”
            “Kau ingat warna gerobak tua ayah yang sekarang?“ lelaki itu balik bertanya.
            “Biru..!!” jawab anak itu tangkas. Seperti lagi menjawab pertanyaan lemparan lomba cerdas cermat.
            “Hahaha…haha…” sekali lagi terdengar tawa. “Biru, lucu bukan? Hahaha…”
            Anak itu mengangguk sok paham. Ia ikut-iktuan tertawa.
            Memang apanya yang lucu. Hanya perbedaan warna saja. Dulu kuning, sekarang biru. Apa ini karena warna partai itu. Ah, entahlah. Ayah memang aneh…
            Dekapan lelaki itu makin erat. Menghangat, terlihat betapa sayang seorang ayah pada anaknya.
            “Lalu, tadi kenapa ayah menangis?” anak itu bertanya lagi sok peduli. “Ah, aku tahu. Pasti gerobak tua itu…!!”
            Mereka berdua trertawa serentak.
            “Betul nak, gerobak tua itu.”
            Hmm.. rupanya terlalu banyak kenangan lelaki itu bersama gerobak tuanya. Kenangan memang sangat indah untuk dikenang. Apapun situasi kenangan itu, dan kapanpun kenangan itu muncul kembali. Karena setiap diri yang mengingat kesedihan dari suatu kenangan. Akan menemukan kegembiraan. Gembira karena tak akan lagi menemukan kejadian menyedihkan yang sama. Pun dengan mengingat kesenangan dari sebuah kenangan masa lalu. Setelahnya muncul kesedihan. Kesedihan karena tak lagi mendapat kesenangan seperti masa lalu yang pernah terjadi. Lelaki itu melepas dekapannya, menundukkan anaknya dikursi yang tergeletak disampingnya. Suasana beku kembali. Ia diam. Menarik, lalu menghela nafas panjang. Sepanjang siang dan malam.
            “Tapi kenapa sedih?“ Anak itu terus nyerocos tanpa rasa dosa.
            Lelaki itu masih diam tertunduk. Sebentar kemudian Ia bangkit. Memandang jauh tak teratur entah kemana. Ia kepalkan kedua tangannya. Gerahamnya saling bertumbukkan. Terdengar lirih suara benturan gigi dengan rahangnya. Ia pukul-pukulkan tangan yang tercengkram kuat pada dinding kayu rumahnya. Hampir jebol. Tak hanya itu, Ia sudul tiang penyangga atap gubuknya yang reot. Kepalanya berdarah. Kelakuannya tetap tak terkendali. Wajahnya memerah. Matanya mendelik menakutkan. Anak itu lari ketakutan. Memanggil-panggil tetangganya meminta pertolongan. Namun tak ada jawaban sedikitpun. Malah ia lihat tetangga-tetangganya yang kebanyakan pedagang pasar grapyak bertelanjang dada. Mereka berkumpul dijalanan, terlihat diantara mereka tertawa-tawa sendiri. Ngomel-ngomel tak jelas.
            Anak itu lari kesamping rumahnya. Ia ingat disitu ayahnya biasa meletakkan gerobak tuanya. Ia pikir, ayahnya akan tenang kalau dibawakan gerobak tua itu. Namun, yang dipandangnya nihil. Tak ditemuinya gerobak itu lagi. Semalam, petugas berseragam hijau donker merazia dan mengambil secara paksa gerobak-gerobak penjual dan  pemulung disekitar pemukuman kumuh dekat rel kereta. Pasar Grapyak tak luput dari kekejaman petugas berseragam hijau donker itu. Mereka merusak kios-kios kayu tempat orang-orang berjualan. Menggusur dan meratakan pasar swadaya itu dengan mesin raksasa. Menancapkan papan bertuliskan “Tanah Ini Milik Negara”. Kini, aktifitas perekonomian warga kumuh itu tinggal kenangan. Puluhan kepala kehilangan mata pencaharinnya. Juragan-juragan bingung menjajakan dagangannya. Pasar itu telah benar-benar tiada. Hilang bersama gerobak tua ayah. Ayah yang punya sejuta kenangan dengan gerobak tua dan warga yang punya beribu masa lalu dengan pasar Grapyak bikinan mereka. Kenangan itu telah hilang seutuhnya.
            Anak itu berbalik, ia kembali ke selasar rumah untuk melihat keadaan ayahnya. Lagi-lagi pandangannya nihil. Dicarinya kesana-kemari. Dilihatnya ayahnya telah bergabung bersama tetangga-tetangganya. Bertelanjang dada, tertawa sendiri seperti seorang artis yang berakting mendorong gerobak tuanya.
            “ Ayah…!! Ayah…!!”
            Anak itu tak kuasa menahan air mata. Ia pingsan seketika.
***


Purwokerto, 14 Januari 2010

4 Jan 2010

BIUS, Nasionalisme, dan Sosialisme


Semangat nasionalisme akhir-akhir ini mulai rapuh, begitupun rasa sosial antar sesama (sosialisme) yang semakin mengendur. Tetapi tidak untuk mereka ke duapuluh tujuh pemuda luar biasa dari seluruh penjuru tanah air. Mereka pemuda BIUS.
Siapa tak kenal Soekarno. Sang Plokamator kemerdekaan. Legendaris kemerdekaan yang mengakhiri penderitaan rakyat akibat penjajahan. Salah satu manusia tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini. Dari beliaulah kita belajar nasionalisme.
Mungkin banyak dari kita yang menganggap dirinya berjiwa nasionalis. Namun masihkah pantas di jaman sekarang ini membicarakan masalah nasionalisme? Sementara kita masih bangga ketika memakai sepatu bermerk a**idas. Kita merasa gak keren kalau belum memakai baju impor. Malah minder saat dipaksa berpakaian batik. Kita tak lagi menghormati bendera. Merasa tak hebat kalau belum mendendangkan lagu-lagu barat sementara lagu Indonesia Raya kita abaikan. Mungkin itu hanya sekelumit kisah akibat runtuhnya nilai-nilai nasionalisme.
Andai kita analogikan nasionalisme dengan sosialisme. Mungkin kita akan mengenal nama Betty Alisyahbana. Pelopor kemerdekaan mengenyam pendidikan tinggi untuk warga miskin di seluruh pelosok tanah air. Sang sahajawati inilah yang mengajarkan kita sosialisme. Bukan sosialisme sebagai paham liberal melainkan sosialisme sebagai rasa peduli terhadap sesama. Lewat Program Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS), Betty seolah membuka mata kita bahwa sosialisme belum sepenuhnya runtuh.
Jika seabad yang lalu para pemuda Jong Java, Jong Sumatren Bond, dan Jong Ambon bersatu untuk mengadakan konggres pemuda. Maka sekarang Wong Java, Wong Sumatra, Pemuda Sulawesi, dan Pemudi Balik Papan (baca: pemuda BIUS.red) dikumpulkan dalam sebuah ikatan persahabatan. Jakarta yang seabad lalu menjadi tempat suci pengucapan ikrar Sumpah Pemuda sebagai landasan untuk mencapai Indonesia merdeka. Sekarang giliran Kota Kembang Bandung sebagai tempat singgah para pemuda ini. Tempat suci pengikraran janji setia. Janji untuk berjuang bersama di kampus Ganesha sebagai landasan perjuangan menuju Indonesia Tersenyum.
Jika seabad yang lalu semangat nasionalisme dikobarkan. Sekarang semangat sosialisme tak boleh redup. Nasionalisme yang menjadi dasar berbangsa. Sosialisme menjadi dasar bertetangga. Semangat belajar pemuda BIUS tidak boleh kalah dengan semangat para pemuda seabad silam. Kobaran api semangat sosialisme sekarang juga harus berimbang dengan semangat nasionalisme satu seperempat windu yang lalu.