28 Nov 2009

Sebuah Hipotesis Tentang Orde Baru Periode II...??


(pertama kali diterbitkan lewat facebook tertanggal 23 Oktober 2009 dengan 75 komentar)

Wah,ngeri juga yah? Kalau harus inget-inget kisah kelam ketika mantan jenderal tertinggi bangsa ini berkuasa. Dimana dulu otoritas presiden begitu kuat, sampai-sampai kebebasan pers harus terkekang. Legislatif menjadi kaki-tangan pemerintah, parlemen menjadi boneka-boneka mainan yang musti tunduk pada pemerintah. Opositor-opositor yang berani menentang dilenyapkan. Kalau sudah begini, mau gimana lagi?? Apa kita akan diam saja? Siapa yang mau memperjuangkan dan menuntut hak-hak rakyat??
Next…
Kemarin selasa, 20 Oktober 2009 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. SBY kembali terpilih menjadi presiden RI. Dihadapan ketua MPR dan MA, SBY serta Boediono mengucap sumpah dan janjinya sebagai presiden dan wakil presiden RI. Hari itu juga mereka resmi dilantik dan menyandang gelar kebesaran yang diimpi-impikan Megawati dan JK, “Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia”. Sungguh, sebuah peristiwa sakral yang mengharukan sekaligus membahagiakan.
Namun, sungguh ironi, di saat SBY-Boediono mengucapkan sumpah presiden. Di depan gedung DPR MPR RI mahasiswa malah melakukan aksi turun ke jalan. Masing-masing universitas seluruh Indonesia mengirimkan perwakilannya ikut berpartisipasi dalam Aksi turun ke jalan yang dikomandoi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). BEM SI berinisiatif mengumpulkan dan mengajak rekan-rekan mahasiswa seluruh Indonesia untuk mendeklarasikan dirinya sebagai oppostor permanen pemerintahan SBY-Boediono 2009-2014.
Kemarin mahasiswa seluruh Indonesia yang dikomandoi BEM SI medeklarasikan dirinya sebagai opositor permanen pemerintahan SBY-Boediono untuk mengkritisi dan mengawasi kebijakan serta kinerja pemerintahan kedepan. Agar tercipta check and balance yaitu prinsip saling mengawasi dan mengimbangi dalam pemerintahan. Untuk membatasi keotoritarian pemimpin. Mengapa? Karena kebijakan-kebijakan SBY kedepan bukan hanya menentukan nasib bangsa ini lima tahun kedepan, tapi mungkin dua puluh,tiga puluh tahun kedepan, atau malah sampai nasib anak cucu kita kelak.
Kenapa mahasiswa perlu menjadi oposisi? Karena diklaim kalau partai-partai oposisi seperti Golkar dan PDI P dinilai lemah dalam memperjuangkan propoganda-propoganda yang selama ini mereka agung-agungkan. Ambil contoh“pro rakyat”. Apakah partai-partai yang dulu mengatakan pro rakyat, suatu saat ketika pemerintah tak lagi pro rakyat. Akan tetap meneriakkan pro rakyat dan berani mengkritisi pemerintah? Saat pemerintah lamban mengatasi suatu masalah, apakah propoganda “Lebih cepat lebih baik” akan tetap diteriakkan oleh aktifis partai yang dulu meneriakkan lebih cepat lebih baik?? Ternyata tak semudah itu. Dalam politik, kawan bisa jadi lawan, dan sebaliknya, lawan bisa menjadi kawan.
Jika sudah begitu. Apakah mahasiswa sebagai kaum intelek akan diam saja? Apakah rela bangsa ini ditentukan oleh kebijakan-kebijakan yang nantinya men-cekek leher rakyat? Diam sajakah ketika otoritarian pemimpin mulai tercium? Jangan biarkan orde baru periode II terjadi di negeri ini. Jika mengaku mahasiswa. Jadilah oposisi pemerintah yang kritis dan aktif dalam mengawasi jalannya pemerintahan di negeri ini. Demi terciptanya kehidupan demokrasi yang adil dan berkepentingan rakyat. Jika bukan mahasiswa, siapa lagi yang peduli dengan nasib negeri ini??





Tidak ada komentar:

Posting Komentar